Heboh Capres

Wesiati Setyaningsih

 

Tiap kali menjelang PEMILU saya sebal karena orang di sekitar saya pasti sibuk meyakinkan saya kalau pilihan mereka paling baik. Padahal di kemudian hari terbukti semua itu omong kosong.

Saya masih ingat ketika sepuluh tahun lalu PEMILU, saya masih kerja di Kelurahan. Bu Seklur saya sangat mengidolakan SBY. Pokok selain SBY ‘lewat’ semua. Kalau ada orang yang bicara tentang selain SBY, dia marah. Saya sendiri tidak sependapat bahwa SBY itu pilihan yang baik. Alasan beliau memilih SBY juga sangat dangkal : “Orangnya gagah dan ganteng. Liat aja Capres lain, Amien Rais itu apalagi. Sudah jelek, kecil, nggak gagah. Nggak pantas jadi Presiden!”

Lah, apa hubungannya Capres dengan bentuk fisiknya? Gus Dur juga tidak gagah. Tapi dia Presiden yang baik menurut saya. Bahkan Presiden lain yang gagah saja tidak sehebat dia. Cuma sebagai orang yang malas ribut, saya tidak ingin dibentak-bentak hanya karena pilihan saya tidak sama dengan dia.

Soalnya saya pernah melihat sendiri ketika ada pengurus RW datang ke kantor karena satu urusan, lalu berlanjut dengan ngobrol tentang Capres. Beliau ini pendukung Amien Rais dan sempat menjelek-jelekkan SBY. Tanpa kami duga Bu Seklur itu langsung menukas dengan ganas. Saya dan teman-teman lain awalnya kaget, lalu saling pandang, selanjutnya tersenyum tertahan karena memang sudah tahu karakter teman kami satu ini.

Setelah kejadian itu kami tahu sama tahu saja. Apapun pilihan kita, kita cuma berani terbuka satu sama lain kalau tidak ada Bu Seklur. Kita bahkan bercanda,

“Jangan sampai kedengaran Bu Sek, nanti dimarahin kaya Bapak yang kemarin.”

Lalu kita tertawa bersama mengingat kejadian itu.

 

Sementara itu Ibu saya sibuk meyakinkan kalau Amien Rais itu yang paling hebat. Pokok semua orang di rumah harus milih Amien Rais. Agak repot juga karena di kantor ada yang tidak bisa dengar nama selain SBY, padahal di rumah ada yang tidak bisa mendengar selain Amien Rais. Masing-masing merasa dua orang itulah yang paling bisa membawa kebaikan bagi negeri ini.

Akhirnya SBY yang jadi presiden. Dan sepanjang pemerintahannya banyak hal yang menunjukkan bahwa beliau kurang tegas dalam mengambil keputusan. Saya jadi teringat kata Bu Seklur waktu itu tentang kegagahan beliau, nyata terbukti bahwa kegagahan tidak ada hubungannya dengan kapabilitas seseorang. Apalagi untuk menjadi Presiden.

Dan waktu juga menunjukkan Amien Rais juga tidak sehebat yang dikira Ibu saya. Jadi semua kecele. Haha…

heboh capres 2009

 

Sekarang, ketika menjelang PEMILU, kita punya Jokowi yang penampilannya jauh berbeda dari SBY. Kalau SBY gagah dan tampan, maka Jokowi kerempeng dan ‘rai ndeso’ (wajahnya seperti orang desa). Orang mulai menggilai sesuatu yang berbeda ini, ditambah dengan strategi Jokowi yang merakyat dan itu hal yang baru dan mampu menarik hati rakyat.

Masih berkutat dengan fisik, masalah ‘wajah ndeso’ ini bahkan dijadikan salah satu keunggulan Jokowi oleh salah timses-nya di Mata Najwa. Dia mengatakan, “Saya yakin Jokowi akan menang karena Jokowi itu wajahnya ‘ndeso’, dan hampir semua orang Indonesia itu wajahnya ‘ndeso’, kaya saya.”

Lah, dulu orang bilang SBY harus jadi Presiden karena dia gagah dan tampan. Sekarang sebaliknya. Haha..

