Istana Matahari dari Timur

Bayu Amde Winata

 

Di tepi sungai Siak yang konon katanya merupakan sungai terdalam di Indonesia, berdirilah sebuah istana yang megah. Istana ini adalah saksi dari kerajaan besar di Riau, kerajaan tersebut bernama kerajaan Siak Sri Indrapura. Di bawah pemerintahan Sultan ke sepuluh yang bernama Sultan Syarif Hasyim kerajaan ini mendirikan sebuah istana. Istana ini memiliki julukan Matahari dari Timur atau dalam bahasa Arabnya Asserayah Hasyimiah.

1 - Istana Siak, istana yang di bangun pada abad ke 18 ini merupakan saksi bisu kerajaan Melayu Siak Sri Indrapura

1 – Istana Siak, istana yang di bangun pada abad ke 18 ini merupakan saksi bisu kerajaan Melayu Siak Sri Indrapura

Pintu istana yang berwarna hijau masih tertutup saat kedatangan saya. Baru saja kaki akan menjejakkan kaki ke lantai pualam yang berwarna putih. Tiba-tiba ada suara yang menegur. “Bang, lepas dulu alas kakinya, pualam lantai ini masih asli.” Suara yang menegur saya berasal dari pegawai yang bekerja di istana. Selain penjaga, mereka bisa menemani tamu untuk menjelaskan sejarah istana ini.

Istana Siak didirikan pada tahun 1889, fungsi istana sebagai tempat tinggal dari Sultan. Arsitek yang merancang bangunan ini berasal dari Jerman. Gaya arsitektur bangunan yang dipakai adalah Melayu, Eropa dan Arab. Istana ini terdiri dari dua lantai, lantai pertama adalah ruang penerimaan tamu, dan ruang rapat sedangkan lantai atas adalah ruang istirahat raja. Pintu istana dibuka, setelah saya mengisi buku tamu. “Kreeekk” engselnya berderit, sepertinya pintu ini sudah lama tidak diminyaki.

Saya diajak ke ruangan penyambutan tamu, di sini terdapat manekin para petinggi kerajaan yang sedang rapat. Konon kabarnya ini adalah manekin dari Dewan Istana dan Raja. Manekin ini didandani dengan pakaian melayu lengkap dengan kain tenun Siak. Posisi manekin ini disusun seolah-olah mereka sedang melaporkan kondisi terkini dari situasi kerajaan pada saat itu. Tidak jauh dari manekin Dewan Istana dan Raja, terdapat foto hitam putih. Foto berukuran 60×40 cm ini menunjukkan wajah dari Sultan Syarif Qasim II. Beliau merupakan raja terakhir dari kerajaan Siak. Dialah yang memutuskan Kerajaan Siak bergabung dengan Indonesia setelah mendengar kabar proklamasi kemerdekaan dikumandangkan di Jakarta. Saat bergabung beliau   menyerahkan hartanya kepada Presiden Sukarno di Yogyakarta sebesar 13 juta Gulden untuk membantu pembangunan negara ini. Nilai uang tersebut kurang lebih setara dengan pembangunan tiga Gedung Sate di Bandung pada saat itu. Atau jika dikonversikan dengan nilai uang sekarang sekitar satu trilyun rupiah uang pribadi beliau disumbangkan. Beliau menyatakan bergabung dengan Republik ini bersama kerajaan Deli, Asahan, Yogyakarta, Solo, Kutai Kertanegara, Pontianak, Ternate, Tidore, Bali, Sumbawa, dan daerah-daerah yang termasuk Zelfbestuuren/berpemerintahan sendiri pada zaman Belanda.

2 - Manekin raja dan Dewan Istana yang terdapat di dalam istana. Tampak depan adalah lambang dari kerajaan yang berbentuk naga

2 – Manekin raja dan Dewan Istana yang terdapat di dalam istana. Tampak depan adalah lambang dari kerajaan yang berbentuk naga

3 - Koridor kanan dari istana, di sini terdapat ruang rapat dewan kerajaan istana. Mebel-mebel yang ada di ruangan ini masih asli

3 – Koridor kanan dari istana, di sini terdapat ruang rapat dewan kerajaan istana. Mebel-mebel yang ada di ruangan ini masih asli

Saya menuju bagian dalam istana. Ruangan Perjamuan Tamu nama ruangan ini, di sini koleksinya tidak kalah menarik. Saya melihat sebuah cermin yang terbuat dari kristal. Umur kaca ini kurang lebih sudah ratusan tahun. Cermin ini dibuat di Ceko. Pada zaman dahulu cermin ini digunakan ratu untuk berkaca. Ada sebuah mitos yang berkembang, jika kita berkaca di depan cermin maka kita akan awet muda. Menurut keterangan penjaga istana, ada beberapa artis ibukota yang berkaca di depan cermin ini. Sayangnya dia tidak mau menceritakan siapa mereka, “Rahasia bang” ujarnya sambil tersenyum lebar. Selain cermin kristal, koleksi menarik yang terdapat disini adalah patung raja yang terbuat dari pualam putih dan bermatakan kristal. Untuk menjaga agar patung ini tidak disentuh oleh tangan tangan jahil patung ini dimasukkan ke dalam kotak kaca.

4 - Gramafon tua yang menjadi salah satu koleksi dari Istana Siak

4 – Gramafon tua yang menjadi salah satu koleksi dari Istana Siak

5 - Ruang perjamuan tamu, kursi-kursi dari ruangan ini merupakan kursi kristal yang di pesan khusus oleh raja dari Eropa

5 – Ruang perjamuan tamu, kursi-kursi dari ruangan ini merupakan kursi kristal yang di pesan khusus oleh raja dari Eropa

6 - Patung perunggu dari Ratu Wilhelmina. Patung ini merupakan hadiah dari kerajaan Belanda kepada Sultan yang merupakan bagian dari koleksi Istana Siak

6 – Patung perunggu dari Ratu Wilhelmina. Patung ini merupakan hadiah dari kerajaan Belanda kepada Sultan yang merupakan bagian dari koleksi Istana Siak

8 - Komet, alat musik yang berasal dari Jerman ini di kirim kan setelah kunjungan Sultan Siak  ke Jerman

7 – Komet, alat musik yang berasal dari Jerman ini di kirim kan setelah kunjungan Sultan Siak ke Jerman

9 - Komet, alat musik yang berasal dari Jerman ini di kirim kan setelah kunjungan Sultan Siak  ke Jerman (2)

8 – Komet, alat musik yang berasal dari Jerman ini dikirimkan setelah kunjungan Sultan Siak ke Jerman (2)

10 - Proyektor film. Sultan Syarif Qasim II yang sempat bersekolah di Batavia membawa kebiasaan menonton film ini ke kerajaan. Proyektor ini menjadi koleksi dari istana Siak

9 – Proyektor film. Sultan Syarif Qasim II yang sempat bersekolah di Batavia membawa kebiasaan menonton film ini ke kerajaan. Proyektor ini menjadi koleksi dari istana Siak

Penjaga istana yang bernama Syamsudin mengajak saya ke koridor kanan istana. Dia memamerkan kepada saya koleksi istimewa dari istana. Koleksi ini adalah sebuah alat musik yang bernama Komet. Alat musik ini berasal dari Jerman. Kabarnya hanya ada dua di dunia. Yang satu berada di Jerman sedangkan yang lainnya berada di Siak. Komet berwujud kotak besar dan untuk memainkannya harus di putar terlebih dahulu seperti gramafon. Komet juga menggunakan piringan, namun bahan dari piringan bukanlah vinyl namun pelat besi yang berbentuk lingkaran. Pelat besi ini dilubangi sedemikian rupa sehingga pada saat bagian dari komet menyentuh lubang akan keluar nada-nada. Bach dan Mozart adalah beberapa koleksi piringan yang ada. Menurut Syamsudin, kedatangan alat musik ini setelah kunjungan Sultan Siak ke Jerman. Dapat di bayangkan betapa luasnya pergaulan Sultan pada zaman itu.

Yok bang, naik ke lantai dua” ujar Syamsudin. Di lantai dua, koleksi yang ada sama menariknya seperti di lantai satu. Lantai dua merupakan tempat istirahat raja, di sini terdapat kamar-kamar yang dahulu dijadikan kamar istirahat bagi raja dan tamu. Di dinding kamar ini terdapat foto-foto hitam putih yang seperti menceritakan mengenai kehidupan di dalam istana pada zaman dahulu. Foto yang paling menarik adalah foto hitam putih dari seseorang yang menggunakan baju seperti rompi dan memakai tameng yang terbuat dari kayu. Kata Syamsudin, foto ini adalah foto orang Dayak yang saat itu datang berkunjung ke istana. Selain foto-foto lama, di bagian atas terdapat jubah perang yang digunakan raja, proyektor film, dan beberapa pusaka kerajaan berupa badik dan keris.

11 - Senjata-senjata pusaka kerajaan yang menjadi koleksi dari Istana Siak

10 – Senjata-senjata pusaka kerajaan yang menjadi koleksi dari Istana Siak

12 - Foto dari para Pejabat Istana. Foto hitam putih ini di ambil pada saat pemerintahan Sultan Siak terakhir, SUltan Syarif Qasim II

11 – Foto dari para Pejabat Istana. Foto hitam putih ini di ambil pada saat pemerintahan Sultan Siak terakhir, SUltan Syarif Qasim II

13 - Piring-piring keramik berasal dari China yang merupakan koleksi dari istana Siak. Pada bagian tengah dar piring merupakan lambang dari kerajaan

12 – Piring-piring keramik berasal dari China yang merupakan koleksi dari istana Siak. Pada bagian tengah dar piring merupakan lambang dari kerajaan

14 - Sultan Syarif Qasim II dan Isteri pada saat beliau masih muda. Foto ini menjadi koleksi dari Istana Siak

13 – Sultan Syarif Qasim II dan Isteri pada saat beliau masih muda. Foto ini menjadi koleksi dari Istana Siak

15 - Foto dari Raja terakhir Kerajaan Siak, Sultan Syarif Qasim II. Sekarang nama nya di abadikan sebagai nama Bandar Udara di Pekanbaru

14 – Foto dari Raja terakhir Kerajaan Siak, Sultan Syarif Qasim II. Sekarang nama nya di abadikan sebagai nama Bandar Udara di Pekanbaru

Dari lantai dua saya turun. Sebelum meninggalkan istana perhatian saya tertuju pada sebuah kotak besi yang terletak di bagian kanan bawah tangga. Syamsudin langsung berkata. “Itu lemari besi bang, sampai hari ini tak bisa dibuka.” Pikiran saya langsung berimajinasi liar. Apakah isi di dalam lemari besi ini adalah kontrak kerja dari perusahaan-perusahaan minyak asing yang sudah masuk ke Siak pada waktu itu, atau kontrak mengenai perjanjian kerjasama antara kerajaan ini kepada Inggris pada abad ke 18? Entahlah..

 

 

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *