Ekowisata Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran

Wiwit Sri Arianti

 

Pagi ini mentari bersinar cerah, perlahan mulai merambat naik ketika kami memacu kendaraan menuju kota Wonosari kabupaten Gunungkidul dengan tujuan awal untuk “nyekar” atau ziarah ke makam leluhur. Kebiasaan ini kami lakukan setiap kali kami sedang berada di Jogjakarta untuk membersihkan makam dan mendoakan para leluhur yang sudah lebih dulu dipanggil Tuhan. Memang mendoakan para leluhur tidak harus datang ke makam karena bisa kita lakukan dimana saja. Namun jika kita datang langsung ke makam ada manfaat juga untuk diri kita, yaitu mengingatkan diri sendiri bahwa suatu hari nanti kita juga akan mendapat giliran menerima panggilan dan menjadi salah satu penghuni makam tersebut. Sehingga dapat memotivasi diri untuk memanfaatkan sisa usia ini dengan sebaik-baiknya agar dapat memberikan kebaikan juga bagi sesama.

Ketika perjalanan sudah mulai menanjak tiba-tiba suami menceritakan tentang pengalamannya berdiskusi dengan teman-teman aktifis lingkungan dalam mengelola salah satu kawasan menjadi ekowisata yang menarik. Namanya Gunung Api Purba Nglanggeran, tentu saja cerita tersebut membuatku tertarik untuk mengunjungi karena aku belum pernah kesana dan niatku disetujui oleh suami, jadilah kami berdua belok arah menuju Nglanggeran sebelum sampai di makam leluhur.

embung-nglanggeran (1)

Ucapan selamat datang bagi para pengunjung ini berada di ujung jalan sebelum memasuki kawasan ekowisata gunung api purba Nglanggeran. Begitu sampai kita langsung disambut oleh beberapa pemuda berseragam karang taruna warna hijau cerah senada dengan kawasan disekitarnya yang hijau menyejukkan. Memang Kawasan Ekowisata Gunung APi Purba Nglanggeran dikelola secara profesional dan mandiri oleh pemuda dan pemudi setempat yang tergabung dalam Sentra Pemuda Taruna Purba Mandiri, Pokdarwis dan karang taruna BUKIT PUTRA MANDIRI. Apreciate buat pemuda pemudi or remaja yang mempunyai kepedulian pada daerahnya terlebih berkaitan dengan kelestarian lingkungan.

Gunung Nglanggeran terletak di kawasan Baturagung di bagian utara Kabupaten Gunungkidul dengan ketinggian antara 200-700 mdpl, tepatnya di desa Nglanggeran Kecamatan Patuk dengan jarak tempuh 22 km dari kota Wonosari . Kawasan ini merupakan kawasan yang litologinya disusun oleh material vulkanik tua dan bentang alamnya memiliki keindahan dan secara geologi sangat unik dan bernilai ilmiah tinggi. Dari hasil penelitian dan referensi yang ada, sehingga gunung Nglanggeran ini dinyatakan sebagai gunung berapi purba.

Untuk mencapai gunung api purba ini dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan dari Jogjakarta sekitar 25 KM dengan jarak tempuh 40-50 menit menggunakan sepeda motor atau 60-90 menit dengan mobil karena kondisi jalanan sekarang mulai padat. Perjalanan dari Jogjakarta menuju Wonosari akan melewati Bukit Bintang/Bukit Patuk yang biasanya digunakan oleh para remaja menatap Sunset. Lokasi Gunung Api Purba desa Nglanggeran tidak jauh dari lokasi itu kira2 perjalanan 15 menit atau 7 Km. Dari bukit bintang masih naik sampai Polsek Patuk atau bisa juga lewat GCD FM, setelah tanjakan belok kiri ke arah Stasiun Relay INDOSIAR dan beberapa stasiun TV lainnya di Desa Ngoro-oro. Ikuti saja jalan mulus itu sampai Puskesmas Patuk II atau Puskesmas Tawang, belok ke kanan sudah sampai deh.

