Cina Khek di Singkawang

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Cina Khek di Singkawang

Penulis: Hari Poerwanto

Penerbit: Komunitas Bambu

Tebal: 468

ISBN: 978-602-9420-43-8

cina khek di singkawang

Persoalan belum padunya masyarakat keturunan Tionghoa sebagai bagian dari warga negara Indonesia masih menjadi sebuah keniscayaan. Dua konsep besar pernah (dan masih relevan) ditawarkan untuk mengurai permasalahan ini. Konsep pertama adalah konsep integrasi. Konsep ini menawarkan supaya keturunan Tionghoa diterima apa adanya, termasuk bahasa, budaya dan agamanya menjadi bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Dengan demikian maka Tionghoa akan bisa membaktikan dirinya bagi Ibu Pertiwi bersama-sama dengan suku lainnya. Konsep kedua adalah konsep asimilasi, dimana keturunan Tionghoa harus melebur ke suku-suku dimana mereka tinggal. Orang Tionghoa harus mulai meninggalkan budaya, bahasa dan agamany dan menyatu dengan budaya, bahasa dan agama suku setempat dimana mereka tinggal. Kedua konsep ini pernah beradu dengan sangat sengit.

Sejak era Orde Baru, konsep asimilasi lebih dikedepankan oleh negara. Bahkan negara mengkondisikan (baca: memaksa) sehingga orang Tionghoa mau tidak mau meleburkan dirinya ke suku setempat. Upaya “anjuran berganti nama”, pelarangan sekolah-sekolah berbahasa Tionghoa, pelarangan ibadah dan budaya Tionghoa dirayakan di tempat umum adalah bukti pengkondisian tersebut. Namun upaya-upaya Orde Baru tersebut bukanlah upaya yang mudah mencapai hasil. Sebab budaya, bahasa dan agama adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sebuah masyarakat.

Sebagai sebuah buku yang dipersiapkan dengan sangat baik dan teliti, buku ini memberi informasi yang sangat banyak tentang proses asimilasi keturunan Tionghoa di Indonesia, khususnya di Singkawang. Buku yang ditulis selama 15 tahun ini memang menggunakan pendekatan asimilasi untuk menyelesaikan masalah Tinghoa di Indonesia. Buku ini mengungkap fakta kekurang-berhasilan pendekatan asimilasi di kalangan orang Khek di Singkawang.

Berbeda dari keturunan China di Jawa yang pada umumnya adalah pedagang, China di Singkawang kebanyakan berasal dari para penambang emas. Untuk menunjang pertambangan emas tersebut, komunitas China di Singkawang juga berusaha pertanian. Bersamaan dengan semakin menurunnya hasil tambang emas, mereka beralih menjadi pedagang atau pekerja. Perbedaannya dengan Tionghoa di Jawa yang menjadi minoritas di komunitasnya, Tionghoa di Singkawang dari sejak datang hidup dalam kelompok besar. Itulah sebabnya budaya, bahasa dan ritual-ritual yang dijalani relatif lebih kuat dibanding dengan keturunan China di Jawa.

Karena kondisi khusus tersebut, maka pemerintah (Orde Baru) juga melakukan upaya-upaya yang “lebih keras” untuk mengasimilasikan mereka. Upaya-upaya yang telah dilakukan diantaranya adalah membuat aturan komposisi murid sekolah dasar sampai dengan SMA. Di setiap sekolah/kelas anak-anak keturunan Tionghoa harus menjadi minoritas. Hal ini tidak mudah, karena mereka hidup berkelompok, sehingga ada banyak siswa yang harus mencari sekolah yang sangat jauh dari rumahnya. Akibatnya, mereka memilih untuk tidak sekolah daripada harus sekolah terlalu jauh. Upaya lain adalah pelarangan penggunaan bahasa Tionghoa di toko-toko. Pemerintah mewajibkan semua toko memasang plakat yang berbunyi: “Wajib berbahasa Indonesia di Toko Ini”. Plakat tersebut harus dibeli. Apa yang terjadi? Tentu saja kewajiban membeli plakat tersebut dilakukan dengan patuh oleh para pedagang. Namun mereka tetap saja menggunakan bahasa Tionghoa saat di toko. Malah aturan ini menimbulkan korupsi dan pemerasan. Harga plakat menjadi sangat mahal (karena korupsi) dan toko yang tidak memasang plakat dianggap tidak taat hukum.

Selain cara-cara khusus tersebut di atas, cara umum juga diterapkan, misalnya aturan ganti nama, aturan untuk memiliki Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SBKRI). Seperti yang terjadi di tempat lain, pengurusan surat-surat kependudukan ini juga berakibat pada pemerasan pejabat kepada masyarakat Tionghoa. Pengurusan surat-surat tersebut sangat sulit jika dilakukan tanpa menyogok.

Asimilasi baru bisa terjadi apabila dilakukan dengan penuh kesadaran. Asimilasi harus dilakukan oleh kedua belah pihak. Proses asimilasi yang dikreasi jelas tidak akan berhasil. Asimilasi harus bermula dari simpati dari kedua belah pihak. Buku ini memberi bukti yang nyata akan kegagalan kreasi asimilasi tersebut. Paksaaan untuk berasimilasi, apalagi dilakukan oleh aparat yang korup, bukannya menghasilkan simpati, tetapi malah menimbulkan kebencian yang semakin mendalam.

Pada bagian akhir dari buku ini, penulis memberikan rekomendasi untuk mempercepat asimilasi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Buku ini tidak mengkritisi paham asimilasi. Sehingga rekomendasinya masih tetap dalam kerangka asimilasi. Rekomendasi yang dibuat dalam kerangka paham asimilasi ini tentu saja kurang memuaskan. Betulkah kekurang-paduan masyarakat Tionghoa di Indonesia hanya bisa dibereskan melalui paham asimilasi? Apakah tidak ada cara lain yang perlu dicoba?

Selain dari pembahasan tentang proses asimilasi yang tak terlalu berhasil di masyarakat Singkawang, buku ini juga memberikan informasi yang kaya tentang persoalan Tionghoa di Indonesia, paham integrasi dan paham asimilasi. Karena buku ini menggunakan masyarakat Khek di Singkawang, maka buku ini juga memuat sejarah Tionghoa di Singkawang. Sejarah Tionghoa di Singkawang memang penuh liku, bahkan sempat membuat Republik Lanfang dan Pasukan Gerakan Rakyat Kalimantan Utara (PARAKU) yang akhirnya harus berhadapan dengan ABRI.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *