[Resensi Film] Sindiran dari Primata

Abu Waswas

 

“Ape don’t kill ape.” Kera tidak membunuh kera. Itulah sepenggal prinsip kera yang hidup sentosa di hutan Muir di taman nasional di San Fransisco.

Dawn of the Planet of the Apes adalah sekuel film Rise of the Planet of the Apes (2011) dengan latar rentang 10 tahun sejak penyerangan kera di San Fransisco yang dipimpin oleh Caesar–kera yang intelegensinya berkembang pesat dan bisa berbicara.

dawn_ofthe_planet_ofthe_apes

DAWN OF THE PLANET OF THE APES
Pemain: Jason Clarke, Andy Serkis, Gary Oldman, Toby Kebbel, Keri Russel, Kodi Smit-mcphee, Kirk Acevedo.
Tim penulis: Mark Bomback, Rick Jaffa, Amanda Silver, Pierre Boulle.
Sutradara: Matt Reeves.
Studio: 20th Century Fox, Chernin Entertainment.

Sekuel film ini dibuka dengan aksi kera berburu rusa, juga perlawanannya pada beruang bongsor yang secara sinematik cukup menawan dilihat. Sampai akhirnya seorang manusia menembak seekor kera di Muir–mungkin karena panik, maka simpul konflik pun disulut. Kera lain, Koba (Toby Kebbel)– tangan kanan Caesar, menyarankan agar membunuh balik orang itu namun Caesar memaafkan asalkan… manusia tidak kembali lagi ke hutan, rumah para kera.

Namun itu hal sulit bagi Malcolm (Jason Clarke) dan rombongannya. Mereka (sekoloni kecil manusia yang bertahan dari wabah flu simian) krisis listrik, satu-satunya cara adalah pergi ke bendungan di hutan dan merestorasi instalasi PLTA. Negosiasi antara Malcolm dan Caesar berjalan mulus, dengan syarat manusia tidak membawa senjata (senapan) saat di hutan. Apalah arti perjanjian bila ternyata salah satu rombongan, Carver (Kirk Acevedo), masih menyimpan senapan di kopernya. Eskalasi konflik mulai menanjak. Belum lagi provokasi dan fitnah dari Koba, kera antagonis nan rapuh. Dia adalah kera yang punya pengalaman getir dengan manusia–tubuhnya pernah dijadikan “kera percobaan” di laboratorium.

Perseteruan antar kera kontra manusia tak terelakkan. Para kera pimpinan Koba yang terprovokasi menyerang manusia dengan senapan laras panjang. Perang yang tampak jomplang itu dimenangkan pihak Koba.

Kepercayaan dan kepemimpinan mungkin dua kata yang kita dapat setelah memeras isi cerita dalam film ini. Itu hal biasa! Menjadi luar biasa jika koridor cerita itu dilakonkan oleh kera yang berevolusi setara dengan manusia, juga ambisius dan brengsek seperti manusia.

“Dulu aku pikir kera lebih baik daripada manusia, namun kita ternyata memiliki kesamaan,” kata Caesar sendu.

Dari sesi penokohan manusia tak ada akting yang menonjol. Justru akting Caesar, dalam ekspresi tubuh dan muka yang digerakkan oleh Andy Serkis (Gollum, King Kong), memancarkan pesona sepanjang film yang sulit kita abaikan. Tak ada sinematografi yang benar-benar spektaluler, kecuali film ini digarap oleh Ang Lee dan timnya, tapi Planet of the Apes cukup natural. Efek rekayasa komputer (CGI) sentuhan Hollywood nggak perlu diragukan. CGI melebur dalam naskah cerita mewujud nyaris sempurna; rapi, logis, dramatis, dan epik. Film ini ibarat makanan yang punya jejak rasa kuat di lidah usai kita menyantapnya. Kita, sebagai manusia, akan tersindir. Sindiran seperti apa? Tontonlah….

 

 

About Abu Waswas

Penulis lepas dengan ketertarikan khusus akan film. Tulisannya tersebar di banyak media sosial.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.