Suami Orang, Suamiku

Pingkan Djayasupena – Belanda

 

Banyak terjadi di lingkungan kita perempuan yang mau jadi piaraan ataupun yang mau dipoligami. Apalagi faktor utama mereka umumnya kalau bukan karena masalah ekonomi? Aku sendiri tidak ingin menyalahkan atau memojokkan para perempuan yang memilih hidup seperti itu karena masing-masing perempuan pasti punya alasan untuk menjalani kehidupannya.

Ada perempuan yang punya prinsip nggak masalah suami punya simpanan atau berpoligami yang penting uang belanja setiap bulan lancar lebih dari cukup buat kebutuhan pokok dan yang terpenting lagi bisa shopping barang bermerk sepuas-puasnya dengan segala fasilitas mobil dan rumah yang serba mewah. Begitu juga sebaliknya ada perempuan yang nggak peduli kalau dirinya jadi piaraan atau jadi istri nomer ke sekian yang penting itu tadi uang masuk setiap bulan melebihi dari cukup kebutuhan hidupnya.

Tetapi ada juga perempuan kelas bawah yang mau jadi istri ke sekian dipoligami tapi mereka tidak mendapatkan nafkah dari suami sirinya. Jangankan istri tuanya mendapat nafkah uang bulanan yang cukup dari suaminya. Istri-istri siri lainnya juga nggak mendapatkan apa-apa selain status bahwa mereka adalah istri pertama, kedua, ketiga, keempat, dari seoarang laki-laki yang penting punya status bahwa bersuami karena likungan menuntut mereka terpaksa melakukan seperti itu.

Padahal suaminya pengangguran atau seorang buruh yang gajinya saja tidak cukup untuk memenuhi rumah tangga dengan istri pertamanya, toh, perempuan itu mau saja menerima laki-laki yang menjadi suami sirinya dengan keadaan hidupnya seperti itu. Mereka para perempuan yang jadi istri siri dari laki-laki pengangguran atau buruh rela bekerja menjadi tukang cuci pakaian dari rumah ke rumah atau berjualan makanan di depan rumahnya dan ada juga yang menjadi wanita penghibur bekerja di bar dengan seijin suami sirinya itu.

Setiap perempuan tentu mempunyai kelas sosial yang berbeda-beda dalam pergaulannya. Maka ketika bertemu laki-laki pun mendapatkan laki-laki dengan status sosial yang berbeda juga. Kalau kita sebagai perempuan punya target ingin menggaet laki-laki tajir tentu kita harus tahu dimana mereka para laki-laki tajir kumpul berada. Modal wajah, perawatan mempercantik diri dan pergaulanpun harus ditingkatkan dan diperluas agar bisa mendapatkan target untuk mendapatkan laki-laki yang tajir.

Kalau kita dari keluarga kurang mampu tapi kita punya modal wajah cantik dan pergaulan luas tentu sangat mudah bagi kita untuk menggaet laki-laki tajir, karena umumnya laki-laki suka dengan perempuan cantik, sexy, dan modis. Walau mungkin pendidikan perempuan itu nggak tinggi tapi modal wajah dan body serta penampilan bisa mendukung untuk itu. Beda dengan perempuan berpendidikan tinggi dan cerdas kalau wajahnya pas-pasan umumnya sangat sulit untuk menggaet laki-laki.

affair

(Aku bicara tentang laki-laki Indonesia pada umumnya bukan bule ya? karena kalau orang bule umumnya tidak terlalu masalah dengan fisik perempuan, walau ada juga sih karena laki-laki dan perempuan suka akan keindahan umumnya pasti melihat fisik seseorang duluan)

Tetapi ingat laki-laki tajir umumnya nggak setia banyak gebetannya di sana-sini, di antara seribu laki-laki tajir mungkin hanya sepuluh yang setia selebihnya nggak bisa dijamin kalau mereka setia. Kalau kita hanya menginginkan hartanya ya harus siap mental juga untuk menerima kelakuan laki-laki itu yang nggak setia setiap malam atau setiap minggu berganti-ganti perempuan selingkuhannya atau istri sirinya. Maka pikirkanlah apakah kita ini butuh harta atau butuh laki-laki setia dalam hidup kita ini? Ganteng, setia, tajir, respect sama kita, kalau bisa kita ingin mempunyai pasangan hidup seperti itu kan? Kadang semua itu hanya impian aja dalam berumah tangga nggak ada yang sempurna untuk bisa memiliki laki-laki seperti itu.

Kita sebagai perempuan sebaiknya mandiri walau kita sudah menikah jangan terlalu bergantung hidup pada laki-laki, karena nasib perempuan itu tidak sama jadi jangan terlalu berharap yang muluk-muluk ketika kita mencari pasangan hidup. Ada perempuan yang nasibnya baik punya suami tajir sebagai istri nggak pernah kerja seumur hidupnya karena suaminya memberikan dan menjamin segalanya. Ada perempuan yang nasibnya kurang bagus punya suami pelit walau tajir tapi apa-apa selalu diatur pengeluarannya sampai hidupnya makan hati karena punya suami seperti itu, sudah suaminya pelit istrinya itu dilarang bekerja oleh suaminya. Ada juga perempuan yang nasibnya sebagai tulang punggung keluarga karena suaminya walau bekerja penghasilannya pas-pasan lebih kecil dari pada penghasilannya.

Kalau nasib kita seperti itu jangan pernah ngiri pada teman kita yang hidupnya lebih bagus dari kita dan membandingkannya. karena hidup manusia rejekinya beda-beda walau kita sudah berusaha keras nggak selalu sama jadi besyukurlah dengan apa yang kita miliki, jalanin hidup apa adanya dan selalu positif jangan tergiur oleh gaya hidup lingkungan kita. Dan sebaiknya kita sebagai perempuan harus bisa menjaga perasaan perempuan lain jangan pernah mau dipoligami atau merebut suami orang hanya karena ingin status atau harta. Masih banyak laki-laki bujangan di luar sana dan harta kita bisa cari sendiri tanpa harus menyakiti perempuan lain dengan memacari suami orang.

suami-orang

Hidup sendiri jadi perawan tua atau janda lebih terhormat daripada punya status tapi laki-laki itu sebenernya sudah milik orang lain. Bagaimana seandainya terjadi pada anak dan cucu perempuan kita kalau suatu saat suaminya direbut perempuan lain? Walau jatuh cinta memang nggak bisa dilarang tapi ketika kita jatuh cinta kalau logika yang bicara lebih dulu dari pada perasaan kita pasti kita bisa mengatasi rasa jatuh cinta itu agar tidak terlanjur makin dalam bukan hanya diri kita saja yang tersakiti tapi banyak oranglain yang akan tersakiti oleh ulah kita itu. Bukan begitu?

 

About Audry Djayasupena

Dulu dikenal dengan nama La Rose Djayasupena, kemudian menggunakan nama Pingkan Djayasupena dan sekarang menjadi Audry Djayasupena. Tinggal di Negeri Kincir Angin. Pemikirannya yang 'progresif' terlihat dari artikel-artikel dan buku-bukunya. Sudah menerbitkan karyanya berupa beberapa buku, di antaranya yang cukup 'sangar' judulnya adalah "Bedroom Fantasy".

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.