Lessons from Kids : Ketika Saya Belajar Tentang Pentingnya “Packaging” dan “Timing”

Yeni Suryasusanti

 

Selalu membuat tercengang, saat menyadari bagaimana anak-anak kita ternyata mengajari kita banyak hal, mungkin malah lebih banyak daripada yang telah kita ajarkan kepada mereka.

 

Kemarin, 16 Juni 2014, Fian, putra bungsu kami, berulang tahun yang ke 6th.

Karena tahun lalu Fian sudah merayakan di sekolah bersama teman-temannya, tahun ini kami mengarahkan agar dirayakan bersama keluarga inti saja. Kebetulan memang ulang tahunnya jatuh bukan di hari libur.

Kami juga ingin agar “perayaan besar” tidak menjadi budaya wajib sehingga akhirnya menjadi beban. Kami ingin agar moment hari ulang tahun lebih diingat sebagai moment berkumpul bersama keluarga – bisa keluarga inti saja atau keluarga besar – daripada diidentikkan dengan perayaan besar-besaran dalam sebuah pesta dimana kado yang bertumpuk-tumpuk juga menjadi ciri khasnya.

 

Kue ulang tahun dibuatkan oleh Bude Fatmah Bahalwan tercinta dan diantarkan oleh kurir ke kantor saya yang berlokasi dekat markas NCC. Kue ini merupakan gabungan selera seluruh anggota keluarga : bolu pandan dengan taburan keju gondrong yang menggoda di seluruh permukaannya :D

image001

Fian meminta hadiah ulang tahun berupa tas sekolah dan penggaris, yang walaupun terlihat sebagai pasangan yang ganjil namun membuktikan bahwa hadiah pertama yang dipilihnya adalah sesuai dengan konsep “kebutuhan vs keinginan” yang kami ajarkan kepadanya selama ini terkait dalam pembelian barang.

“Jika diperkenankan memilih, maka pilihlah barang – dalam hal ini hadiah – yang memang kita butuhkan, jika tidak ada kebutuhan yang mendesak, maka bolehlah memilih barang yang kita inginkan.”

Memang tahun ajaran ini Fian akan masuk SD. Tas sekolah yang dipakainya selama masih di TK ukurannya terlalu kecil untuk memuat buku-buku pelajaran SD yang berukuran besar dan banyak itu.

Sementara penggaris yang Fian gunakan di TK adalah penggaris pendek 15 cm, sementara di SD membutuhkan penggaris panjang 30 cm.

Jadi, Fian meminta hadiah yang memang dia butuhkan :)

 

Siang hari, Fian menelepon saya ke kantor.

Saya bertanya apakah Fian ingin memilih sendiri Tas dan Penggarisnya atau boleh saya saya yang pilihkan.

Fian berkeras ingin memilih sendiri.

Btw, karakter Fian yang ini memang sungguh berbeda dengan Ifan yg cenderung membiarkan dan menerima apapun yang saya pilihkan untuknya hanya karena dia percaya akan selera saya pasti baik dan percaya akan cinta saya padanya bahwa saya akan memilihkan yang paling bagus dan paling pantas baginya :D

Saya berkata kepada Fian, bahwa jika dia ingin memilih sendiri, berarti hadiahnya terpaksa ditunda menunggu weekend mendatang.

 

“Fian ulang tahunnya dan potong kuenya kan malam ini, Bunda, jadi hadiahnya harus beli malam ini juga!” Fian menolak dengan keras.

“Tapi kalau kita beli tas dulu, berarti potong kuenya nanti terlalu malam dong…” saya mencoba menawar :D

“Bunda pulang kantor langsung ke Gramedia Central Park aja, nanti Fian tunggu Bunda di sana. Kita beli hadiah untuk Fian, terus langsung pulang. Nggak lama kog… Kan hanya beli Tas dan Penggaris aja…” Atur Fian dengan enteng.

 

Akhirnya saya setuju.

Suami menjemput saya di kantor untuk sekaligus membawa kue tart, sementara Ifan, Fian dan pengasuhnya membuat janji temu dengan kami di Gramedia Central Park yang memang hanya berjarak 5 menit dari kediaman kami.

 

Namun, setelah tiba di Gramedia, ternyata moment untuk membeli Tas memang tidak tepat.

Stock pilihan Tas yang ada tidak begitu banyak dan tidak istimewa pula baik dari segi model maupun harga. Saya menduga hal ini terjadi karena liburan sekolah belum lagi dimulai, dan belum terlalu dekatnya waktu tahun ajaran baru. Sementara saat liburan anak sekolah lah biasanya muncul film-film karakter untuk anak yang diikuti berbagai merchandise.

Kami mencoba pindah ke Kids Station yang hanya berbeda 1 lantai saja, namun ternyata sama saja stock pilihannya, bahkan harganya.

 

Akhirnya saya memberikan pilihan kepada Fian lengkap dengan konsekuensi pilihannya.

“Fian boleh memilih Tas Sekolah saat ini atau menunggu bulan depan menjelang masuk sekolah. Kalau Fian beli sekarang, bulan depan saat tahun ajaran baru biasanya akan keluar model yang baru. Saat keluar model baru yang Fian inginkan, Fian sudah nggak bisa beli lagi karena sudah terlanjur beli sekarang. Kalau Fian beli bulan depan, memang hadiah Fian jadi tertunda.  Tapi, akan ada lebih banyak pilihan model dan harganya. Terserah Fian…” jelas saya lugas.

“Tapi Fian mau buka hadiah ulang tahun malam ini Bun…” kata Fian ragu, karena jelas baginya ulang tahun dan hadiah sebaiknya bersamaan waktunya.

“Gimana kalau hadiahnya kita ganti saja dulu? Bulan depan Bunda akan tetap belikan Tas Sekolah karena memang perlu. Tapi hadiah ulang tahun Fian malam ini kita ganti dengan yang lain dulu…” usul saya mencoba berkompromi.

 

Fian setuju dan mulai memilih.

Di Kids Station, saya menolak dengan tandas pilihan alternatif pertamanya yaitu mainan Minion yang walaupun sedang discount 30% namun masih tercetak seharga lebih dari Rp 500.000,-. Saya memberikan pilihan bahwa Fian akan kehilangan kesempatan membeli Tas baru untuk tahun ajaran baru dan hanya bisa memakai Tas abangnya yang lama namun masih bisa dipakai jika memang memaksa membeli Minion itu :D

 

Saya menggiringnya kembali ke Gramedia, karena bagi saya buku lebih bermanfaat dan lebih “ramah” harganya :D

Dengan bersemangat Fian memilih, dan akhirnya pilihannya jatuh pada Komik Smurf dan 2 kotak Puzzle Hot Wheels @ 117 pieces.

Saat menuju ke kasir, Fian berhenti di tempat bungkus kado.

“Bunda, hadiah itu harus di bungkus…” pintanya.

“Lho, kan Fian udah tahu apa hadiahnya? Kenapa harus dibungkus lagi?” tanya saya setengah geli.

“Karena ini kan ‘hadiah’ ulang tahun Bun, jadi harus dibungkus kado…” sekali lagi Fian meminta sambil tersenyum manis.

 

Saya menyerah, mengikuti kemauannya. Setelah hadiah dibungkus dan dibayar, saya saat itu juga menyerahkan bungkusan tersebut kepada Fian,

“Ini Fian, selamat ulang tahun…”

“Makasih Bunda…” ucap Fian sambil memeluk saya, menerima hadiah tersebut sebentar, dan mengembalikan hadiah tersebut kepada saya. “Tapi Bunda sekarang pegang dulu ya… Nanti kalau udah sampai di rumah, udah di depan kue ulang tahun, baru Bunda kasih lagi ke Fian hadiahnya…” kata Fian dengan serius.

 

*Ya Allah…*

 

Malam ini, kami menjalankan semua ritual ulang tahun : Doa yang dipimpin oleh Papa saya yang kebetulan sedang ada urusan di Jakarta, menyanyi lagu selamat ulang tahun bersama-sama, pemberian hadiah, potong kue, pembagian kue dan makan kue bersama.

Saat saya menyerahkan hadiahnya yang terbungkus rapi, Fian tersenyum manis dengan sorot mata berbinar-binar, balas memeluk dan mengecup pipi saya sambil berkata, “Makasih ya Bun…”

Sebagai catatan, pada saat pembagian kue, secara mengejutkan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, potongan kue pertama Fian berikan kepada Ifan.

Saat suami saya protes kog bukan Bunda, Fian lalu berkata, “Iya, nanti, abang dulu ya…”

Hebatnya, saat potongan kue kedua diberikan, Fian memberikan kue tersebut kepada saya sambil berkata, “Yang ini untuk Bunda, karena yang ini paling banyak kejunya…”

 

***

 

Ya Allah, Alhamdulillah….

Malam itu, saya belajar banyak dari Fian.

 

Lucu rasanya, merasa diingatkan oleh anak usia 6th bahwa romantisme bisa terjadi dengan packaging dan timing yang tepat :)

 

Saya yang selama ini dalam banyak hal lebih menekankan dan mementingkan Isi dari pada Kemasan, belajar dari Fian bahwa meskipun Isi memang penting, namun Packaging dan Timing juga tidak kurang pentingnya.

Tak peduli kita sudah mengetahui apa isinya, Hadiah yang diserahkan dalam keadaan terbungkus rapi tentu akan jauh lebih menyentuh hati.

Demikian juga dengan waktu pemberian hadiah. Pemberian hadiah pada waktu yang Tepat akan jauh lebih meningkatkan arti.

Jadi, untuk kesuksesan seputar romantisme dan kasih sayang – dan banyak hal lain dalam hidup – niat yang baik dan tindakan yang lugas saja terkadang belum cukup :D

 

Selain itu, saya juga belajar bahwa tidak seperti yang diragukan sebagian besar orang, strategi, diplomasi dan ketulusan hati ternyata juga bisa berjalan beriringan.

Sungguh saya takjub akan kecermatan Fian saat pembagian kue ulang tahun, takjub akan sikap penuh pertimbangannya.

Fian memastikan abangnya senang menjadi penerima kue yang pertama karena selama ini Fian paling sering mengganggu Ifan, namun Fian juga memastikan bahwa saya mengetahui bahwa saya juga tidak luput dari perhatiannya karena mendapatkan bagian yang paling banyak kejunya – sesuai dengan kesukaan saya – meskipun hanya menjadi penerima kue yang kedua :D

 

Ahmad Balda Arifiansyah, Bunda berdoa, semoga saja sikap penuh pertimbangan yang menjadi ciri orang yang bijaksana – sesuai doa yang diwujudkan dengan pemberian penggalan dari namamu : Arif – ini akan tetap dibawa hingga dewasa, hingga bisa menyejukkan hati orang-orang terkasih yang berada di sekelilingmu…

 

Jakarta, 17 Juni 2014

Yeni Suryasusanti

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.