Matematika Allah

Dian M. Balqis

 

..sebuah kisah nyata..

 

Di sebuah kota kecil, di kaki sebuah pegunungan di daerah Sumatera Barat.

Seorang ibu muda, sebut saja namanya Fitri, termenung sembari mengerjakan tugas rutinnya di dapur. Memasak makanan kesukaan anak-anak dan suaminya. Banyak hal berkecamuk di kepalanya, terutama kekhawatirannya akan masa depan anak-anaknya.

Sambil mengiris bawang, ia mengutarakan isi hatinya itu kepada emaknya yang saat itu membantunya di dapur. Fitri beserta suami dan kedua anaknya memang masih menumpang di rumah orang tua Fitri yang kebetulan cukup berada untuk ukuran sebuah kota kecil, karena perekonomian keluarga mereka memang belum memungkinkan bagi Fitri dan suaminya membeli rumah untuk keluarga kecil mereka. Jangankan untuk membeli rumah, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka saja sudah sangat pas-pasan.

kehidupan

Fitri mengeluh kepada emaknya,  “Mak.., kami harus bagaimana ya..?? Sudah 9 tahun umur perkawinan kami. Tapi kehidupan kami masih begini-begini saja. Da Rizal belum bisa membelikan aku rumah, simpanan kami pun tak seberapa. Bagaimana nasib anak-anakku nanti ya mak..?? Bisa tidak ya kami nanti menyekolahkan anak-anak hingga kuliah..?? Secara hitung-hitungan, sudah sekian lama kami berusaha hampir tidak ada hasil, ibarat kata hanya cukup untuk makan saja. Sementara anak-anak makin besar dan beberapa tahun lagi pasti perlu biaya yang tidak sedikit untuk sekolah mereka..”

Emaknya hanya tersenyum, lalu dengan bijak menjawab dengan singkat, “Nak, matematika-mu itu tidak sama dengan matematika-nya Allah..” Fitri mengernyitkan dahinya, tidak mengerti apa maksud perkataan emaknya. Dikiranya emaknya akan memberinya penjelasan lebih lanjut tentang pernyataannya itu, namun ternyata tidak. Emaknya justru  asyik kembali memasak untuk suami, menantu dan cucu-cucunya. Menimbulkan tanda tanya di hati Fitri.

Malam itu, seperti biasa Fitri menyempatkan diri untuk bangun dan melaksanakan shalat tahajjud. Usai shalat, iapun berdo’a dengan bahasa yang sangat sederhana, “Ya Rabb, aku ingin rumah yang bisa aku miliki dan tempati untuk keluargaku. Dan aku mau hal itu terlaksana tahun depan. Kabulkan permohonanku ini, ya Rabb.. Aamiin..”

Do’a itu terus diulangnya berhari-hari dengan tekun setiap malam. Ajaib, dalam beberapa bulan perubahan yang sangat drastis terjadi. Dengan modal yang diberikan mertuanya, usaha Da Rizal, suami Fitri, tiba-tiba berkembang pesat. Rejeki mengalir bagai air kran yang tak ada hentinya dikucurkan, hingga akhirnya dalam waktu singkat terkumpul sejumlah uang yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, berpuluh kali lipat dari uang simpanan yang mereka sisihkan selama bertahun-tahun perkawinan mereka. Tahun berikutnya, di tahun kesepuluh, sebentuk rumah mewah berhasil mereka bangun, berikut 1 buah toko bisa mereka miliki untuk showroom barang-barang dagangan mereka.

Allah Maha Pemurah, dan Maha Memberi apa yang kita pinta, bahkan lebih dari yang kita mau, jika dilakukan dengan penuh kesungguhan dan upaya yang maksimal, baik itu dengan berdo’a maupun berusaha secara lahiriah. Saat Fitri berupaya dengan berdo’a bagi peningkatan hidup keluarganya, dan Da Rizal berupaya dengan bekerja lebih rajin, di situlah Allah melihat keseriusan mereka, dan berkenan mengabulkan apa yang diminta. Tak ada yang tak mungkin bagi-Nya, bahkan yang tak masuk akal pikiran manusia. Apa yang Dia kehendaki akan terjadi, tanpa bisa dicegah dan dibendung.

Dan sepatutnya, kewajiban kitalah sebagai makhluk untuk selalu bersyukur atas apapun yang diberikan Allah untuk kita.Jangan sampai Dia mencabut kembali rahmat-Nya karena kita mengkufuri nikmat-Nya dan menjadi sombong serta lupa diri atas apa yang telah diberi. Dia Maha Kuasa menjadikan yang tiada menjadi ada, begitu juga sebaliknya, dari ada menjadi tiada. Dalam  sekejap, semua yang kita miliki bisa hilang, karena memang segala yang ada di dunia ini hanyalah titipan. Amanah dari Allah yang harus kita jaga sebagai sarana untuk beribadah kepada-Nya.

Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu dalam keberkahan rahmat-Nya, seperti Fitri dan keluarganya. Aamiin.

 

Pondok Pinang, 11 September 2011

..for u, who tell me about this..thanks for sharing this story.. :)

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.