[Keluarga Senthir – Setengah Kenthir] Ramadan is Coming (2)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Ping Ping duduk di depan TV, asyik nonton Spongebob. Dan selama 15 menit di depan TV dia sudah saling sepak dengan Mamat, berebutan remote.

“Ping!!! Aku mau nonton Parah Kuin (Farah Quinn), acara masak!”, Sahut Mamat sambil menjambak Ping Ping.

“Enak aja! Aku kan duluan di sini, aku maunya lihat Sponge Bob”, Jerit Ping Ping sambil menggetok Mamat pakai remote. Dan keduanya saling bergulat bagai dua sumo.

Iklan di TV agak menyesatkan, iklan sirop, kue dan lain-lain kini memakai suara bedug Magrib. Dian yang sedang duduk manis di teras pun jadi salah tanggap, tanpa ragu dan malu dia menenggak air yang ada di kendi. Wiwi tak mau kalah, ia pun salto 4x di udara dan merebut kendi berisi air putih nan segar. Dia bagai pendekar mabuk. Joe Taslim kucing kesayangan Wiwi hanya menjadi saksi bisu betapa majikannya memang sudah kurang waras.

Bunda yang sedang sibuk menata ayam panggang kaget melihat Dian dan Wiwi bagai dewa mabuk berebut kendi. “Heiiii!!! Kalian ini aneh bingit, ini baru jam 2 siang! Kenapa semua jadi rela batal?”.

Wiwi melongoh, “Hah??? Tapi aku denger suara bedug, sumpah Tante!”.

Dian ikut bicara, “Iya Bun, lha wong udah bedug koq”.

Tanpa ragu keduanya kembali asik menenggak air kendi, kelakuannya mirip pendekar mabuk.

Tiba-tiba terdengar lagi suara bedug dan itu berasal dari TV di ruang tengah, “Ohhh dasar kalian memang tidak ikhlas Puasa! Itu kan iklan sirop??”, Seru Bunda jengkel.

Wiwi dan Dian diam dengan mulut gembung berisi air, mau ditelan tapi belom bedug, mau dibuang kok seger.

 

*****

 

Tante Rus mendapat tugas menata nasi berikut 3 macam lauk di dalam kotak. Tante Rus ini kalau perutnya kosong gampang sekali mengantuk dan tidak fokus, “Duh sirahku mumet ngantuk bingit deh”, Gumam Tante Rus.

Saking nggak konsen, dia pun salah memasukkan lauk, bukannya ke dalam kotak tapi ke dalam mulutnya. Bunda yang masuk ke dapur melihat mulut adiknya penuh makanan. “Dek??? Kamu batalin Puasa? Aduh kenapa sih kalian ini tidak sadar juga kalau Puasa itu wajib?”, Seru Bunda sambil duduk di kursi.

Tante Rus menelan makanan sampai melotot lantaran seretan, “Mbak! Aku lupa …. Lha abisan aku ngantuk, aku ya bingung, aku puasa tapi kok rasa perutku wareg”, Jawab Tante Rus lalu bersendawa.

Bunda hanya lemas, begitu beratnya ujian kesabaran yang harus diterima dengan hati lapang, dan bahan ujian itu justru dari keluarganya sendiri.

 

*****

 

Sore itu Didot sudah mandi, dia tetap memakai kemben yang tadi siang dan celana pendek warna jingga. Sepatu high heels warna putih melengkapi tampilannya. “Aku mau ngabuburit ach”, Ujar Didot sambil memakai bulumata palsu dan memulas lipstick warna merah cabe.

Wiwi, Ping Ping, Ikhasur, Tekwan dan Dian tak mau ketinggalan. Mereka berjalan dengan gaya dandanan yang bikin sakit mata. Mamat masih mendapat tugas mulia menimba untuk mengisi bak dan dia sudah 6x terjungkal ke dalam sumur. Bunda dan Tante Rus sedang sibuk mengantar pesanan ke rumah Tante Dora.

Beda dua rumah di sebelah rumah Mbah Gunung ada rumah Bu Kentung. Rumah itu merangkap kost-kost-an sederhana dan di sana ada penghuni baru bernama Nana Endek (sepupu Nana Anjang). Nana ini OKB dan sok cantik. Dia sangat hobi mencela dan pamer. Dan sore itu dia lagi mejeng di depan halaman sambil memegang HP merek Buangwae. Dia sibuk selfie sambil asyik memuji dirinya sendiri.

“Cantiknya wajahku dan keren, jelas itu terpampang dengan natural”, Ujar Nana mengagumi wajahnya yang bagai penari ronggeng. Bedak putih nampak abu-abu di wajahnya yang keling lalu lipstick merah tua juga alis melengkung yang membuat wajahnya terlihat kaget belum lagi idung super pesek yang kerap membuatnya sulit bernafas.

Dan tepat Didot melintas di depannya, Nana memandang sinis ke dandanan Didot yang ‘berani’, ada rasa iri di hati Nana dan ia pun berkicau, “Ihh!!! Kok ada orang dandanannya kamso ya?? (Kampungan Ndeso)”.

Didot yang memang membenci Nana jelas merasa terhina dina mariana, dia pun membalas, “Lho??? Ada beruk pake bedak? Abu-abu gitu sih hasilnya? Atuuut ach!”

Nana buru buru mengintip wajahnya dari kaca bedak dan memoles lagi pipinya agar terlihat putih, “Duh! Apa sih salahku?? Harus bertetangga sama orang miskin?? Papi tega bener nge-kost-in aku di sini!!! Nggak level ich!!”, Seru Nana lantang.

Wiwi merasa terusik, miskin apaan? Lha Mbah Gunung terkenal kaya dan pelit (eh!!) Bisa-bisanya ada yang bilang miskin. Wiwi pun mulai sibuk menyindir Nana, “Wealaaah!! Muka apa cobek ya? Kok mirip? Gayane Papi?!! Biasanya ya Pakne!”, Wiwi berceloteh sambil pura-pura mencari sesuatu di-tas Praja yang baru seminggu dibelinya dari hasil nilep duit Mbah Gunung.

Nana langsung tertuju pada tas Praja warna merah, dalam hati dia kagum dan jelas kepingin, tapi dia tak mau kalah, “Tasnya keliatan murah, soal selera memang aku juaranya, tas Mikel Kost (Michael Kors) punyaku jelas mahal nih, aku beli aja 100.000, dasar rakyat jelata”.

Ucapan-ucapan dari bibir Nana yang berpotensi mengajak batal berjamaah nampaknya tidak disadari anak anak Sentir yang dasarnya Puasa terpaksa.

 

*****

 

Di depan rumah Bu Kentung pagarnya berupa kolam ikan ukuran 2×6 meter. Tujuannya agar unik dan sejuk saat udara panas begitu cetar membahana. Nana dengan kemayu duduk di bibir kolam yang terbuat dari batu ukuran 30×30 sambil terus berceloteh, “Itu cewek-cewek badannya kok pada melar? Pada kecebur minyak tanah ya jeng? Trus kerendem semaleman? Aku kok dari lahir badannya sexi ya? Padahal nggak ngoyo lho olah raga ngumbar paha”.

Deretan kalimat itu bagai pribahasa, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, Ikhasur, Ping Ping dan Dian langsung tersindir. Ikhasur pun berpelukan dengan Ping Ping yang diduga kecebur kedalam minyak tanah, keduanya langsung yakin dulu waktu bayi sempat kecebur minyak tanah. Sementara Dian yang emosian merasa ‘panas’.

“Hehh?! Mulutmu yang kaya pantat ayam itu minta tak sobek ya? Kalo gue suka pakek celana pendek, masbuloh??”, Seru Dian sambil maju mendekati Nana dan menunjuk nunjuk idung pesek Nana.

Kejadian tak terduga membuat sore yang panas itu menjadi basah. Ping Ping yang memakai sepatu gaul dengan tinggi 12 cm tiba-tiba haknya patah. Gara-gara Tekwan jongkok maka Ping Ping kesandung dan langsung kejlungup (nyungsep). Ping Ping menabrak pantat Dian yang bohai dan membuat Dian terpental menimpa Nana yang duduk di bibir kolam. Nana kejengkang ke dalam kolam berdua Dian. Empat ekor ikan sapu-sapu menggigit bibir dan hidung pesek si Nana.

Dian megap-megap lantaran kaget tiba-tiba nyebur ke dalam air. Tekwan meloncat berusaha menyelamatkan Dian namun Ikhasur yang genit justru tertabrak Tekwan dan keduanya ikut masuk kolam. Didot tersiram air kolam yang meluap mengakibatkan dia basah kuyup dan kembennya dengan sukses melorot. Wiwi tertawa terbahak bahak hingga tanpa sadar 2 ekor lalat ijo masuk ke mulutnya dan tertelan.

“Ihhh anak-anak kampung ini sialan banged sih?! Walau aku tetep cantik tapi terpaksa aku mandi lagi deh!!! Mana sabunku cuma ada di luar negri dan shampoo-ku harus pesen dari Jakarta”, Jerit Nana sesaat dia bisa keluar dari kolam.

Tiba-tiba ada seseorang mendorong Nana hingga dia masuk lagi ke dalam kolam, ternyata Tante Rus pelakunya. “Bocah oq cangkeme ombo bingit!”, Ujar Tante Rus.

Bunda cukup menabuh piring kaleng dan anak-anaknya yang jayus segera berlarian menuju halaman rumah dalam kondisi basah dan kucel, kecuali Wiwi yang klamut klamut abis nelen lalat ijo dua biji.

“Bunda nggak habis pikir! Kalian ini Puasa karena terpaksa! Lihat akibat dari ulah kalian, semua batal!!”, Ujar Bunda sambil memandangi anak-anaknya.

“Nah karena dari mulai sahur hingga mendekati Magrib kalian selalu buat masalah, maka tidak ada hidangan berbuka, kalian toh sudah batal dari tadi. Itu es teh manis sudah siap di meja tapi tidak ada makanan. Nah sekarang Bunda mau berbuka dulu, kalian mandi dengan tertib”, Ujar Bunda menutup rapat darurat sore itu.

Anak-anak tidak berani membantah selain gerendengan kaya nyamuk. Dan Bunda sudah duduk di meja dengan satu gelas es blewah, nasi hangat dan ikan penyet, lalu sedikit asesories berupa kolak pisang dan jajanan pasar.

Tante Rus heran waktu Bunda hanya menyiapakan satu porsi, “Lho? Lho? Lhoooo????? Kok jatahku ndak ada Mbak???”, Seru Tante Rus panik.

Bedug bertalu talu, Bunda menyeruput es blewah lalu menjawab, “Lho kamu lupa? Tadi jam 3an lewat siapa yang makan sambil ngantuk ngantuk? Kan itu tanda udah batal”, Jawab Bunda sambil menggigit tempe tepung dengan cabe rawit.

Tante Rus terduduk lemas dan kecewa dengan hidung kembang kempis tergoda aroma masakan yang lezat.

 

To be continued …

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.