Nah, bagaimana jika tidak ada sepeda motor dan kendaraan sendiri, kita bisa ngecer alias naik kendaraan umum, dari Jogjakarta silahkan naik bus jurusan Jogjakarta-Wonosari. Naiknya bisa dari Terminal Giwangan atau dari Perempatan Ketandan (Ringroad). Setelah itu turun di Patuk dan dilanjutkan dengan naik ojek. Soal tarif saya nggak ngerti karena belum pernah ngecer hehehe… Di bawah ini foto pemandangan dan jalan menuju ke Gunung Api Purba Nglanggeran.

embung-nglanggeran (2)

Setelah memarkir kendaraan, kita akan disambut oleh bangunan joglo di pintu masuk dan bila kita melangkah kejalan setapak untuk mendaki gunung, maka ada 3 bangunan gardu pandang sederhana dari ketinggian yang rendah, sedang sampai puncak gunung. Pemadangan unik dan indah disekelilingnya berupa sawah nan hijau dan tidak jauh dari situ terdapat bangunan tower dan berbagai stasiun televisi yang jumlahnya cukup banyak, manambah keindahan alam. Lokasi ini sangat cocok untuk panjat tebing, tracking, jelajah wisata dan berkemah.

Gunung Nglanggeran terdiri dari banyak macam gunung didalamnya, yang memiliki nilai historis dan bentuk gunung yang memiliki nilai sejarah tinggi. Di bawah ini foto salah satu atap pendopo dan jalan setapak dengan latar belakang beberapa gunungnya.

embung-nglanggeran (3)

Konon katanya, asal nama Gunung Nglanggeran dari kata Planggaran yang mempunyai makna setiap ada perilaku jahat pasti tertangkap/ketahuan. Ada juga yang menuturkan Gunung Nglanggeran berasal dari kata Langgeng artinya desa yang Aman dan Tentram. Selain sebutan Gunung Nglanggeran gunung yang tersusun dari banyak bebatuan ini disebut Gunung Wayang karena terdapat Gunung/bebatuan yang menyerupai tokoh pewayangan. Menurut kepercayaan adat jawa Gunung Nglanggeran dijaga oleh Kyi Ongko Wijoyo dan Punokawan. Punokawan dalam tokoh pewayangan adalah: Kyai Semar, Kyai Nolo Gareng, Kyai Petruk, dan Kyai Bagong.

Gunung Nglanggeran juga memiliki nilai historis tinggi. Gunung Nglanggeran dipercaya sebagai Gunung Wahyu karena gunung tersebut diyakini sebagai sarana meditasi untuk memperoleh wahyu dari Tuhan YME. Air dari gunung Nglanggeran/Gunung Wahyu sering diambil oleh Abdi dalem dari Kraton Jogjakarta sebagai sarana mohon ketentraman dan keselamatan semua masyarakat DI Jogjakarta. Ada sebuah telaga namanya Tlogo Mardidho dan Arca tanpa kepala dan menurut keterangan saat ini kepala arca tersebut tersimpan di Museum Sono Budoyo Jogjakarta. Kepala patung tersebut ditemukan oleh salah satu warga Nglanggeran yang bernama Kyai Kromo Suwito ( Paimin) sekitar tahun 1961 dipekarangan rumahnya. Kepala patung tersebut mirip Kendedes dengan kepala perunggu dan bibir berlapis emas. Jadi penasaran nih, perlu dibuktikan, suatu hari nanti aku akan pergi ke museum Sono Bodoyo untuk menengok kepala arca tersebut.

Inilah foto hamparan gunung api purba Nglanggeran di lihat dari salah satu tanjakan jalan menuju gunung tersebut.

gunung1

gunung2

Masih di kawasan sekitar gunung api purba Nglanggeran, terdapat Embung Nglanggeran merupakan telaga yang terletak di puncak bukit. Untuk mencapainya, kita harus mendaki puluhan anak tangga yang berkelak-kelok. Sebelum dibangun menjadi embung dan diresmikan oleh Sultan Hamengku Buwono X pada 19 Februari 2013, tempat ini dulunya adalah sebuah bukit bernama Gunung Gandu. Bukit tersebut lantas dipotong dan dikeruk, kemudian dijadikan telaga tadah hujan supaya bisa mengairi kebun buah rakyat seluas 20 ha yang ada di sekitarnya. Selain berasal dari air hujan, embung ini juga menampung air dari Sumber Sumurup yang terletak di Gunung Nglanggeran.

Mumpung masih berada di sekitarnya, akupun tidak melewatkan kesempatan ini, perjalanan berlanjut menuju embung. Embung Nglanggeran merupakan salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan sunset di atas langit Jogjakarta. Permukaan air telaga yang tersepuh bias mentari senja dan gugusan gunung api purba di sisi kanan akan menjadi orkestra senja yang indah dan Gunung Api Purba Nglanggeran Laksana Benteng Penjaga Telaga.

Jika ingin menikmati keindahan Embung Nglanggeran, Anda cukup membayar retribusi sebesar Rp 3.000 per orang dan biaya parkir sebesar Rp 2.000 per motor. Untuk mobil berapa ya, aku kok lupa soalnya kemaren gak bayar sih karena hubungan pertemanan sesama aktifis lingkungan jadi gratis deh. Wah,..untung juga ya kalau banyak teman jadi ngirit hehehe…

embung-nglanggeran (4)

Narsis dulu ah di pinggir embung, cantik to pemandangannya. Jika cuaca sedang cerah, sekitar jam 4 sore mentari sudah condong ke barat dan sinarnya sudah berubah menjadi keemasan, pasti sangat indah. Karena telaga terletak di ketinggian di atas bukit dan tidak ada pohon-pohon besar maupun bangunan tinggi yang menghalangi pemandangan, kita bisa melihat senja dengan sempurna. Kita juga bisa menikmati keindahan alam di sekitar embung dengan berjalan kaki mengelilingi embung itu sambil merasakan lembutnya semilir angin yang menyejukkan. Kita tidak perlu kuatir kaki lempor, karena embungnya hanya kecil, berjalan muter mengelilingi embung hanya butuh waktu tidak sampai 15 menit.

Embung Nglanggeran juga dikelilingi oleh kebun buah rakyat. Ada banyak pohon buah yang di tanam di sekitar embung, mulai dari pohon durian, mangga, rambutan, dan pohon-pohon lainnya. Bayangkan saat musim buah tiba, pohon-pohon tersebut dipenuhi buah-buahan yang sudah matang dan tinggal di petik. Tapi tunggu dulu, karena panennya masih sekitar 3 atau 4 tahun lagi karena pohon-pohon buah di kebun buah tersebut baru saja ditanam dan diresmikan oleh Sultan Hamengku Buwono X tahun lalu jadi pohonnya masih kecil-kecil hehe… di bawah ini foto pak Warno narsis di papan peresmian kebun.

embung-nglanggeran (5)

Di belakangnya terlihat salah satu tangga yang harus kita lewati untuk sampai ke embung.

Meskipun Embung Nglanggeran tidak begitu luas dan di dalamnya terlihat banyak ikan kecil berenang berkejaran dengan teman-temannya, namun kita tidak bisa mancing karena embung ini memang bukan tempat pemancingan. Kita juga tidak bisa mandi atau berenang di embung, apalagi naik sampan seperti di telaga sarangan, karena fungsi embung ini memang bukan untuk wisata air. Maka tepat sekali jika ada rambu-rambu yang dipasang untuk mengingatkan pengunjung agar tidak berperilaku yang merugikan diri sendiri maupun menyalahi fungsi embung.

Inilah foto yang mengabadikan berbagai rambu yang harus dipatuhi oleh siapapun yang berkunjung. Sama sih dengan tempat-tempat wisata yang berada dimanapun di republik tercinta ini harus ada banyak pesan atau persisnya larangan supaya siapapun yang berkunjung dapat mematuhinya sehingga kebersihan dan keindahan tempat dapat terjaga, selain itu larangan juga untuk memastikan kenyamanan dan keamanan pengunjung.

embung-nglanggeran (6)

Melihat papan pengumuman seperti itu pikiranku sering merasa terganggu, kenapa harus dengan kalimat negatif, sebetulnya bisa gak ya ditulis dengan kalimat positif supaya sekaligus mendorong pengunjung untuk berpikir positif. Misalnya, “dilarang berenang di embung” mungkin tidak jika diganti dengan “embung ini bukan tempat berenang” atau pesan “dilarang membuang sampah sembarangan” diganti dengan “buanglah sampah pada tempat yang sudah tersedia di sekitar embung” dan seterusnya. Mungkin diantara teman-teman pembaca ada yang berkata dalam hati, “ah, mimpi lu ye, orang Indonesia mana bisa diajak begitu”. Mungkin benar, tapi kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan dong kita akan berubah menjadi lebih baik? Ceileee…..

Nah, kalau kita sudah capek menaiki tangga menuju embung dan mengelilinginya, gak usah kuatir, di dekat embung juga tersedia dangau atau gazebo tempat istirahat terbuka sehingga sambil duduk kita tetap bisa menikmati indahnya pemandangan di sekitar embung. Dengan duduk di dalamnya kita juga masih bisa menikmati semilirnya angin sejuk yang berhembus membawa aroma dedaunan dan bunga liar yang wangi. Ini dia gazebo tempat kita bisa istirahat sebelum melanjutkan perjalanan, nikmat to….

embung-nglanggeran (7)

Oh ya aku perlu menginformasikan kalau di bawah embung di tanah datar tersedia juga tempat parkir kendaraan para pengunjung, meskipun di alam terbuka kendaraan kita tetap aman. Jika kita lupa membawa bekal, di sekitar tempat parkir dan di dekat embung ada penjual minuman dan makanan kecil yang dapat mengusir rasa haus dan mengganjal perut lapar. Soal harga pasti sedikit lebih mahal karena makanan dan minumam tersebut didatangkan dari dari kota Wonosari dengan menumpang ojek. Jadi anggap saja selisih harganya untuk mengganti ongkos ojek sang penjual.

Inilah tempat parkir dilihat dari tepi embung. Aku baru sadar, ternyata ada banyak tempat wisata di daerah Gunungkidul yang belum aku kunjungi padahal aku sudah 25 tahun lebih menjadi menantu orang Gunungkidul, wkwkwkw….kemana aja lu selama ini? :p

Dulu Gunungkidul terkenal sebagai daerah tandus dan pakanan pokok masyarakatnya berupa tiwul yang dibuat dari tapioka. Tapi sekarang, semua kesan tersebut telah sirna karena keberhasilan hutan rakyat dan penyediaan air yang melimpah, kita dapat menikmati hijaunya hutan rakyat sepanjang perjalanan dari Jogjakarta sampai di puncak bukit. Kita juga dapat melihat penjual buah berjejer di sepanjang jalan menjajakan buah hasil kebun mereka seperti sawo manila, rambutan, berbagai jenis pisang, bahkan durian. Jadi tunggu apalagi, datanglah ke Gunung Kidul dan nikmati berbagai lokasi wisata mulai dari pantai, gua, bunung api purba, dan tentu saja jangan ketinggalan ke embung Nglanggeran beserta kebun buahnya. Setelah puas menikmati indahnya gunung api purba dan embung Nglanggeran, kamipun melanjutkan perjalanan menuju makam para leluhur.

Wonosari, 27 Juni 2014

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.