Bakar Tongkang – Mengenang Kedatangan Leluhur di Bagan Siapi-api

Bayu Amde Winata

 

Tambur dan simbal dipukul bertalu-talu, seorang pemuda dengan penutup badan berwarna kuning bermotifkan naga berlari ke arah meja altar. Di depan meja altar, pemuda ini menjura dan memukul-mukulkan bola duri ke tubuhnya, kemudian dia memutar bendera kebangsaan berwarna hitam. Pemuda ini terlihat seperti seorang panglima yang melapor kepada seorang raja. Sembari bergumam dengan dialek Hokkian, pemuda ini terus berkomunikasi pada sebuah tongkang yang berada di depan meja altar.

6

Adegan seperti film silat tahun 70-an ini adalah bagian dari Upacara Bakar Tongkang yang dilaksanakan di Bagan Siapi-api, Provinsi Riau. Upacara Bakar Tongkang adalah ritual yang dilakukan setiap tanggal ke enam belas bulan ke lima atau lebih dikenal dengan Go Gwee Cap Lak oleh masyarakat Tionghoa yang berada di Bagansiapi-api. Ritual ini bertujuan untuk mengenang kembali kedatangan leluhur masyarakat Tionghoa yang mendiami kota Bagan Siapi-api serta merayakan ulang tahun dari dewa/khong yang melindungi masyarakat Tionghoa Bagan Siapi-api, dewa ini bernama Kie Hu Ong Ya.

Alkisah pada zaman dahulu, sekelompok orang Tionghoa dari Fujian, China merantau menyeberangi lautan dengan kapal kayu sederhana. Tujuan mereka merantau adalah untuk mengharapkan kualitas hidup yang lebih baik. Di dalam perjalanan di tengah lautan mereka mengalami kebimbangan, mereka kehilangan arah. Di dalam suasana yang genting, mereka berdoa kepada Dewa Kie Hu Ong Ya yang memang sudah mereka bawa dari awal perjalanan. Mereka meminta petunjuk mengenai di mana kapal akan berlabuh. Di dalam keheningan malam, dewa Kie Hu Ong Ya memberikan petunjuk kepada mereka. Para penumpang kapal ini melihat ada cahaya samar-samar, cahaya ini mirip seperti nyala api. Akhirnya mereka tiba di daratan yang berada di tepi Selat Malaka.

Matahari bersinar dengan terik saat saya berada di Klenteng In Hiok Kong, klenteng yang terletak sejajar dengan pasar induk Bagan Siapi-api ini penuh dengan sesaji. Sesaji yang diletakkan bermacam-macam. Ada yang berbentuk nenas, ada yang berbentuk kapal, ada berupa ayam, dan ada yang hanya jajanan pasar. Di depan meja panjang, terdapat sebuah tongkang besar yang berwarna putih. Di bagian kiri dan kanan dari tongkang penuh dengan hiasan-hiasan yang menggambarkan dua belas shio manusia. Selain dua belas shio, terdapat replika dari delapan belas leluhur komunitas Tionghoa Bagan Siapi-api yang selamat dalam ukuran kecil

7

4

Sehari sebelum tongkang disembahyangkan di samping klenteng, tongkang dipindahkan dari ruko yang berada tepat di sebelah kanan dari klenteng dengan cara diarak. Saat malam hari, dilakukan sebuah ritual untuk membuka penutup yang terbuat dari kain berwarna merah pada bagian buritan tongkang.

1

2

3

Pagi hari di Klenteng In Hiok Kong, Umat Tri Dharma berdatangan silih berganti untuk melakukan sembahyang pagi sebelum ritual bakar tongkang dilaksanakan, asap dupa yang memenuhi bagian tengah klenteng membuat mata saya berair. Menurut Pak Ah Ping yang merupakan salah satu pengurus klenteng In Hiok Kiong, masyarakat Tionghoa yang datang pada festival ini sebagian besar adalah Tionghoa Bagan Siapi-api yang merantau ke luar. Mereka akan kembali khusus untuk mengikuti ritual ini. Saya sempat bertemu dengan salah seorang perantau yang datang dari jauh untuk menghadiri ritual ini, pengunjung tersebut bernama Linda. Dia seorang warga keturunan Tionghoa kelahiran Bagan Siapi-api yang sudah lama meninggalkan kota, “Dari umur tiga tahun saya meninggalkan kota Bagan, sekarang saya berumur 40 tahun. Baru kali ini saya datang dan mengikuti ritual ini.” ujar nya sambil menyusun sesaji di atas meja altar. Masyarakat Tionghoa Bagan Siapi-api percaya pada saat Upacara Bakar Tongkang, dewa Ki Hu Ong Ya akan memberikan berkah yang berlimpah bagi mereka yang mendoakannya.

9

8

5

Tepat pukul dua siang, terjadi keriuhan di halaman depan klenteng. Suara tambur dan perkusi seperti menyelimuti klenteng, Loya/dewa yang masuk ke dalam tubuh manusia dengan didampingi dengan umat berjalan menuju tongkang. Loya-loya ini berasal dari klenteng-klenteng yang berada di kota Bagan Siapi-api. Kedatangan mereka adalah memberikan persembahan kepada tongkang.

Setelah loya-loya selesai memberikan salam kepada tongkang, replika-replika dewa yang diletakkan di atas meja altar pada bagian tengah klenteng dikeluarkan. Dengan di lepasnya sebatang kayu yang menjadi kunci dari tongkang, dimulailah ritual upacara bakar tongkang. Sekitar 50 pemuda Tionghoa Bagan Siapi-api membopong dan mengarak tongkang menuju tempat pembakaran. Tempat pembakaran ini terletak di jalan Perniagaan. Berdasarkan keterangan pak Ah Ping, tempat pembakaran tongkang adalah tempat dimana dahulu leluhur masyarakat Tionghoa Bagan Siapi-api mendarat. Kurang lebih sekitar satu kilometer jarak dari klenteng menuju tempat pembakaran. Jalan Perniagaan yang tadinya dikosongkan menjadi penuh dengan lautan manusia. Di kiri kanan jalan, masyarakat Tionghoa berbaris menunggu lewatnya tongkang. Saat iring-iringan tongkang melewati mereka, mereka akan berdoa dengan menggunakan dupa yang sudah dibakar terlebih dahulu.

10

12

13

14

11

15

 

Perjalanan tongkang untuk menuju tempat pembakaran butuh perjuangan tersendiri, kabel kabel yang berseliweran di bagian tengah jalan menyulitkan tongkang untuk bergerak. Beberapa kali rombongan ini berhenti untuk menaikkan kabel agar tidak menyentuh tongkang. Setelah melewati gerbang besar pintu tempat pembakaran. Tongkang diletakkan di atas kertas doa yang berwarna kuning yang sudah disusun bertumpuk.

16

17

18

19

Saat api pelan-pelan membakar tongkang, ribuan masyarakat Tionghoa Bagan Siapi-api berdoa dan menyampaikan harapan mereka. Hal yang paling ditunggu oleh masyakarat Tionghoa Bagan Siapi-api adalah pada saat tiang layar utama jatuh. Ada sebuah kepercayaan bagi masyarakat Tionghoa Bagan Siapi-api, jika tiang layar utama jatuh ke arah laut maka rezeki tahun ini adalah di laut. Dan jika tiang layar utama jatuh ke darat maka rezeki tahun ini jatuh ke darat. Untuk tahun ini, rezeki bagi mayarakat Tionghoa Bagan Siapi-api adalah ke laut. Tahun ini, laut adalah harapan mereka.

20

21

 

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *