Surat Buat Pakde Mitro di Surga

Kang Putu

 

“gus, aja nggege mangsa. yen durung wayahe, aja meksa. mundhak kapiran. suk, ana mangsane sing salah bakal seleh, sing kalah bakal nyiseh, sing bener bakal pener. saiki ndedonga wae, nyuwun marang Sing Nggawe Urip: aja pisan-pisan kedadeyan maneh padha sedulur paten-pinaten.”

 

itulah ujaranmu dulu, pakde mitro, ketika belum salin sandhangan, belum meninggal dunia. kau meminta saya selalu bersabar setiap kali menyaksikan dan mengalami penghinaan stigmatis: anak tahanan politik (tapol). “jika belum saatnya bicara, jangan memaksa diri agar tak menyesal. kelak, tiba saatnya orang-orang yang bersalah bakal ketahuan, orang-orang yang kalah bakal terpinggirkan, orang-orang yang benar bakal bertindak secara benar pula. ayolah berdoa, memohon kepada Sang Pencipta Kehidupan: jangan sampai terulang sesama saudara saling bunuh.”

namun maaf, pakde, saya menyaksikan betapa kini makin hari hasrat saling tikam itulah justru yang kian mengedepan. hasrat saling meniadakan, saling membungkam, memberangus, itulah yang mengemuka. lihatlah, pakde, betapa memalukan dan menjijikkan, ketika kehendak berkuasa membuat kami saling hina, saling caci, saling menelikung kawan seiring. tak habis-habis, pakde, bahan bagi kami untuk saling menyerimpung dan menjatuhkan. tak kurang-kurang, pakde, cara bagi kami untuk saling tikam.

pakde, kami begitu pintar mengolah warisan kekejian dan kekejaman: menggapai kekuasaan dengan teror, darah, dan kebencian. bukankah hasrat sedemikian besar untuk menggenggam kekuasaan dengan meniadakan kawan sebangsa itulah yang membuatmu berpuluh tahun menelan kepahitan? bukankah itu pula yang membuat beribu, berjuta, anak bangsa ini terpariakan, menjadi bak pengidap kusta dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, kultural, dan bahkan keberagamaan? bukankah itu pula yang membuat ribuan anak negeri ini terkubur-tak-terkubur tanpa nisan di sembarang tempat di sembarang saat?

pakde, hari-hari ini, saya merasakan betapa udara menguarkan kebencian, kecurigaan, dan penghakiman antarsaudara. atmosfer kehidupan mengelam, suram. bulan suci, bulan ramadan, seperti berlalu begitu saja, seolah-olah tak pernah bisa menjadi momentum untuk saling mengasihi, saling memaafkan. saya sedih, pakde. batin saya ngilu, nurani saya pilu.

politik-panas

karena itulah, pakde, maafkan saya, lantaran terlupa mendoakan sampean: agar senantiasa nyaman berada dalam lingkaran kasih Sang Mahacinta. maafkan kami, yang terus-menerus mereproduksi kebencian dan dendam dan bahkan berkehendak mewariskan dendam dan kebencian itu kepada anak-cucu kami.

maafkan kami, pakde. maafkan saya, yang diam-diam menekap ketakutan: khawatir langit kehidupan menggelap, tanpa kerlip bintang di kejauhan.

 

semarang, selasa, 15 juli 2014

gunawan budi susanto

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.