Digaji untuk dimarahi?

R. Wydha

 

“Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya. “ (Minke , 135). Mungkin itu seuntai kata dari salah satu tokoh yang kukagumi. Sesuai dengan kejadian yang ku lihat dan yang ku rasakan sendiri.

“Selamat Pagi, benar dengan Ibu Aira? Saya dari PT. (bla-bla), dimohon anda besok untuk datang ke kantor kami mengikuti walk-in interview,” ucapan itu selalu kuterima disaat handphone ku berdering dengan nomor handphone baru tepatnya telepon ext kantor. Tanggal dan waktu yang sudah ditentukan aku pun datang ke kantor itu dengan pakaian formal dan tak lupa make up wajahku.

pict2

Duduk manis menunggu panggilan namaku untuk test walk-in interview. Sela tiga puluh menit namaku dipanggil. Banyak pertanyaan yang tertuju kepadaku dan akupun menjawab dengan apa adanya aku sesuai pertanyaan itu. “Baik ditunggu tiga hari lagi nanti kami hubungi ibu Aira lagi untuk hasilnya. Terima kasih waktunya,” salah satu dari yang mengujiku dengan berbagai pertanyaan.

Tiga hari berlalu, “Selamat Pagi dengan ibu Aira. Selamat ibu Aira diterima di perusahaan kami dan besok sudah bisa masuk,” sambil menutup handphoneku tersenyum bahagia dan bersyukurlah aku pada Nya atas rejekiNya. Dengan semangatku yang luar biasa bergegas berangkat ke kantor baruku. Senyum sapa pada kawan-kawanku, “Selamat bergabung di perusahaan kami, mohon kerja samanya,” kata-kata itu bersautan dan ku membalas dengqn senyum manis.

Yah sudah tiga tahun aku berkarir dan kerja sama dengan perusahaan ini. Banyak kejadian-kejadian yang aku alami. Konflik, kedamaian, canda tawa, pulang malam, dan refreshment dengan kawan-kawanku. Tapi sayang, ada beberapa hal yang sangat tidak aku suka dari dunia kerja. Bukan hanya di tempat kerjaku saja, di tempat kerja lain dan di mana pun itu letaknya pasti ada konflik utamanya dengan pimpinan kita sendiri. Kalau konflik dengan kawan mungkin masih bisa ditoleransi. Hal ini sering kali terjadi saat dipimpin dengan pimpinan lelaki. Ulah nya yang bermacam-macam membuat kita juga lepas kendali amarah.

pict 3

Wajar kupikir jika seorang pimpinan tak mau disalahkan. Wajar pula jika kawan kita ada yang pandai menjual nama kita ke pimpinan demi jabatan tinggi. Yah bisa dikatakan anak emas pimpinan. Tetapi apakah dengan hal seperti itu kita yang rugi? Jika hal itu sering kali terjadi di tempat kerja. Tak semua pimpinan yang berwatak keras, kaku, sok, dan angkuh. Tak semua memiliki kawan yang hobi menjual nama kita ke pimpinan untuk mendapatkan posisi tinggi.

Mungkin dengan cara ini mereka mendapatkan keuntungan dari tempat kerjanya selain mematuhi aturan dan jalan yang halal. Saling mendzalimi dalam satu atap tempat kerja keunggulan perusahaan akan menjadi terpuruk dan jatuh jika pimpinan berwatak angkuh, sok, dan dzalim. Manusiawi terkadang membuat kita jatuh tanpa kita sadari bahwa keegoisan lah yang membuat adanya diri kita menjadi bodoh dalam memimpin. Orang bawahan tidak akan selamanya berada di bawah begitu juga dengan seorang pimpinan tak selamanya dia berada di atas.

pict1

Faktor yang memicu adanya konflik-konflik itu terjadi di dunia kerja juga dikarenakan tembok kita jebol dengan rayuan-rayuan rupiah yang menggila sehingga segala cara dan jalan haram menjadi halal di mata mereka bukan di mata Allah. Nauzubillah. Hal ini bukan hanya terjadi di tempat kerja ku saja, ternyata di tempat kerja kawanku hampir sama kejadiannya. Yah ayolah bagaimana kita bisa nyaman bekerja jika watak dan otak seorang pimpinan jika masih menggila dengan rayuan?

Kita sebagai karyawan bawahan hanya mengikuti apa yang diperintahkan dan kita kerjakan semaksimal mungkin semampu kita. Kita sudah menjaga diri kita untuk tidak kemakan rayuan itu tapi apa hasilnya? Kita memilih jalan resign dan mengalah membuang waktu. seorang pemimpin harusnya memiliki watak dan otak yang bijak dalam memimpin suatu perusahaan, membuat karyawannya nyaman dan profesional dalam bekerja. Bukannya perusahaan maju karena juga berawal karyawan-karyawannya yang berhasil di pimpin dan sanggup untuk melakukan pekerjaan yang diperintahkan atasannya? Nah di situlah akan terbangun kerjasama yang sehat antara pimpinan dan karyawannya. Bukan saling menjatuhkan.

Tiga tahun itulah akhirnya aku memilih resign. Karena tidak suka dengan hal dzalim seorang pimpinan. Walaupun aku sadar di tempat lain pasti ku temukan orang seperti itu lagi. Hanya iman ku dan keyakinan ku pada kuasaNYA, aku berlindung dan mendapatkan tempat kerja baru. Mengenal kawan baru, pekerjaan baru, dan pemimpin yang baru. Aku tak menyesal dan tak membeci akan kejadian itu, karena itulah dunia kerja. Kerja ikut orang tepatnya jadi apapun kerjaan kita, kenyamanan kita ikut kerja dengan orang resiko dan konflik besar pasti ada. Yah menjadi pengusaha mungkin yang tepat. Bisa memberi lapangan kerja ke orang lain dan selalu berfikir cerdas dan bijak.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.