“What Good is A Love Affair, When You Can’t See Eye To Eye?” (Part 2)

Pratiwi Setyaningrum

 

Artikel sebelumnya:

“What Good is A Love Affair, When You Can’t See Eye To Eye?”

B. Ikatan-Ikatan (“What Good is a Love Affair, When You Can’t See Eye to Eye?)

Saya pernah berjanji untuk melanjutkan kisah ini. Mohon maaf musti menunggu sampai lama. Dan, setelah butir A. Yang Pernah Ada dan Sekarang Hilang, maka sekarang, selamat memasuki butir B: Ikatan-ikatan.

—————————-

 

“What good is a love affair, when you can’t see eye to eye?”

Kalimat dari lagu hit pada 1972 “If You Don’t Know Me by Now” karya Kenny Gamble dan Leon Huff, dan yang kemudian dinyanyikan kembali oleh Simply Red dan menjadi hit di 1989 ini, bagi saya sangat kena dengan apa yang saya perbincangkan bersama seorang teman di pelataran TIM –Gedung Taman Ismail Marzuki – Jakarta Pusat– di bawah naungan bias purnama hampir jadi, kemarin malam. Kami membincangkan tentang kisah cinta dari pelaku pertemanan di dunia maya, dalam hal ini media sosial Facebook.

Ya saya tahu ini sudah bahan bahasan basi, kerna fenomena multi simpul / tali bundet percintaan di dunia satu ini sudah seolah dimafhumi. “Sudah seolah”, bukannya seolah sudah, kerna sesungguhnya, saya yakin, dari batin terdalam, orang-orang ketar-ketir alias was-was, berharap anggota keluarganya tak ada yang terlibat dalam bundetannya.

Saya ingin berbagi cerita mengenai hal ini, setelah menjadi anggota facebook sejak dua ribu sembilan. Setelah bertemu dan mengenal, langsung maupun hanya hasil chat. Setelah memikirkannya baik-baik, baik sendiri maupun bersama teman lain. Saya ingin membahas latar belakang emosi yang bergejolak di sana.

 

B. IKATAN-IKATAN

Bab I : Tubuh-tubuh yang Terluka

Aku selalu menyadari, bahwa bukan cinta itu sendiri yang menjadi pelaku pembantaian di dalam hati. Namun, kegentaran diri menghadapi lagi sejuta wajahnya di setiap kedip mata itulah pembunuh nomor satu di dunia. Dan, entah bagaimana, tiba-tiba saja aku berakhir terkapar, di tampilan wajah tergelapnya. Bergelimang darah. Sementara cinta yang kupunya, berayun merah. Di sana. Di aku yang tersisa. Meluap menggapai-gapai. Menanti kesempatan menuangkan kasih sayang. Menjerit-jerit.

***

“Ra, lebih baik kau ceritakan saja kepadanya.”

“Ceritakan apa, Rum?”

“Masa lalumu!”

“Pada Bandung?”

“Ya!”

“Lantas apa yang akan terjadi, menurutmu?”

“Setidaknya dia lantas memahami perubahan sikapmu, Ra!”

“Lantas? Demi aku, rela berhenti menikmati perhatian dari Trini? Dan yang lain? Atau, melepas kemungkinan mendapatkan yang terbaik di antara kami? Rum, lelaki luka seperti Bandung bukankah di mana-mana sama?”

“Apa maksudmu?”

“Lelaki seperti dia akan ketakutan menjatuhkan cintanya sama takutnya dengan kehilangan seluruh perhatian itu. Seperti juga aku..”

“Kau berlebihan Ra..”

“Hahaha Tidak, Rum. Inilah kenyataannya, bukan? Sepersetan apapun kami pada dunia, hati kami kini serapuh bejana kaca”, sergah Rara, sambil terus mengamati orang-orang lal-lalang di trotoar Mall, di depan restoran Seven Eleven depan Blok M Plaza, tempat keduanya makan siang.

Serasa teriris, dengan hati pedih Arum menekuri wajah Rara, gadis yang penuh perhatian dan kasih sayang. Sahabatnya sejak lima tahun lalu. Topeng ceria gadis itu retak sudah. Sepertinya dia tak menyadari, garpu di tangan kirinya terus bergerak menggulung Mi Goreng di piringnya hingga membulat. Lalu jemari itu bergetar. Pandangan Arum kembali naik ke wajah Rara. Sebutir air melerengi pipinya.

“Lalu apa yang akan kau lakukan, Ra?”

“Aku? apalagi yang bisa kulakukan?”, lirih Rara. Arum terdiam. Terlalu kelu untuk melanjutkan pertanyaannya. Dia tahu pasti, apa yang akan dikatakan sahabatnya itu jika ia memaksanya. Sahabat yang telah dikenalnya dengan baik.

“Ya Arum, kau menunduk kini. Kau pasti bisa menebak jawabku, bukan? Bisaku hanyalah memberi cinta ini kepada yang membutuhkan, Rum. Selama betul-betul membutuhkannya..” lanjut Rara dalam hati.

Keduanya kembali memandang ke luar jendela, pada dedaunan yang menari.

 

Bab II. Kejahatan Manis

Aku tak akan menanyakan kepadamu mengapa tak mencabut pisau yang kau tancapkan di jantungku, sekedar memastikan  : kepedihan itu mengajariku mengejarmu.

Aku tak akan mengaku mengapa kau belum berhasil mengeja dengan tepat atas kesalahan-kesalahan yang kau temukan di lengkung bibirku

Ketika kepedihan kurasakan dari setiap luka—adalah sebuah pilihan.

Aku belum jemu, sayang. Kita adalah apa yang kita lakukan. Mengagenda ulang pagelaran kejahatan manis penuh gairah di tiap tajam menancapnya pisau

Apalagi saat kutahu kau menghadapi sebentuk geram yang sama.

—————

Aku tak biasa menulis buku harian.

“Perempuan sekali”, kata Musa, teman SMA ku.

Maka segala pengalaman batin serta uneg-uneg aku tumpahkan dalam bentuk Cerpen-cerpen -dengan sedikit memanipulasi kisahnya di sana-sini agar tak terlalu nyata curhat- yang kukirim teratur ke majalah-majalah dan surat kabar. Sekedar luapan emosi yang lumayan menambah uang saku. Itu dulu. Namun akhir-akhir ini, salah satu perempuanku memintaku kembali menulis Cerpen. Kata Rara -nama perempuan itu-, aku seharusnya adalah seorang penulis, bukan bussinesman. Maka menulislah. Setidaknya hal itu akan sedikit menenangkan kegundahanmu di saat sendirian. Itu sarannya. Maka tanpa kusadari hobby lama ini kumulai lagi. Asyik juga.

Malam ini tak ada angin. Udara kering dan panas meski telah menjelang dentang 12 malam.  Tak ada jengkerik. Tak ada kepodang. Hanya degup jantungku dan alunan ayat al Qur’an serta terjemahannya di laptop, menemani pertengkaran rutinku dengan teman batinku. Didampingi segelas kopi tinggal separuh –yang telah lama dingin- dan satu pak rokok putih. Tersisa lima batang. Sementara Istri dan ketiga putriku –yang makin lama makin terasa asing bagiku- pasti telah lelap di kamar masing-masing.

Pasti telah mengerut keningmu saat kukatakan ‘salah satu perempuanku’ sementara aku juga mengatakan tentang ‘Istri dan anak-anakku’. Memang benar! aku takkan ingkar. Namun jangan lupa, bukan aku yang meminta mereka datang, dan menyayangiku begitu rupa. Perempuan-perempuan itu.

Bandung yang sekarang, hanyalah seonggok tubuh, dengan ratusan kata-kata ‘galau’ tertancap di setiap inci kulitnya.

Urusan rencana perceraian yang telah pelan-pelan kupersiapkan dan yang makin dekat itu begitu menghabiskan energi dan percaya diriku. Istri yang meledak-ledak dan curigaan, Anak-anak perempuanku, yang lebih memilih bersama Ibunya, lantas bisnis, yang entah bagaimana seperti ikut-ikut marah kepadaku. Teman-teman dekatku, yang tak setuju dengan perselingkuhan-perselingkuhanku, satu persatu mulai meninggalkanku. Membuat semua menjadi nyaris tak tertahankan. Aku ingin lari.

Aku ingin meyakinkan diri bahwa aku masih layak dicintai. Damned it! Can’t you see? I am the victim here!  Lalu, bidadari-bidadari itu menghampiri. Satu demi satu. Sungguh. Ini entah anugerah atau kutukan. Sementara Ibu dari anak-anakku itu masih menanggung namaku. Masih istriku. Dan aku, musti bergerak hati-hati jangan sampai membuatnya mencurigai sepak terjangku di luar rumah. ia tak boleh mengendus setitikpun tentang bidadari-bidadariku. Aku musti terus berlagak memujanya, berlagak menjadi pasangan hidup penuh cinta penuh dedikasi. Aku telah menikahimu dengan jiwaku. Hanya kaulah wanita yang aku cinta di dunia ini, sayang, Ibu dari anak-anakku. Bagiku, kaulah semesta! Ah. Tai kucing. Aku sampai lupa, sejak tahun kapan rasa cinta itu mulai memudar dan akhirnya lenyap.

Bidadari-bidadari kiriman dari Surga, demikian istilahku bagi mereka. Sementara cinta mereka begitu tulus, berusaha mengerti situasiku –berdasarkan penderitaan hidup versiku bagi mereka-, dengan  berbagai cara mencoba ‘menenteramkanku’. Aku tak sanggup mengecewakan mereka. Aku menyukai perhatian-perhatian lugu itu. Aku puas jika bisa membahagiakan mereka. Aku menipu. Aku mendua, mentiga, meng-empatkan mereka semua. Aku tahu aku salah, sengaja mengambil hati mereka di awal mulanya. Bagaimana tidak. Begitu indah rasanya bila kau di dengar, disayang, dipandang dengan tatapan memuja, perempuan-perempuan yang sepenuhnya bergantung padamu.. Hah. Membuatku tak sanggup melepas semua perhatian itu atau memilih satu diantaranya. Lagi pula. Aku butuh! Aku butuh!

Aku tahu aku tamak. Menuntut perhatian dari mereka semua. Bandung yang sekarang adalah penjahat hati. Kanibal hati yang rakus.

‘Kau puas dengan itu?” tanya batinku pedas.

Menghadapi semua ini, aku lelah. Sungguh, kadang aku begitu ingin mempersetankan semuanya. Tapi tak bisa! Huwa!

“Lalu mabuk-mabukan? Ngobat? Seks bebas? Itu? juga dengan alasan lelah?”

Tentu saja! Tapi hey, aku selalu lembut dengan bidadari-bidadariku! Jawabku asal-asalan.

Hm, sebentar lagi waktu sahur tiba. Mata belum juga terpejam. Dan di depanku, huruf-huruf  di layar laptop itu menari-nari. merubungi mataku.

Saat ini, biarlah. Biarlah semua menjadi proses. Aku butuh waktu. Aku tak ingin gegabah lagi. Biarlah mereka datang dan pergi aku tak peduli. Biarlah bila menyisakan satu yang paling mengerti aku. Atau pergi semua mungkin itulah yang terbaik.

“Kau sungguh menjijikkan. Mau sampai kapan?”

Hingga hari perceraian kami resmi selesai. Aku masih ragu, apa baiknya aku yang mengajukan atau kubuat gara-gara agar istriku yang mengajukan gugatan cerai? Ah, entahlah. Mungkin,  hingga nafas tak lagi betah. Aku tak peduli.

“Hey Bandung, apakah semua pledoi ini lantas membenarkanmu untuk menyakiti mereka seperti itu? Ingatlah, Anak-anakmupun perempuan, bagaimana jika anakmu diperlakukan seperti itu? Ingat karma Bandung! Kamu memang hopeless!“ bentaknya lagi. Menusukku telak.

Ya. Aku, Bandung Bandawasa, mungkin memang begitu. Entahlah.

Yang kutahu, malam ini seluruh tubuhku berdesing..

 

Bab III. The Moment of Truth, or Not?

Tidakkah kau sadari, bilamana malam menertawai kebodohan bumi

maka udara menjelma raksasa?

Berai! Berai! Aku butuh berpegangan!

——————————

‎”Rara, kau kenapa? sini duduklah dulu, nih kursi. Imbas acara lounching buku kemarin ya? Masih capek kah?”

“Dingin, Rum, gak tau, tiba tiba sekujur tubuhku tersiram dingin”

“Ah, pasti kerna SMS yang diterima mas Bagdja tadi malam. Sejak itu kau begitu diam. Apa katanya?”

“Katanya dia ditanya, apa kabar pacarnya itu..”

“Pacar? maksudmu Bandung?”

“Mereka berteman, Rum, dan mengakui pacaran.. Mungkin diseluruh dunia ini hanya aku yang tak tahu. Terpedaya

“Lalu apa yang dibisikkan Yeni saat itu?”

“Dia bilang katanya mas Bagdja, itu pacar Bandung. Katanya ia sering menanyakan ikhwal mereka. Kau kenal?”

“Kau jawab apa?”

“Aku lupa. Sepertinya aku menyebutkan satu nama, dan yeni menjawab jadi kau tahu namanya? Dan kujawab, yah siapa lagi..”

“Rum, malam itu lantas saja jadi begitu sempurna. Kelam. Sampai ke tulang.”

Rara membentangkan kedua tangannya ke arah langit, menantang matahari dengan wajahnya yang pias. Sekuat tenaga ingin menyingkirkan hawa dingin itu selamanya. Enyah. Namun tubuhnya mengkerut. Beku. Arum, sebaliknya, berkutat sendiri dengan emosi yang kian tinggi. Kepalan tangan yang tertahan di sisi tubuhnya memutih. ketat. Hingga sakit. Angin kemarau yang kering, menggugurkan daun daun membentuk tirai kecoklatan, nukik ke tanah. Ranting ranting. Berderak. Debu berterbangan.

“Mengingatnya sekarang, hawa dingin itu datang lagi, Rum. Tak mau pergi.”

“Sabar ya Ra..”

“Lantas, Rum.. Apa arti dari kata -aku mencintaimu-nya itu? Atau apakah begitu cepat berubah pikiran dalam satu minggu? Bisakah kau bayangkan?”

“Minum ini dulu, Fruit tea gak dingin kan? Nih. Sudah.. tenanglah dulu”

“Aku berjanji Rum, aku telah berjanji takkan meninggalkannya. Lalu bagaimana ini? Aku tiba tiba merasa menjadi pengganggu.”

“Pasti ada cara lain, say.. cara terbaik bagi hatimu. Ketenanganmu. Ayolah.. Aku tahu kau bisa menghadapi ini”

“Aku menyerah saja ya Rum?”

“Jika itu bisa membuatmu tenang, Ra”

“..”

 

(Tidakkah kau sadari, Bandung, bilamana malam menertawai kebodohan bumi maka udara menjelma raksasa? Setiap kali itu pula tubuhku merasakan dingin yang menusuk. Dan jantung lupa berdegup. Setiap kali itu pula aku merasakan kehilangan yang aneh. Terasa, namun tak terbaca. Setiap kali itu pula aku memejamkan mataku sedikit terlalu erat.

Berai! Berai! Aku butuh berpegangan!)

 

bersambung…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.