Jing An Temple, Ketenangan di Tengah Hiruk Pikuk Kota

Hennie Triana Oberst

 

Lokasinya yang berada di tengah kota di antara pusat perbelanjaan megah dan beragam cafe dan restoran ini sangat memudahkan pengunjung menuju ke Temple ini. Terletak di Nanjing Road yang sangat dikenal wisatawan maupun penduduk Shanghai sendiri. Aku cukup menumpang shuttle bus dari kompleks perumahan menuju stasiun Metro, kemudian menumpang Metro Line 2 (warna hijau) dan turun di stasiun Jing’an temple. Transportasi Metro di Shanghai sangat nyaman dan stasiunnya cukup bersih. Hanya pada jam-jam tertentu seperti pagi dan sore hari saat waktunya orang-orang berangkat dan pulang kerja saja gerbong-gerbongnya penuh sesak.

Masih ada beberapa menit sebelum pukul 11 siang saat aku tiba di depan temple. Kesepakatan aku dan seorang teman dari Swedia untuk bertemu di depan pintu masuk. Terlihat tidak banyak pengunjung di dalam. Mungkin juga karena temple ini masih dalam tahap renovasi, bagian sisi kiri dan kanannya masih tertutup pengaman dan tidak mungkin untuk dimasuki.

SONY DSC

Foto 1: Nanjing Road yang sibuk di depan Temple

 

jingan2

Foto 2: Temple dilihat dari pintu depan

 

Jing’an Temple termasuk salah satu temple tua di Shanghai, dibangun pada tahun 247, pada masa kekuasaan Dinasti Wu (220–280). Berdiri di tepian sungai Suzhou (sungai Wusong), diberi nama Hudu Chong Yuan. Saat pemerintahan Dinasti Tang (618–907) temple ini berganti nama menjadi Yongtai.

Kemudian pada tahun 1008, di masa Dinasti Song (960–1279) nama temple ini berubah lagi menjadi Jing’an, nama yang dipakai sampai saat ini. Jing’an yang berarti “ketenangan dan kedamaian”. Akibat banjir maka temple ini pada tahun 1216 dipindahkan dari sungai Suzhou ke lokasinya yang sekarang ini. Jing’an Temple kemudian merupakan pusat peribadatan yang sangat penting bagi penganut ajaran Buddha di Cina.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Foto 3, 4 dan 5: Pelataran Temple

 

Pada saat terjadinya Revolusi Budaya* temple ini hancur, dijarah, dan para biarawan diusir. Kemudian fungsi temple ini beralih menjadi pabrik plastik. Tahun 1983 temple ini kembali menjadi tempat peribadatan. Kemudian mulai tahun 1998 bertahap direnovasi.

SONY DSC

Foto 6: Jade Buddha

Di dalam aula Jade Buddha terdapat patung Buddha dengan posisi duduk dari batu giok (Jade). Dengan tinggi 3,8 meter dan berat 11 ton, patung giok ini merupakan patung giok terbesar dalam posisi duduk di Cina.

 

SONY DSC

Foto 7: Silver Buddha

Di salah satu aula utama terdapat patung Perak Buddha setinggi 6,6 meter yang sedang duduk di atas lotus dengan setinggi 2,2 meter. Tinggi keseluruhannya 8,8 meter dengan berat 15 ton.

 

SONY DSC

Foto 8: Dewi Guanyin (Kwan Im)

Patung Dewi Guanyin diukir dari kayu kamper setinggi 6 meter dengan berat 5 ton berdiri di aula Guanyin. Dewi Guanyin (Bodhisattva Guanyin) dikenal juga dengan sebagai Dewi Kebijaksanaan dengan Seribu Tangan.

 

SONY DSC

SONY DSC

Foto 9, 10: Aula

Salah satu bangunan Aula di bagian utara. Terbuat dari kayu jati dan gentengnya dari tembaga, total 7 lantai dengan tinggi keseluruhan 32,22 meter.
Sebenarnya masih banyak yang bisa dilihat di dalam temple ini, tetapi beberapa tempat tidak bisa dimasuki. Selain itu tidak ada seseorang yang bisa kami tanyai di dalam temple ini. Banyak terlihat Biksu di dalam beberapa ruangan yang sedang melakukan ibadah bersama pengunjung. Selebihnya adalah para pengunjung dan beberapa pekerja yang berseliweran menjalankan tugas pemugaran.

SONY DSC

Foto 11: Ukiran di dinding
Jalan-jalan kami tutup dengan menikmati makan siang di salah satu restoran Indonesia di dekat temple.

 

Shanghai, 20140520

 

* (The Great Proletarian Cultural Revolution 1966-1976)
Rujukan; urlaubsziele.com, de.wikipedia.org, shjas.org

 

Jing’an Temple – Shanghai
Alamat: 1686 Nanjing West Road, Jing’an, Shanghai
Jam buka: pukul 07.30-17.00
Tiket: CN ¥ 50,-

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *