Penulis adalah Aset

Pingkan Djayasupena – Belanda

 

Banyak yang email dan inbox aku menanyakan “Bu Pingkan bagaimana sih, caranya menulis?” ada juga yang inbox “Tante Pingkan ajarin saya menulis, dong”. Aku suka senyum-senyum kalau ada yang bertanya seperti itu. Kenapa aku terseyum? Karna aku sendiri masih belajar menulis walau sudah pernah menerbitkan dua buku solo dan dua buku antologi puisi.

Aku menulis hanya iseng mengisi waktu senggang saja, namanya tinggal di Belanda masalah cuaca membuat orang lebih betah di dalam rumah, orang Belanda umumnya lebih banyak di dalam rumah daripada di luar rumah. Kalau mau belajar menulis menurut aku tulis aja apa yang ingin ditulis keluarkan isi kepala kita melalui tulisan, nanti akan dengan sendirinya mengalir apa adanya setelah selesai menulis kita baca lagi berulang-ulang sambil mengedit tulisannya.

Sebelum kita menulis tentu harus punya ide tulisan, apa yang ingin disampaikan dalam sebuah tulisan yang akan kita tulis dengan begitu akan memudahkan kita untuk menulis kalimat awalnya lalu dengan sendirinya akan mengalir begitu saja apa yang akan kita sampaikan dalam tulisan kita. Apakah menjadi penulis itu harus sering membaca buku? Menurut aku jika ingin menjadi penulis tidak harus selalu sering membaca buku sebanyak-banyaknya karena menulis adalah bagian dari jiwa apa yang kita tulis yaitu adalah jiwa kita, pemikiran kita.

Membaca buku tentu penting, tapi tidak harus selalu membaca buku jika ingin menjadi penulis. Ada juga orang yang hobby menulis tapi jarang membaca buku tulisannya tetap saja enak dibaca dengan gayanya sendiri. Aku sendiri termasuk yang jarang membaca buku tetapi aku suka membeli buku dan akan membacanya jika ada kesempatan saja.

assetSekarang ini banyak website-website atau blogs yang memudahkan kita untuk memuat tulisan agar tulisan kita bisa dibaca orang. Aku sendiri lebih suka menulis di website-website daripada di blogs. Kalau kita misalnya mempunyai website dan ingin para penulis menyumbang tulisannya di website kita itu. Tentu kita sebagai pemilik website harus menjaga hubungan dengan para penulis itu dengan baik dan harus jeli melihat para penulis yang mengirim tulisannya ke website kita itu, mana yang berbobot, mana yang produktif, mana tulisan ringan yang disukai pembaca, walau tidak berbobot tapi tulisannya menghibur juga penuh inspirasi untuk para pembaca.

Sebagai pengelola website kita kadang mungkin serba salah jika ada keributan antar penulis dan pembaca yang mengkritik tulisan penulis tersebut. Ada pengelola website yang cuek aja tidak ambil pusing dengan keributan yang terjadi antar pembaca dan penulis. Ada juga pengelola website akhirnya harus turun tangan agar keributan yang mulai menuai kontroversi agar tidak sampai melebar ke mana-mana.

Kalau ingin menjadi penengah sebagai pemilik website tentu harus netral dan bijaksana mengatasinya, bukan? Mana yang harus dipertahankan mana yang tidak harus dipertahankan di wesite itu. Apalagi kalau penulis yang sering mengirim tulisannya ke website itu produktif, tentu harus lebih diutamakan dan dipertahankan daripada para komentator yang tidak pernah mengirim tulisan tapi bisanya menghujat penulis itu entah hujatannya itu karena tidak suka sama isi tulisannya atau memang ada masalah pribadi karena tidak menyukai si penulis itu.

Sebuah website perlu penulis karena penulis adalah asset, tanpa penulis websiteitu tidak akan jalan, masa kita harus menulis sendiri untuk website itu akhirnya lama-lama pengunjungi ke website itu sepi dan para penulis malas untuk mengirim tulisannya karena pengelola website lebih mengutamakan memihak para komentator dari pada penulis. Para komentator yang tidak pernah mengirim tulisan tidak perlu dibela atau di pertahankan. Karena tanpa dibela pun para komentantor tidak akan pergi dari website itu wong kerjanya cuma bikin rusuh buat mereka itu kerjaan yang sangat menyenangkan, maka harus jeli siapakah yang harus dilindungi penulis atau para komentator yang tidak pernah mengirim tulisan hanya penggembira bahkan perusuh. Jadi kita sebagai pengelola website sebaiknya komentar-komentar yang SARA dan menyerang pribadi penulis itu yang perlu didelete.

Seorang penulis tentu senang ketika tulisannya dimuat lalu dikomentari terlepas komentarnya pro dan kontra karena tulisannya itu. Seorang penulis juga harus siap mental ketika tulisannya dikritik sepedas apapun harus menerimanya jangan cengeng lalu ngambek, tidak mau menulis lagi kecuali kalau sudah menyangkut harga diri baru kita boleh memutuskan untuk tidak mengirim tulisan ke website itu. Justru makin dihujat sebuah tulisan berarti kita telah berhasil membangunkan para pembaca agar aktif memberi komentar berarti kita sudah berahasil kan? Apalagi kalau sampai heboh seantero dunia maya berarti tulisan kita memang sangat menarik untuk dibaca dan dikomentari.

Assets

Apalagi kalau kita sudah mempunyai pembaca menulis di manapun lalu kita share di facebook dan media social lainnya kita tetap akan punya pembaca tidak akan pernah kehilangan pembaca yang menyukai tulisan kita atau yang tidak menyukai tulisan kita.

 

About Audry Djayasupena

Dulu dikenal dengan nama La Rose Djayasupena, kemudian menggunakan nama Pingkan Djayasupena dan sekarang menjadi Audry Djayasupena. Tinggal di Negeri Kincir Angin. Pemikirannya yang 'progresif' terlihat dari artikel-artikel dan buku-bukunya. Sudah menerbitkan karyanya berupa beberapa buku, di antaranya yang cukup 'sangar' judulnya adalah "Bedroom Fantasy".

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.