[Serial Negara Kapitalis] Prayer on The Street

Dian Nugraheni

 

Amerika, negaranya para Pengelana. Baik Pengelana lama, para Conqueror, Penakluk, yang dulu kala membuka lahan dengan alasan apa pun itu, babat alas di Amerika sejak jaman penjajahan, mereka beranak pinak, kemudian menjadi sebagai nampak sebagai asli “White American” (dan banyak orang lupa atau bahkan tak tau bahwa ada yang lebih berhak disebut sebagai “American”, yaitu Sang Native American, atau orang-orang Indian), atau, sampai sekarang, orang-orang yang sengaja maupun tak sengaja terdampar dan meneruskan hidup di Amerika.

Kemudian, orang-orang yang terdampar tersebut, atau para “Terdamparer” itu, disebut sebagai imigran, baik imigran gelap, ilegal alien, orang-orang tanpa dokumen resmi, maupun orang-orang terang, legal alien, orang-orang yang mempunyai dokumen resmi untuk tinggal di Amerika.

Akhirnya, yang gelap maupun yang terang ini tak ada beda dalam kehidupan sehari-hari. Sama-sama menjadi orang asing di negeri bukan asalnya. Sama-sama berjuang untuk meneruskan hidup, atau, mengusahakan hidup agar menjadi lebih baik.

Berjuang, akan sama kerasnya di mana pun berada. Di negeri sendiri pun, untuk hidup perlu berjuang. Cuma bedanya mungkin satu, tinggal di negeri asing, tetaplah merasa bahwa tempat itu bukan tempatnya. Masih ada keinginan pulang for good, untuk seterusnya, ke negeri asal.

Hati dan jiwa yang terbelah, itu mungkin istilah yang tepat bagi kegalauan macam ini. Di satu sisi merasa menemukan hidup yang lebih baik di negeri orang, di satu sisi lainnya, tuntutan batin mengharu biru untuk terundang pulang ke pangkuan negeri tumpah darah.

Lalu hidup serasa benar-benar sebagai pilihan. Lalu kita merujuk pada satu hal, “tergantung niat.” Ya, niatnya apa untuk jauh-jauh bertahan di negeri orang. Niat itu sebuah hal yang menguatkan kita untuk melakukan suatu hal. Niat itu bisa semula nggak ada, kemudian dibangun, niat itu pun bisa berubah-ubah.

Mengejutkan, yang kemudian menjadi hal-hal yang patut diteladani, bahwa Amerika yang terbayang “wah” dari kejauhan itu, ternyata lebih banyak “sederhana” dalam kesehariannya.

Ini negara yang fair dalam menghargai individu, sesuai dengan kapasitas inidividu itu sendiri. Untuk hal-hal yang umum, negara ini tidak rewel menanyakan hal-hal yang sangat pribadi seperti, berapakah umurmu, apa golongan darahmu, apa agamamu, ketika kita mengisi suatu formulir aplikasi. Di sana cuma ada isian nama, alamat, nomor telepon, dan hal-hal umum yang berkaitan dengan individu. Tak peduli juga kau perempuan atau laki-laki, perempuan beneran atau laki-laki beneran, atau bahkan perempuan atau laki-laki jadi-jadian, asal sepakat soal suatu hal, maka go ahead, dengan konsekuensi dan apresiasinya.

Pada jaman ini, di negara ini, secara umum, orang-orangnya nice. Saling senyum dan sapa-sapa.  mungkin, karena masing-masing orang merasa hanya sebagai “Penumpang”, bukan sebagai “Pemilik” negeri ini. Jadi sesama Penumpang nggak boleh saling mendahului, begitu pepatah kerennya..he..he..he…

Orang-orang bebas aja, misalnya, pakai celana super pendek dan kaus tank top tanpa harus “ditelanjangi” oleh mata lawan atau dituduh sebagai “SangPeng” alias Sang Penggoda. Orang boleh hitam atau putih, gendut, atau kurus, kekar, botak, atau apa pun. Masing-masing orang melihat tanpa menjudge, “ihh, kakinya segede kaki pemain sepak bola, ihh, kulitnya uiteeem…,” atau ihh..ihh…yang lain. So.., pede aja ketika misalnya kamu, perempuan, cantik, tapi berbadan kekar, atau apalah, karena orang menghargai kamu, utamanya, bukan dari sisi fisik.

