Lelaki dari Samatoa

Handoko Widagdo – Solo

 

Lelaki itu datang saat engkau sedang sangat sibuk. Dua workshop berturut-turut ada di agendamu. Engkau harus menyiapkan beberapa presentasi dan memeriksan kumpulan makalah yang akan disampaikan dimana engkau adalah moderatornya. Saat itu engkau juga sedang ditemani oleh Hana Rambe yang mengisahkan hasil risetnya melalui cerita Aimuna dan Sobori. Sedangkan cerita Hana Rambe baru sampai pada pembunuhan dan pembakaran ladang cengkeh oleh pada antek Hongi.

lelaki-dari-samatoa

Namun baju Lelaki Dari Samatoa yang berwarna hijau dengan gambar bunga kacang membuat matamu berbinar. Apalagi tulisan merah yang menyemat di baju itu. Tulisan itu berbunyi: “Kumpulan fiksi perjalanan”. Tak biasanya dia menulis fiksi, katamu. Kejutan apalagi yang akan disampaikan? Bukankah selama ini dia lebih mahir bercerita tentang orang-orang yang remeh-temeh? Fiksi? Pikiranmu segera dipenuhi oleh guntur-guntur pertanyaan yang menguak mendung.

Akhirnya kau bawa juga si lekaki itu ke tempat tidurmu. Kau belai-belai beberapa halaman, sebelum akhirnya kau onggokan dia di dekat bantalmu. Kau ajak si lelaki ke toilet di saat pagi. Namun si lelaki sungguh kecewa kepadamu karena waktumu di toilet tidak selama biasanya. Itu karena di TV sedang menyiarkan pertandingan piala dunia. Maka kau persingkat ritual pagimu. Sang lelaki hanya sempat menceritakan satu kisah saja kepadamu di saat ritual pagimu. Semacam ritual pujian dan penyembahan.

Sedangkan di sore hari, ketika engkau sudah pulang dari kantor, fisikmu sudah kelihatan lelah. Mungkin tiga, empat gelas kopi yang engkau teguk membuat tubuhmu layu. Apalagi di pagi hari engkau minum kopi lanang dari Bali yang datang bersama si lelaki. Kopi lanang itu mempunyai rasa yang kuat dan membuat pagimu bersinar. Namun soremu memang mengecewakan. Pikiranmu yang belum bisa lepas dari topik-topik seminar dan kekhawatiranmu akan apa yang akan terjadi di workshop esok pagi, membuatmu terbenam dalam kerja sampai menjelang hari berganti. Akhirnya kau tak punya waktu untuk bercengkerama dengan Hana Rambe dan si lelaki di sore-soremu yang sibuk.

Untunglah beberapa kisah yang diceritakan oleh si lekaki sudah pernah kau dapatkan langsung dari penuturnya di laman Baltyra. Dengan demikian engkau bisa cepat mencumbui kisah-kisah itu tanpa harus menelisik lekuk-likunya.

Baiklah. Fiksi? Benarkan ini fiksi? Menurutku hanya ada satu fiksi, yaitu kisah pengkebirian Cheng Ho. Lainnya? Sangat sulit untuk dibilang bahwa itu adalah sebuah fiksi. Bahkan cerita tentang hantu atau tentang anak yang muncul di dekat pohon Chankiri. Detail-detail gambaran hotel yang penguk di Kuala Lipis, kisah tentang baju Flanel Merah, atau peluh yang berleleran dalam perjalanan dari Kupang ke Atambua kau anggap sebagai fakta-fakta yang terlalu kuat untuk disebut sebagai fiksi. Mustahil penuturan ini bisa sedemikian nyata, jika ini adalah sebuah fiksi, katamu. Bahkan engkau bisa ikut membaui toilet di Hotel Apu.

Akhirnya, kau berterima kasih kepada si lelaki. Meski tidak menemanimu dalam sekali cerita, namun dia telah memperingan hari-harimu yang sibuk. Entah itu benar-benar fiksi atau fiksi yang sesungguhnya benar.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *