Pena dan Hijab Zahira

R. Wydha

 

Hampir tiga tahun tangan ini beristirahat tak mengayunkan di keyboard kesayangannya. Beberapa lembar cerita masih tersimpan dalam pena’nya untuk dituangkan dalam gelas mungilnya. Rindu rasanya pada hati yang dahulu berada dalam kehidupan yang sepi. Dikala zahira memandang langit malam berhias bintang dan bulan Sang Maha Pencipta, disaat itu dia merasakan kegalauan dalam hati. Entah apa yang ada dalam pikirannya sehingga membuatnya menangis ketakutan. “Aku merasakan ketakutan Tuhan, apakah besuk hari terakhirku?” Zahira berkata sendiri dalam ucapnya.

Satu jam kemudian, diapun terlelap dalam tidur malamnya. Lelapnya membuat dia lupa akan rasa ketakutan itu, tetapi matahari membangunkannya untuk kembali beraktifitas. Zahira bergegas menyiapkan diri untuk berangkat ke tempat dia bekerja. Akan tetapi beberapa langkah kakinya berjalan terdengar suara “braaaaaaaakkkkkkkkk”, Zahira terjatuh dari motornya karena menghindari orang yang menyabrang di depannya tanpa menengok kanan kiri. Keselamatan Zahira belum sampai di situ saja, dari arah belakang ada si pengendara motor kencang menabrak Zahira dan dia pun terjatuh lagi. Si pengendara motor tersebut lari meninggalkan Zahira yang tergeletak di tengah jalan dengan tak sadarkan diri.

pict hijab 2

Suasana ramai di jalan itu. Teriakan minta tolong berlomba begitupun suara sirine mobil polisi yang akhirnya membawa Zahira ke rumah sakit. Kecelakaan itu membuat tangan Zahira patah dan kepalanya benjol karena pembekuan darah. Dokterpun segera melakukan operasi penyambungan tangan Zahira dan pengobatan pada benjol di kepala Zahira.

“Ya Allah…gelap mataku tak bisa melihat dengan jelas jalan yang di depanku. Kaki ku sakit susah berjalan. Kepalaku pusing. Tanganku sakit. Aku di mana? Gelap jalan ini,” Zahira di saat operasi itu berlangsung. Pukul tiga sore, Zahira sudah sadarkan diri dan merintih menangis kesakitan. Tangannya belum bisa untuk digerakkan dengan normal. Dia masih berbaring lemah. Suara lirih Zahira “Aku masih hidup..Alhamdulillaaah…terima kasih Allah.”

pict hijab 1

Empat hari berbaring di tempat tidur kamar inap Zahira akhirnya tersenyum manis kembali. Dokter spesialis orthopedi mengijinkan Zahira pulang. “Terima kasih dokter,”senyum manis nya. Sampailah di rumah kesayangannya dan kembali berkumpul dengan keluarga. Langkah kaki riang masuk membuka pintu rumah akan tetapi, “tunggu ibu ayah…Zahira mau ijin. Zahira ingin berhijab. Kejadian ini membuat Zahira ingin berhijab. Ini cara Allah menegurku karena ku sudah terlalu banyak memanfaatkan waktu untuk bermain tak menghiraukan kata hati-hati dalam segala hal,” sambil tersenyum manis dan berwajah sedih.

pict hijab 3

“Hidayah itu ku rasakan di ruang operasi. Jalannya gelap sehingga aku tak bisa melihat jelas apa yang ada di depan aku. Ini bulan suci Ramadhan, sudah saatnya aku mencari jati diriku,” sambil melihat langit malam. Tidak mudah menaruh hijab dalam hati dan memakainya di kepala. Selain itu, kebimbangan bisikan penghalang berhijab semakin meronta didengar. Ada yang salah dengan hijab Zahira? Zahira tak putus asa untuk mencoba kembali memakai hijbanya dalam kesehariannya. Walau dia masih belum mahir dalam memotif hijabnya. Rasa malu, bimbang, sedih, takut menyatu seolah memberontak hati Zahira. Zahira memang lemah, hatinya sering kali menangis tetapi dia terus dan terus belajar untuk tak menghiraukan penghalang itu. Alhamdulillah Zahira hidup kembali dengan hijabnya. Hijab tak menghalangi apapun yang kita cita-citakan. Karena Tuhan selalu menemani hidup kita dan langkah kita.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.