Cerita dari Bawah Langit Siang hingga Langit Sore Itu (Bukan Puisi)

Awan Tenggara

 

unnamed

: untuk seorang sahabat di masa lalu

 

Hidup kita adalah kumpulan dari kenakalan-kenakalan, sepanjang waktu kau dan aku dulu masih berseragam putih abu-abu. satu waktu yang hari ini masih sering kuingat, sahabat. adalah ketika kita menyeruput segelas berdua jus alpukat di kantin usai kelas matematika, lalu cabut lewat lubang di tembok sebelah bak pembakaran sampah. kita berlari menuju kanal sebelah utara kota, untuk membicarakan impian-impian di kemudian pagi sembari menatap bunga ilalang yang rekah liar di pinggir-pinggir sungai. “tak ada mata pelajaran yang akan membangun kehidupanku,” katamu. dan memang demikian, karena kau sudah memilih mimpimu sendiri untuk jadi kaum pinggiran.

Dan di bawah langit siang hingga langit sore itu, antara asap rokokmu dengan asap rokokku, aku selalu melihat ada jeda yang kerap menepukku agar aku menyinggahi matamu. di sana ada tempias kabut yang mesti kueja. yang dulu aku tak pernah paham kalau ternyata hal itu bercerita tentang pedihmu, tentang sendirimu, dan tentang pernyataan bahwa kau dan aku tak akan pernah bisa selamanya berteman.

Ah, kiranya. jika dulu aku dapat fasih mengeja, atau jika saja engkau mau berkata, mungkin aku bisa berusaha agar kau tidak seperti ini, meninggalkanku, untuk berangkat lebih dulu ke surga.

 

Sarang Angin, 16 Oktober 2010

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.