Bila Pantat Terasa Dingin

Fire – Yogyakarta

 

Beberapa minggu ini udara Jogja terasa lebih dingin. Kalo nggak salah ini juga dampak dari badai Rammasun di Philipina. Saya pernah ngobrol sama temen soal dinginnya udara Jogja ini, tapi waktu itu lupa nama badainya apa, ingatnya cuma ada huruf r, m, n, “Wah ini pasti badai Raminten ….”

Halah, gara-gara dingin-dingin perut lebih cepat lapar kok ingatnya malah Raminten …

Kembali ke soal dinginnya udara. Di rumah ada kloset duduk dan kloset jongkok. Biasanya kloset duduk yang lebih favorit. Tapi, kalo lagi udara dingin begini, tentu saja nggak nyaman berlama-lama “bertapa” di kloset duduk. Apalagi kalo pas jam puncak dinginnya udara, brrr … pantat terasa membeku. Kecuali kalo panjenengan pendekar kungfu kayak di cersilnya Kho Ping Hoo, jadi bisa menggunakan ginkang dan sinkang untuk memanaskan pantat biar nggak kedinginan. Wah hebat juga ya, sambil ngeden sambil melatih ginkang, kayaknya nggak ada pendekar kungfu yang bebelen biarpun kebanyakan makan salak.

Habis BAB, pas waktunya cebok juga akan terasa dinginnya air. Tapi ada tips biar nggak kedinginan waktu BAB, bawalah termos air panas ke WC. Pertama, itu bermanfaat untuk menyiram sekeliling bibir kloset agar suhunya lebih “bersahabat” dengan pantat kita. Kedua, airnya bisa buat cebok, tapi jangan langsung dari termos ya, selain ora ilok, juga  kepanasan maka campur air bak secukupnya dulu. Tentu saja saran kedua ini nggak cocok buat yang klosetnya pake jet washer. Mungkin perlu pemikiran agar kloset lebih butt-friendly atau ramah-bokong, baik saat panas atau dingin, dan juga saat wudunen. Apakah kloset plung-lap termasuk kloset yang ramah-bokong?

Tahun 90-an, naik KA ekonomi, penumpang berdiri bisa lebih banyak dari yang kebagian tempat duduk. Tidak seperti sekarang, dimana setiap tiket dijamin pasti dapat kursi. Waktu dulu, kalo nggak kebagian kursi, saya pilih selonjoran di bawah. Sebelumnya persiapan dulu bawa koran bekas, atau beli dari anak-anak kecil yang banyak mengasong lembaran koran bekas tersebut. Tujuan utamanya bukan melindungi pantat biar nggak kotor, karena toh kalo soal kotor, selama kita lesehan itu sudah sering diinjak-injak terutama kaki pedagang asongan, yang biar bagaimanapun penuhnya gerbong kereta dan susahnya untuk lewat, tetap saja mondar-mandir menawarkan dagangan. Dengan koran yang agak tebal, pantat kita tidak terlalu merasa dinginnya lantai gerbong, apalagi kalo pas perjalanan malam.

Mungkin kita pernah di suatu tempat, mendapati kursi-kursi dibiarkan kosong, sementara orang malah pada memilih berdiri. Ternyata setelah coba duduk, kursinya terasa dingin di pantat, biasanya ini karena kursi dari besi. Nah, agar pantat kita tidak kedinginan, ada triknya. Pertama, kalo kita bawa remason, sebelum duduk, olesi dulu pantat dengan remason secukupnya, ntar kalo sudah duduk, maka dinginnya kursi akan ternetralisir dengan hangatnya remason di pantat, sehingga tercapailah keseimbangan suhu di pantat. Ingat, ya oleskan remason pada pantat sendiri, jangan pada kursi, apalagi dioleskan ke pantat orang lain. Kedua, kalo bawa korek gas, bisa panasi dulu kursi tersebut sehingga cukup hangat untuk kita duduki. Ingat, panasi kursinya bukan pantat kita, apalagi pantat orang lain. (NB: segala dampak penerapan trik ini menjadi resiko sendiri).

Saya jadi ingat dulu di sekolah ada anak-anak yang “berbaik hati” menggunakan korek api untuk “menghangatkan” pantat temannya tanpa diminta. Kalo yang ini sih memang becandanya kelewatan, kasihan kadang ada yang celananya sampe bolong.

Kita mungkin ingat kalo pas udara dingin, kita gosok-gosokkan telapak tangan kita agar terasa hangat. Mungkin bisa dicoba, kalo pantat kita terpaksa menduduki tempat yang dingin, sebelumnya kita gosok-gosok dulu dengan telapak tangan kita. Ntar, kalo sudah duduk agak lama terasa dingin, coba berdiri dulu lalu gosok-gosok lagi, duduk lagi, gosok-gosok lagi, duduk lagi, … dan begitu seterusnya. Itulah gunanya kemana-mana selalu membawa koran bekas, siapa tahu kita mesti duduk di tempat yang tidak ramah-bokong. Apalagi kalo pantat kita diasuransikan seperti pantatnya Jeniffer Lopez. Tapi kayaknya nggak mungkin kalo Jeniffer Lopez ke mana-mana bawa koran bekas. Mungkin saja Jenifer Lopez punya asisten pribadi yang bertugas khusus untuk menjaga keamanan dan kehangatan pantatnya.

Kembali ke soal gosok-menggosok agar hangat tadi, mana yang sebaiknya digosok-gosok, apakah tempat duduknya, atau pantatnya, atau keduanya? Itu terserah panjenengan, tapi saya sangat tidak menyarankan untuk menggosok-gosok pantat orang lain …

 

 

About Fire

Profile picture’nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi.

Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *