Menghargai Pilihan

Wesiati Setyaningsih

 

Tanpa sadar banyak orang sering merasa paling tahu dalam hal pengambilan keputusan bahkan ketika pilihan itu harusnya dilakukan orang lain. Kalau ada teman yang punya pengagum lebih dari satu, mereka ikut sibuk menilai, “Si A saja deh, ganteng, kaya pintar, baik hati.” Tidak peduli bahwa temannya justru sebenarnya sedang naksir si B setengah mati.

Masalahnya, orang yang mestinya membuat keputusan untuk dirinya sendiri juga sering tidak percaya diri untuk menentukan pilihan, saking seringnya dalam hidup mereka didikte untuk memilih ini itu. Tak jarang muncul ancaman kalau pilihan mereka tidak sama dengan yang menyuruh, terutama orang tua.

Ketika murid-murid saya minta menuliskan cita-cita mereka dan harus memikirkan sendiri apa yang kita inginkan serta tidak boleh bertanya sama sekali pada teman sebelahnya, justru mereka segera menoleh ke samping dan bertanya, “apa ya?”

Lah gimana sih? Kan itu cita-cita dia, bukan cita-cita temannya. Saya selalu ingatkan, “bertanya pada diri sendiri! Biasakan begitu. Jangan selalu bertanya pada orang lain. Kalau terbiasa begitu, nanti untuk milih pacar juga tanya orang lain. Milih suami tanya orang lain. Lha yang jalani hidup siapa? Ngikutin orang lain melulu nanti tau-tau merasa capek karena tidak sedang menjalani kehidupan yang kalian inginkan. Mau kaya gitu?”

Beberapa menggeleng, beberapa diam saja. Tapi sepertinya hal seperti itu sudah menjadi kebiasaan yang sulit diubah. Saat ulangan semeter masih sering terlihat mereka menanyakan jawaban dari teman lain. Alhasil banyak terjadi kekecewaan, “aduuh, aku tadi tuh sudah bener. Gara-gara tanya sama dia malah jadi salah.” Toh hal seperti itu tidak membuat mereka kapok. Tetap saja suka bertanya pada orang lain. Dan yang ditanya dengan bangga memberikan jawaban, meski jawaban mereka sendiri belum tentu benar.

Bahkan dalam hal yang paling personal yaitu memilih keyakinan, ada juga orang-orang yang sangat suka ikut campur. Kalau keyakinan atau agama yang dipilih orang lain beda dengan mereka, maka akan dikomentari.

“Lah, kok pindah agama sih? Islam itu sudah paling benar.”

Kalau orang itu sudah Islam, tapi tidak berjilbab, komentarnya,”perempuan muslim itu harus berjilbab. Kalau tidak maka semua ibadahnya tidak akan dihitung. Percuma.”

Kalau sudah berjilbab, komentarnya,”Kok jilbabnya pake gelungan palsu di dalamnya, sih? Haram, tuh. Sama saja memalsukan rambut ciptaan Tuhan.”

Ketika gelungannya dilepas, ada lagi komentar,”Jilbab ya harus lebar menutup dada. Kalau tonjolan dada masih terlihat, itu namanya belum jilbaban.”

Tidak ada hentinya. Alhasil kita Cuma bisa menghela nafas panjang sambil mengusap dahi, “Capek deh…”

 

Buat yang belum punya pacar sementara teman seusianya sudah punya pacar, boleh merasa kecil hati dan ‘tidak laku’ karena tiap kali ada pertanyaan, ‘siapa pacarnya?’, ‘kok belum punya pacar sih?’ atau yang lebih parah, ‘kamu nih nggak laku, ya?’ Haha… Saya bercanda.

Kalau sudah punya pacar lama dan belum menikah juga, pertanyaannya jadi, “kapan nikah?”. Kalau sudah menikah dan belum punya momongan juga, pertanyaannya jadi, “kapan punya anak?”. Kalau memang pasangan tersebut memang dalam penangguhan untuk punya momongan, mungkin rasanya tidak seberapa sakit. Tapi kalau memang sudah berharap momongan dan belum dapat juga, bagaimana rasanya?

 

Begitulah, sering kali ada orang-orang yang ingin mempengaruhi orang lain dalam pengambilan keputusan mereka. Terlebih lagi menjelang PEMILU seperti sekarang ini, hal-hal seperti itu makin dahsyat lagi. Banyak yang menjadi pengamat ahli hanya karena mendapat berita dari internet, lalu memasang beritanya di facebook mereka dan merasa paling benar.

Pendukung calon nomor satu akan meneriakkan bahwa calon mereka itu tegas, gagah dan isu agama disemburkan : diikutin banyak pendukung muslim.

Pendukung calon nomor dua akan memuji calon mereka yang rendah hati, peduli pada rakyat kecil, memotong prosedur protokoler dan karenanya akan saling memuji calon mereka sendiri.

Masalahnya, ketika mereka memuji calon mereka, tak lupa juga menjelek-jelekkan calon lain. Apapun bisa dicari sampai hal yang paling sepele seperti otak-atik nama.

Akhirnya, karena Pemilihan umum sudah tinggal hitungan jam, mari kita saling menghargai orang lain. Menjadi pribadi bisa menyerahkan tiap orang pada keputusan sendiri. Karena tiap orang pada dasarnya berhak untuk memilih berdasar pertimbangan mereka sendiri. Tidak perlu memberikan informasi apa-apa lagi karena siapa tahu semua orang sudah tahu, hanya saja mereka tidak mau berkata apa-apa.

TPS

Selamat memilih, dan mari menghargai pilihan orang lain.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *