Kesetiaan

Handoko Widagdo – Solo

 

Apakah ada kesetiaan yang lebih murni daripada menetapi darma?

 

Gerimis pagi itu masih tersisa. Bahkan mega yang mewujud dalam bentuk kabut dengan pongah menghalangi Hyang Surya yang berkewajiban menyapa bumi. Sungai Gangga mengalirkan air yang semakin keruh karena membawa lumpur dari hulu. Seluruh tubuh Kunti telah basah dan menggigil. Hujan deras sepanjang malam itu membuat kulitnya mengkerut dan bibirnya bergetaran. Tangannya membekap jarik yang membungkus kaki yang berderak. Rasa lapar sudah tak diingatnya lagi. Semua tubuh seperti telah membeku, kecuali mata yang tetap waspada memperhatikan sesosok raga yang diam. Sesosok raga yang diam itu adalah raga Karna, si anak yang selama ini telah diabaikannya.

Mata Kunti berkilat saat melihat tubuh Adipati Karna bergeming. Semua kekuatan seakan kembali ke tubuh Kunti. “Angger anakku Karna, terima kasih sudah bersedia untuk mengakhiri samadimu. Temuilah Ibumu ya Karna,” Kunti segera bergegas mendekati tubuh Karna yang mulai bangun.

Karna yang sudah mulai kembali kesadarannya, terkejut ketika didapatinya seorang perempuan menggigil kedinginan. “Siapakah gerangan Eggkau hai perempuan? Apakah aku mengenalmu? Oh…ternyata Kanjeng Bibi Kunti. Sembah sujudku bagi Bibi.” Airmata Kunti langsung terurai. Airmata yang sudah ditahan-tahannya itu tak mampu lagi dibendungnya. Jantungnya terasa diremat. Ucapan bibi yang keluar dari mulut Karna seakan sebilah anak panah yang terlontar dan menancap di ulu hatinya.

 

Keisengannya memanggil Sang Bathara Surya yang membuahkan bayi saat dia masih perawan membuatnya malu. Meski Sang Bathara Surya membantunya mengeluarkan jabang bayi melalui telinganya, sehingga keperawanannya tidak ternoda, tetap saja, bayi itu adalah aib baginya. Sampah yang mengalir bersama keruhnya Sungai Gangga berubah wujud menjadi keranjang berisi bayi yang mengalir di Sungai Aswa. Saat itu dia juga berurai airmata. Namun rasa malu mengalahkan cintanya kepada sang jabang bayi. Sehingga diletakkannya sang jabang bayi dalam keranjang dan melarungnya di Sungai Aswa.

Kini airmata yang sama terurai kembali. Bayangan bayi yang menangis kedinginan di atas keranjang mengejawantah di depannya dalam bentuk satria gagah perkasa. Satria yang memanggilnya bibi. “Oh anakku. Karna anakku. Sesungguhnya aku bukanlah bibimu. Aku adalah ibumu. Maafkah Ibunda Nak, karena ibunda telah berdosa. Ibunda telah membuangmu saat engkau masih bayi. Ibunda saat itu begitu malu karena mengandung saat belum krama.” Kunti melangkah tiga jangkah. Dia bersimpuh dan memeluk erat kaki Karna. “Oh Bibi, berdirilah. Tidak patut bibi berlutut di depanku. Bibi adalah junjunganku. Seharusnya akulah yang harus berlutut kepada Bibi.” Guntur menggelegar tepat di jantung Kunti. Ucapan bibi dari mulut Karna yang belum berubah seakan meruntuhkan semua kekuatannya yang masih tersisa. “Panggil aku bunda Nak. Panggil aku bunda,” isak Kunti terlontar bersama dengan kekuatan arus Sungai Gangga yang membawa lumpur dari hulu. “Aku ini ibumu Nak.”

“Baiklah Bibi. Aku akan memanggilmu Bunda.” Karna mengangkat tangan Kunti supaya Kunti berdiri. Dipeluknya tubuh perempuan yang sudah menggigil kedinginan. Direngkuhnya wajah perempuan yang sudah tanpa darah. Perempuan yang cantik ramping itu berbeda dengan tampilan Nyi Adirata yang gagah perkasa. Perempuan yang selama ini dia panggil dengan sebutan biyung Radha, Perempuan yang menggendongnya di dapur saat menanak nasi. Perempuan yang memandikannya di tepi sungai Aswa bersama dengan kuda. Kini Karna berhadapan dengan perempuan lain yang harus dipanggil Bunda. Perempuan ningrat nan ayu. Perempuan yang tak layak tangannya tersentuh pisau dapur . Perempuan yang matanya tak boleh tersengat pedasnya bawang merah.

Dekapan lengan kuat Karna mengingatkan Kunti akan peristiwa adu panah. Saat Karna diejek sebagai anak kusir dan tak layak bertanding dengan Arjuna, ksatria pandawa, Kunti hampir saja membelanya. “Dia adalah anakku. Anak Sang Bathara Surya,” kalimat itu sudah meluncur di tenggorokannya dan menyentuh bibirnya. Namun rasa malu menghalangi bibirnya untuk membuka. Gejolak batin yang begitu hebat membuatnya tumbang, pingsan dalam pertemuan. Rasa cinta dan rasa malu bertanding hingga berdarah-darah. Sampai akhirnya rasa malu itu menggagalkan ucapan yang bisa mengakhiri kesedihan yang menumpuk dalam kalbunya. Kini lengan kuat itu bahkan merengkuh tubuhnya. Pengakuanpun sudah disampaikan. “Oh anak Sang Surya. Ribuan terima kasih aku ucapkan karena engkau sudah bersedia memanggulku Bunda. Ampunilah ibumu yang selama ini mengabaikanmu,” pelukan Kunti semakin erat.

Pelukan itu tak membawa rasa bagi Karna. Berbeda dengan usapan jari-jari kasar biyung Radha yang menyeka keringatnya saat dia terserang demam. Jari-jari biyung Radha yang mengoleskan parutan bawang merah yang dicampur jahe mampu membawa pertalian batin. Sementara jari-jari pucat Kunti tak membawa rasa. Namun bagaimanamun perempuan rapuh yang sekarang ada di pelukannya adalah ibunya. Ibu yang menyumbangkan darah kepadanya.

“Karna anakku, anak Sang Surya. Kini engkau telah kembali. Engkau adalah sulung dari kelima saudaramu Pandawa. Kita berkeluarga anakku. Di nadimu mengalir darah yang sama. Darah Wangsa Yadawa. Ayolah kembali kepada kami. Menyeberanglah mendukung saudaramu ya putra Surya.”

Panas dingin badan Karna. Ibu? Apakah artinya seorang ibu jika dia tidak melindungi sang jabang bayi, bahkan membuangnya karena malu? Apakah artinya ibu jika dia tak berani membela anaknya? Apakah bisa disebut durhaka jika anak tak mematuhi ibu yang tak mengurusnya? Namun dia adalah ibu yang melahirkanku. Meski kelahiranku tidak lewat gua garba, melainkan lewat telinga. Oh Dewa Bathara, kenapa engkau membiarkan bayi yang telah dibuang itu tetap hidup? Mengapa engkau mempertemukanku dengan perempuan yang menjadi ibuku?

“Maafkan daku Bunda. Aku tak bisa mengingkari budi. Engkau memang ibu yang melahirkanku. Namun Kurawalah yang menjalankan darma seorang ibu bagiku.”

“Baiklah anakku. Jika engkau tak bisa menyeberang dan membela saudaramu pada Pandawa, setidaknya urungkan niatmu untuk menjadi panglima perang. Arjuna telah ditunjuk menjadi panglima dari Indraprasta. Engkau akan menghadapi saudaramu sendiri jika engkau memimpin bala Kurawa anakku. Ibu akan kehilangan salah satu dari kalian. Bunda mencintai Arjuna. Sama besarnya cinta Bunda kepadamu juga. Selama ini bunda telah menderita karena terpisah denganmu. Maka janganlah kiranya keluarga yang telah terkumpul ini tercerai kembali anakku. Jangan engkau menoreh luka kembali di hati bunda yang sudah mulai mengering anakku.”

Rentetan kalimat meluncur diantara senyum dan sedu-sedan Kunti mengguncang sanubari Karna. Senyum Kunti mengembang bersama dengan harapan akan luluhnya Karna. Dekapan Karna yang makin erat pertanda bahwa Karna sudah trenyuh hatinya. Karna telah luluh.

 

Dalam diam. Anak dan ibu yang baru saja bertemu itu saling berpelukan. Gerimis telah reda, meski kabut masih menyelimuti pagi. Hawa hangat mengaliri tubuh Kunti. Darah yang tadi membeku di jantung, kini telah kembali mengisi vena-vena di ujung hidungnya yang mancung dan di cuping telinganya yang berhias manik-manik. Terima kasih anakku Karna, ucap lirih Kunti di antara sedu-sedan bahagianya. Urungkanlah niatmu menjadi senapati.

Sementara benak Karna dihujani dengan bayangan-bayangan biyung Radha yang menggendongnya dan penghinaaan yang dihadapinya saat dia ditolak untuk adu panah dengan Arjuna hanya karena dia bukan dari golongan ksatriya.

Dengan suara bergetar, akhirnya Karna bicara. “Bunda, maafkan daku kalau aku harus memilih. Anakmu akan tetap lima jika salah satu dari kami – saya atau Arjuna, harus terbunuh. Aku tak bisa mengkhianati orang-orang yang telah menjadi pengganti ibuku selama ini. Kodrat seorang ibu adalah memelihara dan memberikan kasih sayang. Aku telah mendapatkan makanan dan kasih sayang, bahkan kemuliaan dari Astina. Aku dimuliakan menjadi Adipadi di Awangga yang telah mengubah derajadku dari seorang pekathik-pemelihara kuda, menjadi ksatriya. Dan…dendamku kepada Arjuna tak bisa aku lupakan Bunda. Anakmu itu telah melukai hatiku. Segala kesempatanku seakan tertutup oleh kesombongannya. Jadi, maafkan aku Bunda. Aku tak bisa memenuhi permintaanmu untuk membatalkan niatku menjadi senapati Astinapura.”

Bumi seakan runtuh bagi Kunti. Meski Karna masih tetap mendekap erat, ucapan Karna itu bagaikan muntahan lahar dari kawah Candradimuka. Tubuhnya kembali menggigil. “Karna anakku, tindakan apakah yang perlu bunda lakukan sehingga dikau bersedia surut dari niatmu? Sebutkanlah anakku. Ayo… sebutkan, apa yang mesti bunda lakukan supaya kedua anakku tidak saling bunuh?”

“Bujuklah Arjuna supaya tidak menjadi senapati Bunda. Dengan demikian kami tidak akan saling bunuh di Bharatayudha ini. Jika Arjuna bersedia untuk mengurungkan niat menjadi senapati, mungkin kami tidak akan saling bunuh. Aku siap gugur di medan laga, jika Bunda menghendaki. Namun janganlah Bunda memintaku untuk mengkhianati budi Kurawa yang telah menjadi ibu pengganti bagiku.”

“Jika memang itu caramu menggenggam darma, Bunda tak bisa membujukmu lagi anakku. Karna, engkau telah mengajari Bunda. Di saat banyak orang yang dengan mudah berkhianat, engkau telah memilih untuk setia pada darma. Meski kesedihanku akan kehilangan salah satu dari kalian tak akan terobati, namun aku bangga melahirkan para ksatriya yang menjalankan darma. Kini ijinkan Bunda pergi untuk berkabung. Ijinkan Bunda meratapi nasip dan menjalani kesedihanku anakku.”

Pelan-pelan Karna melepas dekapannya pada Kunti. Dari bibirnya yang pucat memutih terucap kata: “Bunda. Bunda Kunti, maafkanlah daku. Ijinkan aku menjalani karmaku.”

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.