Cukup Itu Ternyata Lebih daripada Banyak

Tjiptadinata Effendi

 

Tidak sedikit orang yang mendambakan suatu waktu dalam hidupnya akan menjadi orang kaya. Karena dalam pandangan umum, orang kaya itu adalah orang yang serba berkelebihan dan berkelimpahan kebahagiaan. Namun bila kita bergaul dengan orang-orang kaya, paradigma ini, akan berubah secara total. Karena ternyata kehidupan orang-orang kaya, tidaklah seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Hidup mereka penuh dengan keluh kesah dari berbagai sudut kehidupan.

Walaupun beragam keluhan yang diutarakan, namun intinya adalah satu: ”Tidak Puas dengan apa yang sudah dicapai”. Keluhan orang yang tidak punya uang untuk makan, tentunya amat berbeda dengan keluhan orang yang menurut pandangan awam, adalah orang-orang kaya.

“Susah, omset bulan ini turun drastis.”

“Sialan, rencana mau beli Mercy, terpaksa tertunda, karena kurs dollar naik”

“Pusing ngurusin anak-anak, dibelikan mobil pribadi masing-masing, masih minta ganti lagi.”

“Istri diajak shopping ke Hongkong, katanya sudah bosan.”

“Lagi pusing nih, istri ke Paris, katanya arisan traveling.”

Dan kalau saya tuliskan, halaman ini tidak bakalan cukup, untuk menuangkan keluh kesah orang-orang kaya. Sejak saat itu saya bertekad, tidak akan pernah berdoa minta kaya.

 

Hidup Berkecukupan

Merinding saya mendengar dan menyaksikan keluh kesah orang-orang kaya, karena ternyata harta yang banyak tidak mampu menciptakan kebahagiaan dalam rumah tangga mereka. Bahkan ketika saya mengunjungi salah satu sahabat saya, yang sudah menjadi staf salah satu menteri, di saat saat kami berdua, ternyata menceritakan bahwa hidupnya jauh dari kebahagiaan. Malah katanya: ”Kalau saya bisa memilih, maka saya akan memilih hidup seperti anda Pak Effendi”. Anda bebas merdeka ke mana-mana bersama istri .

Padahal kalau saya melihat, rumahnya yang kami kunjungi, nilainya tidak kurang dari 10 milliar rupiah. Belum lagi masih ada 3 buah Villa nya di puncak, yang disewakan. Di garasi sepintas saya melihat mobil Mercy baru. Bukan satu, melainkan ada 3 unit. Saya tidak habis pikir, bagaimana dengan kondisi yang serba berkelimpahan ini, sahabat saya ini, masih berkeluh kesah.

cukup atau kaya

 

Cukup itu lebih daripada Banyak

Menyaksikan hal ini, hati saya semakin mantap, untuk tidak pernah berdoa minta kaya. Permohonan saya adalah: ”Semoga diberikan hidup berkecukupan.”

Ternyata doa ini sungguh sungguh terjadi dalam hidup. Kami sama sekali tidak kaya, namun setiap kali kami ingin membeli sesuatu, ternyata uang cukup. Begitu juga ketika kami ingin melakukan perjalanan kemanapun, uang juga cukup. Ternyata cukup itu lebih bernilai daripada banyak. Orang-orang yang memiliki uang banyak, hampir selalu berkeluh kesah bahwa ada saja yang kurang. Sedangkan kami selalu bersyukur, kendati tidak kaya, namu apa saja yang kami harapkan ternyata bisa dicukupi . Bagi kami hal ini merupakan rasa syukur yang tidak berkesudahan.

Ini bukan sekedar teori ataupun mencoba mengarang tentang falsafah hidup, melainkan hal yang kami terapkan di sepanjang perjalanan hidup kami. Karena itu, di manapun kami berada, selalu menyarankan kepada keluarga dan sanak family, serta teman-teman: ”Jangan berdoa minta kaya”, karena orang kaya, tidak pernah merasa cukup. Berdoakan agar diberikan berkecukupan. Karena ternyata kami sudah membuktikan bahwa: ”cukup itu lebih daripada banyak”

 

Mount Saint Thomas, 24 Juni, 2014

Tjiptadinata Effendi

 

About Tjiptadinata Effendi

Seorang ayah dan suami yang baik. Menimba pengalaman hidup semenjak kecil. Pengalaman hidupnya yang bagai ombak lautan menempanya menjadi pribadi yang tangguh dan pengusaha sukses. Sekarang pensiun, bersama istri melanglang buana, melongok luasnya samudra dan benua sembari bersyukur atas pencapaiannya selama ini sekaligus menularkan keteladanan hidup kepada siapa saja yang mau menyimaknya melalui BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

2 Comments to "Cukup Itu Ternyata Lebih daripada Banyak"

  1. Swan Liong Be  1 September, 2017 at 18:09

    DiJerman ada kosakata yang berbunyi demikian: “Besser einen Spatz in der Hand als eine Taube auf dem Dach” , dalam bhs.indonesia: Lebih baik burung gereja ditangan ketimbang burung dara diatap. Kosakata ini mau menjelaskan bahwa lebih baik punya sesuatu ditangan yang sudah pasti meskipun kecil dartipada mengharapkan sesuatu yang lebih besar yang belum pasti didapatkan.

  2. laila  1 September, 2017 at 07:14

    Terima kasih pak.saya dari malaysia.baru ikutan membaca tulisan bapak.sangat menginspirasikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.