Autowriting (1): God Speaks

Wesiati Setyaningsih

 

Tuhan bicara pada semua orang. Hanya saja tidak semua percaya bahwa itu Tuhan yang sedang berkata. Sepertinya begitu.

Ada materi yang sangat menarik buat saya ketika mengikuti gathering dan sharing Penyembuhan Holistik di Jogja tanggal 4 Januari 2014 lalu, yaitu autowriting yang disampaikan oleh Bella Nugroho. Ada banyak definisi tentang autowriting ini namun singkat dan jelas menurut wikipedia,

       “Automatic writing or psychography is an alleged psychic ability allowing a person to produce written    words without physically writing. The words are claimed to arise from a subconscious, spiritual or supernatural source”

God-Speaks

Terjemahan bebasnya, autowriting adalah  semacam kemampuan menulis dari jiwa yang membuat orang bisa menghasilkan tulisan tanpa sepenuhnya menulis. Kalimat-kalimat yang tertuang dianggap muncul dari alam bawah sadar atau kekuatan supranatural.

Dalam presentasinya Mbak Bella memberikan contoh buku yang merupakan hasil autowriting ini : buku Conversation With God yang ditulis oleh Neale Donald Walsh dan Shelock Holmes yang ditulis oleh Sir Arthur Conan Doyle. Sherlock Holmes saya kira semua sudah tahu, saya juga sudah pernah membaca beberapa novel serial ini. Saya rasa semua orang bisa menerima cerita detektif begini.

Tapi buku Conversation With God oleh penulisnya dikatakan benar-benar merupakan petunjuk Tuhan. Saya sudah membaca dan rasanya bukan buku yang bisa dipahami semua orang terutama kalau dia masih terikat dengan dogma agama yang sangat kuat. Bisa-bisa ada anggapan bahwa buku CWG (disingkat begitu) adalah buku beraliran sesat.

Itulah kenapa pada sesi tanya jawab saya bertanya apakah tidak ada keraguan dari orang lain yang mengetahui kemampuan mbak Bella ini sebagai kekuatan di bawah kekuatan jahat, dan bagaimana membedakan ide yang muncul itu dari Tuhan atau bukan? Mbak Bella kemudian bercerita bahwa memang ada respon seperti itu dan (seperti biasa tantangan untuk hal-hal seperti ini) semua itu dari keluarga.

Mbak Bella sempat dibawa bapaknya ke ‘orang pintar’ agar disembuhkan. Tidak cuma sekali tapi beberapa kali. Banyak tantangan yang harus dia hadapi hingga akhirnya dia menyerah dan mengikuti pesan Tuhan dengan menuliskan apa yang melintas di kepalanya. Kemampuan ini  akhirnya bermanfaat bagi banyak orang untuk mendeteksi penyakit hingga ditemukan apa yang menjadi masalah intinya tanpa harus melalui tes laborat berulang-ulang dengan resiko belum tentu ketemu penyakit yang sebenarnya. Dengan bantuan kemampuan autowriting dari mbak Bella orang yang sakit bisa langsung diketahui penyakitnya dan pengobatan bisa dilakukan dengan tepat dan cepat.

Ketika mbak Bella akhirnya selesai presentasi menganai autowriting, saya bertemu dia di ruang makan. Ruang yang digunakan pertemuan bersebelahan dengan ruang makan dan sembari makan kami bisa mendengarkan dari ruang makan. Saya sedang duduk di sana ketika mbak Bella masuk dan mengambil makan.

Mbak Bella menyapa saya dan mengambil tempat duduk di depan saya. Dia mudah lapar, katanya. Saya melirik tubuhnya yang sangat langsing. Senang juga sering makan tapi tetap langsing, pikir saya. Sambil makan, seperti orang penasaran, dia menjawab lebih lanjut pertanyaan saya.

“Saya nggak berani mengatakan di sana tadi karena tidak yakin kita semua memiliki pemahaman yang sama. Tapi yang jelas saya sudah mengalami semua tantangan dari keluarga.”

Berikutnya dia menceritakan lebih banyak lagi tentang halangan dari keluarga. Dan menjawab pertanyaan saya mengenai bagaimana dia yakin bahwa itu dari Tuhan atau bukan, dia mengatakan,

“Kalau itu menjadi buah bagi roh, dalam agama saya istilahnya begitu, maka itu dari Tuhan. Kalau itu menyakiti maka itu bukan dari Tuhan. Gitu aja.”

Saya mengangguk-angguk paham. Tiba-tiba dia menatap saya dan bertanya,

“Mau ditulisin?”

Saya kaget.

“Maksudnya gimana nih?” pikir saya.

Tapi saya mengangguk saja, antara penasaran dan tidak enak karena dia sedang makan. Dia berdiri lalu mengambil bukunya seraya meyakinkan bahwa itu bukan masalah.

“Sudah biasa kok. Entrementnya bisa langsung on off gitu,” katanya.

Sebelum mulai menulis dia sempat berkata,

“Dulu waktu saya masih fesbukan saya suka tulisan-tulisannya mbak Wesi. Bagus-bagus.”

Saya tersenyum senang. Lalu mulailah dia menulis nama saya di sudut kiri atas, ‘Mba Wesi’ dan tanggal hari itu dengan tulisan yang sangat manis.

“Ini tulisan asli saya,” katanya sambil tersenyum manis.

Mbak Bella memang orang yang sangat ramah. Berikutnya dia menulis dengan tangan yang bergerak cepat. Tulisannya agak acak-acakan. Saat tangan kanannya menulis, tangan kirinya bergerak-gerak gelisah. Saya deg-degan menunggu hasilnya. Tak berapa lama dia selesai. Dia ulurkan bukunya pada saya.

“Ini, baca sendiri. Cuma mbak Wesi yang tau maksudnya.”

Saya membaca pelan-pelan apa yang telah dia tulis. Ada sekitar 4 kalimat. Dan saya benar-benar seperti kena tendang di dada ketika membaca kalimat terakhir,

 

“Jangan kau muati hatimu dengan luka dan perih karena semua itu tak terlalu berharga dibanding apa yang sedang KUsiapkan bagimu.”

 

Saya benar-benar seperti sedang diingatkan untuk tidak mudah sakit hati karena semua itu sesuatu yang ‘tak terlalu berharga’. Bahwa Tuhan sudah punya rencana yang luar biasa. Rasanya saya ingin menangis karena Tuhan seperti sedang bicara pada saya dengan sangat nyata melalui tulisan mbak Bella.

Kertas berisi tulisan tersebut kemudian diserahkan pada saya. Teman-teman lain mulai merubung ingin mendapat tulisan dari mbak Bella juga. Kata mbak Bella, “untuk tiap orang tulisannya bisa beda-beda. Tidak sama satu sama lain.”

Saya menjauh dari kerumunan untuk memberi ruang bagi teman lain yang ingin juga mendapat tulisan mbak Bella untuk mendapatkan jawaban atas masalah hidup mereka.

Kejadian ini sangat membekas dalam benak saya. Dalam perjalanan pulang ke Semarang, terlintas untuk iseng menulis dengan mengikuti apa yang terlintas di kepala begitu saja. Dan memang saya akhirnya melakukannya.

Hasilnya akan saya tulis di catatan berikutnya. Tidak semua, hanya sebagai contoh saja. Siapa tahu menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama dan mengambil manfaat dari autowriting yang dilakukan sendiri untuk diri sendiri. Karena sesungguhnya Tuhan benar-benar bicara pada kita semua. Masalahnya  adalah apakah kita mampu mendengarnya atau ego menutupi jiwa kita. Itu saja.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.