Berpikir Beda

Wesiati Setyaningsih

 

Tahun ajaran baru berarti kegilaan baru, begitu kata teman saya Joseph Chen. Dia benar sekali. Di tahun ajaran baru dengan kurikulum baru ini berarti banyak ‘mainan’ baru yang mesti saya siapkan. Melihat materi di kelas XI ada giving opinion, di perkenalan awal saya sudah segera mengajak anak-anak untuk mencoba berpikir berbeda.

Setelah memperkenalkan diri kepada sebagaian anak yang kemarin tidak saya ajar, iseng saya mengajak mereka berpikir untuk mencari alasan atas mosi “pelajar seharusnya tidak memakai seragam”.

out-of-the-box

Ketika topik ini saya sampaikan, awalnya semua anak di tiap kelas yang saya masuki (saya mengajar dua kelas IPA dan 3 kelas IPS). Di kelas Sosial ada anak yang tidak mengenakan dasi.

Saya tanya, “Do you like wearing uniforms?”

Anak itu terdiam. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak berani.

“Kalo kamu suka pake seragam, kenapa dasinya nggak dipakai. Padahal aturannya kalo pakai seragam OSIS kan harus pake dasi,” lanjut saya.

Beberapa anak tertawa. Anak itu dan beberapa teman lainnya yang juga tidak memakai dasi segera merogoh tas untuk mengambil dari dan mengenakannya. Itu sebuah tindakan yang bagus meski yang saya harapkan tadinya hanya jawaban mengenai alasan kalau mereka semestinya tidak memakai seragam.

Pertanyaan apakah mereka suka memakai seragam dijawab ragu beberapa anak yang mengatakan tidak. Saya katakan, memakai seragam memang harus karena memang itu aturan yang sudah ditegakkan di sekolah. Tapi itu bukan berarti bahwa mereka tidak punya hak untuk berpikir sebaliknya, “kenapa kita harus pakai seragam?” atau “kita harusnya tidak pakai seragam, karena…. bla..bla..bla..”

Saya menggambar sebuah kotak di papan tulis, saya bilang, “this is the box and you are in this box. But you may think out of the box.”

“Coba posisikan anda di luar kotak meski anda ada di alam kotak. Bayangkan ada di luar sini. Apa yang kira-kira akan anda pikirkan?”

Anak-anak masih saja ragu. Jujur dalam hati saya agak prihatin. Anak-anak ini sudah terlalu lama dicekoki mana yang baik dan mana yang tidak baik. Semua orang akan berpikir bahwa seragam itu baik untuk dikenakana karena itulah yang diterapkan pada mereka pada mereka sejak kecil. Bisa jadi mereka bahkan bangga mengenakan seragam sejak masuk TK.

Mereka tak mungkin berpikir bahwa memakai seragam juga menyeragamkan cara berpikir yang harusnya dihargai. Sementara tiap orang adalah pribadi yang berbeda dan sejak kecil hal ini sudah dicederai dengan pemakaian seragam.

Tentu saja mengenakan seragam tidak sepenuhnya negatif. Apa yang saya sampaikan itu hanya sekedar berpikir “bagaimana kalo kita mestinya tidak pakai seragam. Maka alasan apa yang bisa kita buat?”

Sebenarnya mengenakan seragam ada keuntungannya juga, salah satunya sebagai identitas. Ketika berada dalam kegiatan di luar sekolah, seragam bisa membuat seorang siswa dikenali. Dan ini cukup penting untuk menangkal tindakan negatif. Juga bahwa ‘sense of belonging’ terhadap institusi dan rekan satu sekolah bisa dipupuk dari sini. Asal tidak dalam konteks solidaritas yang negatif seperti tawuran, misalnya.

Apa yang saya sampaikan pada anak-anak hanyalah bahwa kita boleh berpikir dari sisi lain yang dipijak banyak orang, dan hal ini harus dibiasakan. Bukan berarti mereka harus melawan apa yang ada. Saya tidak mengajarkan mereka jadi pemberontak karena buat saya diplomasi yang baik itu lebih bagus. Saya hanya mengajak mereka berpikir kritis.

Ketika mereka diminta memakai seragama, mereka boleh kok berpikir, “kenapa sih aku harus pakai seragam?”. Meski bukan berarti mereka harus segera berontak dengan tidak mengenakan seragam. Tindakan kita harus tetap sesuai aturan. Tapi pikiran kita tidak boleh berhenti di situ saja.

Kita bisa saja tetap menjalani MOS atau OPSPEK yang konyol dengan perintah-perintah yang tidak masuk akal atau bentakan-bentakan yang menyakitkan hati. Tapi kita mesti menjaga nalar bahwa hal tersebut sebenarnya tidak penting sehingga kita tidak terseret untuk menjadi panitia MOS atau OPSPEK yang gantian menganiaya orang lain di kemudian hari.

i__m_out_of_the_box_by_herryc-d341h9v

Semua orang boleh bicara bahwa calon presiden A itu paling hebat, tapi daya kritis kita juga harus tetap jalan untuk mengupas kira-kira sejauh mana program yang dia canangkan itu bagus untuk negara ini.

Intinya, jangan pernah berhenti berpikir kritis meski kondisi mengharuskan kita untuk tetap berada dalam situasi tertentu. Itu kira-kira pesan saya. Saya hanya berharap mereka menjadi pribadi-pribadi yang berani berpikir berbeda dari orang kebanyakan.

Begitulah saya mengawali pelajaran saya di kelas XI, memberikan gambaran bahwa kita tetap punya hak untuk berpikir dari sisi yang berbeda. Karena tempat kita berdiri selalu memberikan perspektif yang berbeda, dan perspektif yang berbeda menimbulkan persepsi yang berbeda juga.

Itu saja yang saya inginkan dari murid-murid saya. Berani berpikir beda.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *