[Keluarga Senthir – Setengah Kenthir] Ramadan is Coming (1)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Hari ini hari pertama puasa, namun sepertinya Keluarga Senthir tetap saja rusuh. Untuk makan Sahur Bunda sudah menyiapkan hidangan, sayur asem, ikan asin jambal roti, tempe goreng dan sambal. Bunda kini teriak untuk ke 7x-nya namun tetap tak ada tanda-tanda kehidupan. Suara dengkur Ikhasur mengisi lorong bagai gema mesin traktor. Namun ada juga suara melengking mirip tawa Mak Lampir dan itu bunyi dengkuran Tekwan.

Bunda molai mengambil nasi dan lauk lalu makan dengan nikmat. Bunda pun menggigit kerupuk beras sambil bergumam pelan, “Ahh nikmatnya sahur ini”. Dan justru gigitan pelan kerupuk beras dan bicara cenderung berbisik membuat anak-anak Senthir terlonjak. Mereka saling tendang dan jambak demi duluan tiba di ruang makan. Ping Ping dan Ikhasur sempat ‘nyangkut’ di kusen pintu kamar lantaran keduanya tak mau mengalah saat melewati pintu.

Bunda hanya pasrah melihat tingkah anak-anaknya yang sangat barbar saat berhadapan dengan makanan. Bahkan Mamat dan Ping Ping sibuk mengisi piring kedua. Di pojokan Ikha nampak was-was sambil menikmati hidangan dan akan menggeram saat ada yang mendekat (Mirip kucing)

 

*****

Jam 9 pagi Bunda pulang dari pasar, ia mendapat pesanan untuk acara buka bersama di rumah Tante Dora (Body-nya mirip Doraemon) , Bunda sempat kaget saat melihat Didot asik berdiri di depan gerobak soto sambil klamut klamut (jilatin bibir). Didot memakai kemben dan leggings ketat lantaran kekecilan berakibat mencetak pantat tepos Didot menjadi mirip tomat penyet. Warna yang nge-jreng menjadi pilihan Didot. Tak cukup itu saja, Didot memakai sepatu high heels warna pink dan kacamata ukuran besar.

Didot memakai wig putih yang dicepol mirip Patih Gajahmada. Dia merasa titisan Lady Gagal. Bunda tak kuasa untuk diam, lalu Bunda bicara dengan sesabar mungkin, “Nak??? Kamu kok jam 9 pagi sudah kaya gitu sih ngeliat orang jualan?? Trus kenapa Nak, kau berbusana seperti itu? Ini bulan suci, sungguh kau bagai bintang Dollywood Nak!”, Sindir Bunda dengan kejam.

Didot bukannya mikir malah bangga, dipikirnya Dollywood itu setara Hollywood atau Bollywood. “Ah Bun? Bisa aja”, Jawab Didot singkat sambil tersipu malu.

 

*****

Mamat tertidur di depan TV, dia asik mendengkur bagai suara mobil tua yang ngadat saat dinyalakan. Dia bermimpi tengah mencari jejak tempe penyet yang hilang. Dia berjalan pelan di sebuah lorong sepi. Tiba-tiba dilihatnya bayangan besar sedang duduk sambil mendongak dengan mulut mangap. Ternyata ada sosok Ikhasur yang asyik memakan tempe penyet yang harusnya jatah makan siang Mamat.

Mamat meloncat bagai Ninja dan siap merebut cobek berisi tempe penyet yang tinggal seperempat. Cobek besar berdiameter 30 cm itu nampak luas lantaran sebagian besar isinya sudah dimakan Ikhasur. Ikhasur sigap, saat Mamat meloncat ke arahnya dia segera menonjok perut buncit Mamat hingga tanpa ampun Mamat terlempar ke dalam lobang.

Mamat bingung saat masuk lobang gelap nan sunyi. Ia hanya bisa panik saat mengendus aroma busuk seperti ada cumi dan udang busuk yang mengepung dirinya dalam gelap. Dan Mamat nekad meloncat namun dia kembali jatuh.

Saat Mamat terbangun, tepat di depan wajahnya ada Ping Ping yang nampak pulas dengan mulut menganga. Itulah sumber bau yang di mimpi Mamat bagaikan berada di kubangan cumi dan udang busuk.

 

******

Bunda melihat Mamat dan Ping Ping yang nampak nyenyak hanya bisa bergumam, “Lha kalau semua malah tidur, buat apa juga puasa? Siapa pulak akan bantu aku?!!”, Gumam Bunda sambil menuju teras.

Bunda terbelalak kaget saat melihat Ikhasur duduk di tanah sambil asik mengunyah daun sirih kesayangan Bunda. “Heh??? Nak kok kamu makan daun sirih Bunda?? Kamu gak puasa ya??? Padahal pas sahur kamu tuh makan sampai 3 piring”, Ujar Bunda dengan kesal.

Ikhasur tersenyum genit lalu bicara, “Lho Bunda pelupa ya? Aku lagi nyirih, katanya bikin gigi sehatkan? Emang batal ya???”.

Bunda berusaha menahan amarah, dia bicara datar, “Tapi kalau orang nyirih tidak menelan daunnya! Dan tidak menghabiskan hampir semua daun sirih yang ada di kebun!”.

Bunda kini memutuskan ke warung Wak Suni untuk membeli arang buat memanggang ayam. Saat pulang dan melintasi lapangan Bunda melihat sosok Dian sedang asik ngerumpi dengan Wati dan Mastiur. Ketiganya memakai baju super seksi dan minim namun tetap memakai kerudung. Bunda pun menegor, “Lho Nak? Kenapa kamu berbusana seksi di Bulan Suci? Mana pake kerudung? Aneh sekali Bah?!!!!”

Dian koprol mendekati Bunda, lalu berdiri tegak dengan sebelah tangan mengarah ke atas, “Bun, abis gimana? Kan aku emang harus pakai baju sexi kalau aerobik? Kalau soal kerudung ya anggap aja formalitas”.

Belum juga Bunda menjawab tiba tiba Mbah Gunung muncul dengan sarung dan kaos kutang, “Ahhh Dian nggak apa-apa koq pakai baju sexi pas puasa, kan malah nambahin Mbah jadi semangat eh maksud Mbah kan yang penting niatnya?”, Sahut Mbah Gunung sambil memandang perut Dian tanpa kedip.

Bunda kini benar-benar kesal dengan ulah keluarganya, “Dian! Kamu hari ini nggak usah aerobik, bantu Bunda bakar ayam, nanti sore Bunda harus menyiapkan buka puasa di rumah Tante Dora”, Seru Bunda tegas sambil masuk ke halaman rumah.

 

******

Bu Ratna membawa rantang 2 susun, dia berjalan bersama ponakannya yang bernama Bung Bung. Bung Bung ini lagi liburan kenaikan kelas. Dia mau masuk kelas 4. Bung Bung ini cantik tapi lugu dan ceplas ceplos. Dan ini membuat Bu RT Ratna agak kewalahan saat harus menengahi Bung Bung dengan anak-anak Senthir yang nggak jelas semua.

Bu Ratna ternyata akan membeli tajil dan bubur kacang hijau. Tekwan ada di Warung Mbak Yeni yang khusus berjualan aneka tajil, Aneka jajanan basah dan bubur sangat menggoda selera. Tekwan terlihat jongkok dengan wajah yang memelas, berkali kali ia meneguk air liur lantaran mupeng dengan lautan makanan yang seolah menggoda.

bukapuasa

“Tante? Itu kok Andika Kangen Band jongkok di situ?? Emang udah nggak laku lagi ya di TV?”, Seru Bung Bung dengan polosnya.

“Ssstttt!!! Itu Tekwan, bukan Andika, udah jangan dipikirin”, Sahut Bu RT takut Tekwan mendengar ucapan si Bung Bung.

Bung Bung pun diam walau terus saja melihat ke arah Tekwan. Tak lama si Didot muncul, dia memakai kemben warna kuning, celana hawaii dan sepatu keds warna hijau. Tak lupa ia menenteng tas kecil warna emas. Bung Bung memandang takjub dan Didot memandang dengan kesal, dia cemberut seolah dirinya mirip artis Angelina Jorki yang sensual.

“Tante!!!! Itu kok dia makan kue lapis sih??? Kok nggak puasa???”, Sahut Bung Bung sambil menunjuk lambe Didot.

Bu RT kaget Bung Bung bicara seperti itu tapi saat dia melihat bibir Didot memang sih mirip kue lapis basah. “Dek Bung Bung nggak boleh gitu ya? Nanti orangnya marah lho”.

Bung Bung makin bingung, “Tanteeee, aku kan cuma heran? Koq dia makan kue lapis di depan umum? Kan belum buka puasa??”

Didot mulai lepas kendali, dia segera menyahut, “Heh bocah!!! Iki lambe!! Bukan kue lapis, ini lipstik merah dan yang kesan basah ini lip gloss! Ndeso ya??”.

Bung Bung diam sejenak, lalu kembali menarik tangan Tantenya, “Tante??!! Itu kembennya orang itu melorot, kok dadanya rata?? Itu yang namanya waria ya???”.

Bu Ratna mukanya merah kuning ijo lantaran berusaha menahan tawa dan sekaligus nggak enak sama Didot yang nampak kesal. Tanpa banyak bicara Bu RT mengajak Bung Bung pulang.

 

*****

Wiwi tergeletak di teras rumah, tanpa ragu dia ngesot ke rumah Tantenya, Tante Soka. Dia terus ngesot dan itu akhirnya menyita perhatian Bunda Soka dan Dian yang lagi bakar ayam.

“Lho Wi?? Kamu ngapain ngesot gitu sih? Liat rok jeplukmu kotor semua”, Tegur Bunda.

Wiwi merenges pilu, “Aku lemes lho Tante ….. Tadi sahur cuma sepiring”.

Bunda mengerutkan dahi, “Kenapa ya kalian ini Puasanya tidak ikhlas? Kan Puasa bukan berarti makan bagai kesurupan?”.

Sementara Dian yang kumus-kumus karena kepanasan nampak galau. Dan Mbah Gunung dengan sigap sibuk memijat paha Dian. “Ihhh Mbaaahhh aku tuh kegerahan, ambilin tissue donk?!”, Rengek Dian sok manja.

Mbah Gunung langsung repot, “Wah tissue-nya dimakan Mamat, ya udah sini cah ayu”, Ujar Mbah sambil sibuk ngelap tubuh dan wajah Dian dari keringat pake sarungnya. Mbah lupa kalo sarungnya keangkat semua.

“Iiihhhhh Mbah!!!! Itu G-string-nya keliatan ….. Ih Mbah nakaaaalll!!!”, Pekik Dian sambil tersenyum manja.

Wiwi juga melihat hadegan ‘panas’ itu dan berteriak, “Ihhhhh burung gagak Mbah kok loyo???”.

Mbah Gunung kesal dan malu, dia buru buru membenarkan sarungnya dan bicara ketus kearah Wiwi, “Heh! Cah kentir!!! Posomu buatal!! Saru! Porno!”, Mbah bicara dengan kesal.

Wiwi yang pintar-pintar bodoh nampak heran, “Lho??? Koq aku aja yang batal?? Kan Dian juga lihat?”, Protes Wiwi. Bunda Soka hanya geleng-geleng dan belagak sibuk memanggang ayam. Ia sendiri tidak yakin anak-anaknya bakal mendapat pahala, sejak sahur mereka sudah bertingkah.

 

To be continued

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.