Begitulah orang sedang tergila-gila pada ‘ke-ndeso-an’ Jokowi dan cara-cara dia yang sangat orisinil dengan gaya blusukannya. Selama ini belum pernah ada pemimpin daerah yang mau datang dan menangani sendiri masalah yang terjadi di daerahnya, tapi Jokowi menunjukkan bahwa dia sangat peduli.

Saya tidak meragukan kebaikan Jokowi sebagai Walikota atau Gubernur. Tapi sebagai Presiden yang mana nanti dia akan dikelilingi kelompok orang yang penuh kepentingan, saya tidak yakin dia bisa sebebas ketika menjadi Kepala Daerah. Nah, Ibu saya termasuk pengagum Jokowi sejak beliau menjadi Gubernur. Maka ketika Jokowi dicalonkan jadi Capres, Ibu saya girang luar biasa. Harapan membuncah agar Jokowi menang. Saya sendiri melihat Cawapres yang mendampingi Jokowi ternyata adalah ‘pemain lama’, jadi kurang antusias. Cuma saya malas berargumen dengan Ibu saya.

Di rumah, suami relatif tidak terlalu ribut dengan urusan capres ini. Dia mau pilih siapa dan saya mau pilih siapa, bukan hal yang pantas untuk dijadikan bahan pembicaraan. Kami malah lebih sering membahas anak-anak, aliran air yang mati, atau menu makan hari itu. Hidup berjalan apa adanya tanpa mesti direcoki masalah Capres-Cawapres.

Sementara di kantor, teman-teman terbagi menjadi mendukung Prabowo-Hatta, ada juga yang mendukung Jokowi. Maka hebohlah pembicaraan tentang PEMILU menjadi perdebatan antara pendukung Jokowi-JK dan pendukung Prabowo-Hatta. Kalau ada satu orang yang memancing pertanyaan tentang presiden pilihan mereka, maka perbincangan akan segera menghangat.

Saya diam saja karena tidak tertarik dengan pembicaraan macam itu. Pengalaman membuktikan, sudah capek berdebat ternyata Capres yang kita puji-puji tidak sebaik harapan ketika sudah menjadi Presiden. Jadi saya tidak ikut bergabung dalam perbincangan.

Saya pikir dengan diam saja dan tidak menunjukkan pilihan saya, saya sudah selamat dari ‘kampanye’. Perkiraan saya salah ketika teman sebelah bertanya,

“Dik, ini ya cuma tanya saja ya, besok adik mau milih siapa?”

Alarm peringatan berbunyi.  Ini pertanyaan pancingan, pikir saya. Biasanya setelah saya sampaikan pilihan saya, kalau ternyata pilihan saya berbeda dengan si penanya, maka akan ada bujukan untuk berubah haluan.

Jadi saya katakan, “Belum tahu, Bu. Gimana nanti saja. Kan masih lama.”

Memang waktu itu masih awal Juni, masih sebulan lagi. Jadi saya masih bisa ngeles dengan mengatakan itu. Tapi beliau tidak puas dengan berhenti di situ.

“Ini cuma sharing aja ya, Dik. Kita ini kan orang Islam. Kalo bisa ya pilih yang pendukungnya Islam lebih banyak.”

Saya mengerutkan kening. Maksudnya siapa, nih? Pikir saya lagi.

“Kalo orang Islam ya pilihnya Prabowo, Dik. Pendukungnya banyak yang Islam.”

 

pilpres2014

Gubrak! Beruntung bel berbunyi dan saya harus mengajar jadi saya menghindar.

Ternyata saya bukan satu-satunya ‘target kampanye. Ketika ada tamu dari penerbit yang menawarkan buku, beliau juga mengatakan hal yang sama. Saya yang mendengar si Mas dinasehati panjang lebar untuk memilih Prabowo-Hatta, hanya bisa menahan tawa dalam hati.

 

Kalau saya sih, siapapun yang dipromosikan pada saya, rasanya saya punya pilihan sendiri dan tak perlu orang lain tahu.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *