Terbitnya Harapan

Djenar Lonthang Sumirang

 

Bibit jarak kini berubah menjadi pohon jati. Pemimpin baru lahir dari kalangan tukang amplas kayu.

Hari yang panjang dan menegangkan selama sehari kemarin,(22/7), seperti purna dengan pidato kemenangan dari pasangan presiden dan wakil presiden terpilih: Joko Widodo dan Jusuh Kalla. Hujan yang jatuh di hampir seantero ibukota Jakarta pun menambah kesejukan di dermaga 9, pelabuhan Sunda Kelapa.

Hujan yang baru reda, meninggalkan genangan air di mana-mana, di sekitar dermaga 9, 10 dan 11. Pun demikian, tak menyurutkan keinginan masyarakat sekitar, dan buruh pelabuhan menyaksikan pidato kemenangan.

Waktu hampir menginjak pukul 11 malam. Dua buah speedboat mendekati kapal layar, “Hati Buana Setia”, dan merapat di sisi kanan kapal. Rancak tetabuhan, yang dimainkan sebuah grup musik, bertalu-talu, bercampur dengan jalinan sinar laser di sekitar kapal, menyambut Jokowi dan Jusuf Kalla.

IMG_4861

Di depan puluhan awak media dari dalam dan luar negeri yang berbaur dengan masyarakat sekitar Sunda Kelapa, Jokowi pun membacakan pidatonya.

Sarat pesan. Sarat harapan. Sarat optimisme. Sarat ajakan untuk bersatu. Semuanya bermuara pada satu cita-cita: maju bersama.

“Semangat gotong royong itulah yang akan membuat bangsa Indonesia bukan saja akan sanggup bertahan dalam menghadapi tantangan, tapi juga dapat berkembang menjadi poros maritim dunia, locus dari peradaban besar politika masa depan,” ujarnya.

Di Jawa, pernah pula lahir seorang raja, yang kisah epiknya beredar di masyarakat. Jika boleh, mundurlah sekira lima abad lampau. Suatu masa di mana Demak masih berdiri sebagai kerajaan.

IMG_4863

Kala itu, Demak diperintah oleh Sultan Trenggana (1483-1546), anak senapati Jimbun atau lebih dikenal sebagai Raden Patah, raja pertama Demak. Suatu kali, Trenggana bersama istrinya blusukan ke pedalaman Jawa, dengan menaiki sebuah sampan atau perahu. Selain mereka berdua diatas perahu, juga ada awak pendayung, dan beberapa pasukan pengawal. Salah satu dari pasukan ini adalah Joko Tingkir.

Saat mengarungi Bengawan Solo yang tenang, tiba-tiba perahu yang ditumpangi Trenggana oleng. Sebuah gerakan ganas di bawah air menciptakan ombak yang membuat sungai keruh. Trenggana heran, lalu mengutus Joko Tingkir memeriksanya. Tak berpikir panjang, ia menceburkan diri. Dan di sekitar perahu, ia menemui seekor buaya yang sedang marah. Ia pun bertarung dengan buaya tadi. Buaya kalah dan dapat diangkat ke perahu.

Bukan main kagetnya Trenggana, melihat buaya raksasa diangkat Tingkir ke perahunya. Lebih terperanjat lagi melihat kekuatan Joko Tingkir. Ia kagum. Joko Tingkir pun mendapat kepercayaan Trenggana. Dan kelak, ia dapat menghancurkan Demak, lalu menjadi raja di pedalaman, dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Kisah Joko Tingkir mengarungi Bengawan Solo ini menjadi legenda hingga saat ini.

Sekarang, presiden terpilih juga muncul dengan aksi di atas kapal layar. Bukan hendak othak-athik gathuk, namun nama depan mereka sama: Joko.

IMG_4874

Sama-sama pernah dekat dengan Bengawan Solo. Namun nasib Joko Widodo lebih baik. Ia tak menaiki perahu, namun kapal pinisi yang terkenal dapat njajah segara.

Selamat untuk pemimpin baru. Rahayu. Rehayu. Rihayu.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *