Cilinia De Deus

Wendly Marot

 

Pagi-pagi sekali hari ini, ketika aku lagi asyik menyeruput kopi dalam balutan sepi seceruk, pintu kamar diketuk.

Amo, ada yang mau bertemu!

Kutinggalkan kopi di atas meja, rokok tetap dijepit dua jari aku ke pendopo mejumpai orang yang pagi-pagi datang memanggil.

Amo hau alin nia oan feto mate ona! Hau husu amo nia bnsa ba nia.

Ok! jawabku.

Aku lupa pada kopiku, rokok yang tinggal puntung kubuang dan bergegas ke kamar mandi untuk membasuh muka. Kemudian walau belum terlalu lancar aku mengangkat kunci dan menghidupkan motor supra peninggalan pendahuluku. Amo Paroki lagi memperbaiki mobil. Dia mau ke stasi.

 

Kita berangkat!

Dan kami pun meluncur melintasi jalan yang tidak terlalu baik. Sambil sesekali menurunkan kaki agar tidak jatuh aku pun merayap pelan ke sebuah kampung bernama Aiasa.

Tiba di rumah itu, aku disambut keheningan. Tidak ada yang menangis. Begitu mendengar dan tahu bahwa amo sudah datang, satu per satu umat datang.

Beberapa ibu sedang merangkai bunga untuk ditabur di makam nanti sore.

Di atas meja telah diletakkan sehelai kertas bertuliskan nama si bocah. CILINIA DE DEUS-USIA 4 TAHUN.

Aku langsung menuju peti mayat dan ibu anak itu sementara duduk merenung di dekat kepala buah hatinya.

 

Nia aman iha nebe?

Nia servisu iha Irlandia amo!

Ya memang dari Balibo banyak pria yang menjadi Tenaga Kerja di Irlandia termasuk ayahanda dari alin Cilinia.

Rumah itu sederhana. Beredinding pelupuh, beratap rendah dari seng yang sudah karatan. Gelap gulita menyelimuti rumah. Listrik belum masuk.

Setelah berdoa sejenak dan memberkati jenasahnya kami duduk di teras rumah yang tidak terlalu luas.

Aku terkejut ketka kepada kami disuguhkan beer bintang dan ABC, daging babi dan kue tar.

Dalam hati aku mengeluh, mana mungkian dalam situasi duka begini mereka masih mempersiapkan jamuan a la pesta.

Tapi aku diam saja.

Beer pun dibuka. Mereka menyodorkanku sekaleng Bintang. Tapi dengan alasan gangguan lambung aku minta air putih. Air putih tidak dibawa, malah mereka membawa fanta dan teh.

Aku tersenyum dan menyeruput teh itu dan kutarik lagi sebatang cigaru surya untuk mengusir galau.

Sambil menyantap hidangan itu, aku iseng bertanya tentang riwayat sakit si bocah.

Amo..dia sakit cuma semalam! Ujar katekista dengan bahasa Indonesia yang sempurna.

Dua hari lalu dia masih bermain dengan teman-temannya. Dan sore harinya dia mengeluh kakinya sakit. Tak lama kaki itu mulai membengkak.

Karena panik, mamanya bawa dia ke hospital. Di sana dia diperiksa dan katanya tidak ada penyakit. Dan menurut dokter, kakinya itu mungkin kena benturan atau ada luka lama yang tidak sembuh benar.

Semalam dia menginap di sana, lalu kemarin pagi dia dipulangkan dan kata dokter cukup minum obat saja.

Tapi jam 01.00 siang dia malah meninggal.

Saya omnya amo dan saya masih belum percaya kalau keponakan saya ini sudah meninggal.

Aku mengangguk. Wajah jenasah Cilinia masih kelihatan segar. Tapi dia telah meninggal.

Lalu mereka mulai berpikiran aneh yang arahnya pada yang orang Indonesia sebut suanggi.

Tapi saya mencoba menjelaskan. Barang kali dulu dia pernah ditusuk paku karat dan sekarang baru terinfeksi tetanus.

Mereka angguk-angguk tapi tak yakin.

Aku dengar ibunya menangis. Ayahnya menelfon dari Irlandia dan katakan dia tidak bisa hadir karena masih terikat kontrak kerja. Tapi suara ayahnya terputus dan disambung oleh rekannya yang sesama Indonesia. Katanya, ayah Cilinia lagi pingsan dan sedang ditangani tim medis perusahaan.

 

Kami semua diam.

Teh tinggal setengah..

Aku terus menghabiskan rokok..

 

Jujur Tuhan aku galau.

 

CILINIA DE DEUS SELAMAT JALAN

RIP DAN HAROHAN MAI AMI

 

Ketika pulang aku masih merenung tentang misteri hidup manusia.

Hidup ini seperti bunga, paginya mekar, siang diterpa panas mentari sore layu dan gugur.

Tiba di kamar, kopiku dikerumuni semut kecil yang senang pada gula.

Lalu aku menyemprot mereka dengan BAYGON dan mereka pun mati konyol.

Baygon adalah suanggi bagi semut. Tapi manusia punya ceritera lain tentang kematiannya yang mendadak.

suspicious-minds

 

Untuk kita renungkan: suanggi itu bersumber pada kecurigaan.

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.