Doa Saya

Wesiati Setyaningsih

 

Banyak cara untuk berdoa, semua dengan harapan agar diterima. Seperti, katakanlah dengan suara yang lembut, mengibalah, katakan dengan sangat detil apa yang kamu inginkan, ambil waktu-waktu yang utama seperti di pertiga malam, dan mungkin masih ada lagi.

Sepertinya semua sudah saya coba.  Ada waktu di malam-malam ketika saya berdoa sambil menangis mengiba. Banyak permintaan saya, ini itu, yang intinya adalah agar saya bahagia. Ada doa yang akhirnya terjadi, ada yang tidak.

Waktu berjalan dan hidup mengajarkan saya kebahagiaan itu pada dasarnya tidak bergantung pada apapun. Saya ingin suami yang baik dan ‘gemati’, saya melihat tetangga saya yang suaminya telaten minta ampun menemani hingga menyuapi istrinya, namun si istri memang sedang sakit stroke. Maka seolah pilihan digelar di depan saya, “Kamu pilih mana? Suami tidak setelaten itu tapi kamu sehat dan bisa ngapain aja, apa suami telaten tapi kamu sakit?”

Mau tidak mau akhirnya saya memilih untuk menikmati apa yang saya punya. Tak apa suami tak pernah menyuapi saya, karena nyatanya saya sehat dan bisa makan sendiri. Dengan kesehatan, saya bisa ke mana-mana. Bekerja, dolan sama anak-anak, fesbukan, apa saja.

Ketika saya ingin materi, saya melihat orang yang berlimpah materi (rumahnya besar, mobilnya bagus) nyatanya punya masalah yang berat juga. Terpapar lagi di depan saya bahwa materi itu bukan jaminan kebahagiaan. Maka permintaan saya atas materi yang lebih banyak agar bisa punya rumah yang bagus (waktu itu belum punya rumah sendiri dan masih ikut orang tua saya) dan mobil (untuk menggantikan motor butut saya), saya hentikan.

Akhirnya saya menyadari, kebahagiaan itu adalah bagaimana saya menikmati hidup saya dan mensyukurinya. Sehebat dan sebanyak apapun yang saya miliki, kalau saya tidak bisa menikmati, maka percuma saja. Saya akan terus mencari dan mencari, entah kapan akan bisa saya temui sesuatu yang bernama ‘kebahagiaan’.

Dengan kesadaran bahwa kebahagiaan itu cuma bisa saya temui ketika saya menikmati apa yang saya punya. Saya jadi tidak merasa punya permintaan lain lagi. Maka ketika tiba waktu berdoa, biasanya setelah sholat, atau saat berdoa bersama tiap hari di awal jam atau akhir jam pelajaran sekolah, saya bingung. Apa sebenarnya yang harus saya ucapkan dalam doa saya?

Bukannya berdoa, saya malah berpikir keras, apa kiranya yang harus saya sampaikan. Mulailah saya merekapitulasi apa yang saya inginkan. Suami, tidak harus sempurna kan? Wong saya juga tidak sempurna. Yang penting kami saling menghargai dan itu cukup. Materi? Saya kan kerja, cukup kok buat sebulan asal tidak boros. Anak-anak? Mereka baik semua, sehat dan pintar. Teman-teman? Saya tidak punya banyak teman dekat tapi selalu ada yang baik pada saya. Jadi apalagi?

Saya bingung.

Saya pernah membaca bahwa sebenarnya manusia ini adalah alat bagi Tuhan untuk melaksanakan keinginanNYA dalam kehidupan. Tanpa manusia, semua keinginan Tuhan hanya akan menjadi ide dan tidak bisa menjadi nyata. Pemikiran yang tidak biasa, saya temukan di buku yang tidak biasa juga. Di buku itu dikatakan bahwa sebenarnya Tuhan itu membutuhkan manusia demi mewujudkan keinginanNYA.

Akhirnya saya merasa menemukan satu doa yang paling tepat buat saya sendiri. Pertama, saya hanya mengucapkan terima kasih atas apa yang sudah diberikanNYA pada saya hingga saat ini. Sudah itu saja. Kedua, ketika saya menemukan  saat-saat tertentu ketika saya bisa menemukan keheningan, saya mengucapkan dengan sungguh-sungguh, “Tuhan, aku merelakan diriku menjadi alat bagi kehendak-kehendakMU.”

Jujur saja, awalnya saya sempat terhenti juga ketika mengucapkan itu  dalam hati. Terlintas pikiran, “iya kalo kehendakNYA itu yang baik, lha kalo yang nggak bikin kamu nggak senang?”

pray

Detik berikutnya muncul pikiran lain, “Sudahlah, apapun kehendakNYA, aku terima saja. Baik buruk, semua sama baiknya karena DIA pasti tahu apa yang terbaik buat aku.”

Begitulah, sekarang doa itu yang selalu saya ucapkan. Tidak ada permintaan lain selain terima kasih dan merelakan diri untuk menerima segala kehendak-NYA. Anehnya, ketika saya tidak meminta lagi, ketika saya merelakan diri menjadi alat bagi kehendakNYA, banyak hal baik muncul begitu saja.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.