Untuk urusan kehidupan beragama pun, sungguh mengejutkan. Banyak orang mengira sebagai negara sekuler, orang-orang Amerika tidak beragama, tidak religius. Ini sungguh keliru.

Sejak di tanah air aku melakukan “agama”ku lebih secara individu. Aku tak peduli ketika orang berbondong-bondong ke tempat persembahyangan umum dan aku tidak. Aku juga nggak peduli ketika orang-orang menggunjing, kenapa nggak pernah ikut kelompok kajian ini itu yang berkaitan dengan agama, dan lain-lain.

Senyatanya negeri sekuler ini, adalah negeri yang membebaskan orang-orangnya untuk beragama atau tak beragama, membebaskan orang-orangnya untuk meyelenggarakan agama atau kepercayaannya masing-masing sepanjang itu tidak mengganggu pihak lain. Negara yang secara tegas tak mau menyentuh hal-hal keagamaan untuk dijadikan dasar pembicaraan, berkaitan dengan hal-hal kehidupan lainnya.

Tapi soal agama ini juga, masing-masing orang yang menjalankannya, lebih banyak berusaha berbagi untuk kenyamanan hati banyak orang. Bahkan, ketika menyadari bahwa hampir semua makhluk di Amerika adalah makhluk Pekerja, yang tidak punya banyak waktu untuk pergi ke tempat Persembahyangan, mereka, banyak Pemuka Agama ini yang tak segan-segan turun ke jalanan pada kesempatan-kesempatan istimewa untuk memberi pelayanan kepada yang memerlukan, tanpa paksaan.

Seperti pada beberapa kesempatan, aku merasa ingin untuk berhenti sejenak, dan mendekat pada para Pendoa ini, berbicara sedikit dengan mereka, “doakanlah aku…” Karena aku berpendapat, doa dari orang lain pada kita adalah sebuah hadiah istimewa, tak semua orang mau mendoakan orang lain.

Dan mereka dengan senyum dan lega hati, mengucapkan kalimat-kalimat yang bagi aku sungguh masuk akal. Bahwa doa adalah kalimat lemah sebuah permintaan pada Yang Tertinggi.

Doa juga adalah kalimat-kalimat kebenaran yang menyentuh hati, agar kita tersadar bahwa kita hanyalah makhluk yang punya keterbatasan. Keterbatasan usia, keterbatasan kekuatan fisik, keterbatasan kemampuan berpikir, keterbatasan kemampuan perasaan, dan seterusnya. Bila kita sudah menyadari keterbatasan ini, sangat tak perlu kita menjadi sombong dan menyombongkan diri.

Aku merasa nyaman beragama di negara sekuler ini. Mungkin karena sampai saat ini aku meyakini, bahwa my religion has no name, kalau di negaraku dulu aku harus mencantumkan nama jelas Agamaku, itu lebih karena hal-hal yang bersifat administratif. Sekarang ini aku tak menolak bila aku harus berdoa dalam gereja, pura, masjid atau di mana pun. Karena bagi aku, doa itu benar-benar bersifat pribadi dan tanpa atribut apa pun. Doa adalah “kemesraan” hubungan individu terhadap Yang Maha Tinggi. Yakin sajalah Yang Maha Tinggi tau dan mengerti apa yang kita tuju dan pikirkan. Kebaikan dan niat baik, tetaplah landasan utama satu-satunya ketika kita menyampaikan doa.

Jadi, bisakah kita jalankan ini, damai dan berdamai dengan saling mendoakan. Nyaman dan menyamankan sambil berbagi senyum dan tak menghakimi orang lain dengan dalih apa pun. Menyadari berbagai keterbatasan kita sebagai sesama makhluk, sehingga kita nggak perlu saling ngotot untuk saling merendahkan pihak lain. Bila kita mampu bersikap atas kesadaran ini, paling nggak, satu kerumitan hidup telah ditiadakan, sehingga kita masih punya waktu dan energi untuk melakukan hal-hal baik lainnya.

 

Hidup ini sederhana, Kawan…
Maka jangan dibikin terlalu sulit….Just take it, do it, and enjoy it…that’s it…..

 

prayer-on-the-street (1)

Bertemu dan mendapat doa dari Prayer on the street…

 

prayer-on-the-street (2)

Seorang priest membuatku menangis ketika bilang, “Kau berasal dari abu, dan akan kembali menjadi abu, hanya jiwamu yang akan kembali pada Tuhanmu”…betapa kecilnya kita sebagai manusia…

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *