[Keluarga Senthir – Setengah Kenthir] Alay to The Max

Yang Mulia Enief Adhara

 

Didot berdiri di depan pagar dengan tampilan yang beda. Celana baggy motif kotak, kaos V-neck warna biru langit dengan rambut dicat merah dan kuning di bagian jambulnya, tak lupa kacamata kotak dengan bingkai warna pink. Hari ini Didot menjadi dirinya yang seutuhnya, tidak pakai wig dan juga riasan menor seperti biasa. Yang jelas tampilan Didot tetap sulit untuk dipuji.

Bayangkan saja, celana baggy yang sudah jadul itu lebih mirip celana Aladin di tubuh Didot yang kurus. Dia juga memakai sepatu boot ala polisi hingga membuatnya mirip tongkat golf.

Didot sibuk mencet-mencet HP warna kuning terbarunya. Dia sengaja berdiri dekat pagar agar orang orang melihat HP baru yang kini menjadi kebanggaannya. Didot nampak kesal sambil berkali-kali melihat ke HP-nya. Akhirnya dia mengeluarkan HP CDMA dari jaman penjajahan Belanda (udah jadul) dan menelpon Subirah gebetannya.

“Hiih aneh!!! Kok ndak bisa bukak FB ya?”, Omel Didot sambil manyun

Subirah berdehem lalu bicara, “Dot itu posisi HP gimana? Layarnya error?”

Didot menjawab sambil menyedot ingus, ‘Srooooottt’, “layarnya item nih, padahal ini HP canggih lho merek Saksang!!! Baru 2 jam lalu aku beli””

“Hah??? Saksang??? Kok aku baru tau sih?”, Pekik Subirah sambil batuk batuk.

Didot nyengir, “Ya iyo, iki kan sama koyo Samsung, cuma ini lebih bagus tapi lebih murah”.

Subirah manggut-manggut lalu bicara lagi, “Itu dicek powernya? On apa Off tapi kalo masih gak nyala ya lapor aja ke tokonya”.

Didot buru-buru melihat HP-nya dan ternyata powernya posisi off, sialan saking katroknya, demi menutup rasa malu dia berdusta seolah HP rusak, “Wah Birah cayank bener nih HP-nya gak bener, kayanya aku harus nuker ke tokonya nihhh, daaahhh”. Telepon diputus Didot dengan sepihak.

 

*****

 

Tepat di seberang rumah Senthir ada rumah Mbah Gunung. Rumah besar dengan nuansa kusam itu nampak berisik. Rupanya Wiwi sibuk memutar TV baru yang bermerek UG (saingan LG). Suaranya kencang namun sulit dikatakan stereo.

Didot molai penasaran, dia pun pelan-pelan mengintip dari pagar, di ruang tamu Wiwi nampak asyik bergoyang. Rok Batik yang sudah pudar bin jepluk membuat Wiwi bagai gadis dari masa 1928 seolah dia teman satu angkatan dengan Ny Meneer.

Wiwi megal megol mengikuti irama lagu dangdut berjudul 1000 Alasan yang dinyanyikan Zaskia Gotik. Wiwi asyik bergoyang itik sembari mentul mentul. Rupanya Wiwi diupah Mbah Gunung untuk sok asik goyang dangdut demi pamer ke tetangga kalau TV 34 inch itu baru.

Tak Jelas berita dirimu ada di mana
Ku cari dirimu tapi tak pernah ketemu
1000 alasan setiap kali ku ajak jalan
Ada aja alasan kau tolak aku dengan senyuman
Disini aku, ku menunggu kabar darimu
 
Senin Selasa waktunya kuliah,
Rabu Kamis alasannya kerja
Jumat Sabtu sampai Minggu kok masih gak ketemu
 
Senin Selasa ada meeting kerja,
Rabu Kamis les privat waktunya
Jumat Sabtu sampai Minggu kok masih gak ketemu

Didot tanpa sadar ikut goyang dan akhirnya si Wiwi dan Didot goyang dangdut meliuk erotis di teras sengaja membuat tetangga yang lewat menjadi kagum plus iri!! Walau faktanya justru mencibir sebal melihat dua makhluk aneh itu.

 

****

 

Mamat memakai celana pendek hijau dan kaos singlet buluk dan memakai sepatu KW 3 merek Converse yang diplesetkan menjadi ‘Conser’ dan itu didapat dari Bu RT Ratna waktu pergi ke Bandung.

Duduk di pangkalan ojek sambil asik selfie. Para tukang ojek yang asik wedangan di warung kopi lama-lama penasaran.

“Mat?! Itu apaan? Kok mirip talenan ya? Kamera?”, Tanya Mujito dengan pandangan heran.

Mamat tetap asyik bergaya, memotret dirinya dengan bantuan tongsis alias tongkat narsis. Margono salah satu tukang ojek senior ikutan bicara, “Lho iku tongkat kok bisa buat motret?”.

Mamat pun akhirnya bicara sambil melinting bulu keteknya, “Ini alat gaul Mas! Aku dibeliin Mbah Gunung, kan dia banyak duit jadi sering ke Jakarta gitu deh, orang Jakarta bilangnya ini Sipad (maksudnya iPad) dan tongkat ini namanya tongkat narsis “.

“Lha kalau beli di sini ada?? Aku yo pengen lho, kalo tonggos aku tau tapi kalau tongsis aku lagi iki krungu!!!”, Sahut C- denk seorang tukang ojek junior.

Mamat tertawa terpingkal pingkal, “Haghaghag!!!!! Nggak ada donk!!! Ini diciptakan khusus jadi nggak ada di sembarang tempat”, Jawab Mamat sotoy.

Selanjutnya Mamat sibuk berfoto lagi bersama para tukang ojek dengan Camera 360, semua kagum melihat hasil foto yang ‘clink’.

 

*****

 

Ping Ping dan Tante Rus berjalan dari arah pagar menuju ujung gang. Kedua wanita ini saling berpegangan tangan saling menuntun bagai orang buta. Mereka memakai sepatu dengan hak sekitar 12 cm dan jelas keduanya tidak biasa.

Berjalan gloyoran bagai anak usia 2 tahun membuat tetangga yang lewat jadi heran, “Lho Mbakyu Rus sakit? Ping kamu juga sakit? Kok jalannya kaya pendekar mabuk?”, Tanya Sumi (susah mingkem) dengan was was.

Ping Ping dan Tante Rus langsung aja berdiri tegak mematung, “Ohhh ndak! Kita lagi iseng aja nyoba jalan kaya zombie”, Sahut Ping Ping berdusta.

“Ohhh ngono tho? Soale kok aneh aja cara jalannya”, Sahut Sumi sambil berlalu dengan sepeda ontelnya.

Dua wanita ini tak biasa memakai sepatu tinggi, namun demi gengsi ke duanya nekad memakai. Sepatu Ping Ping warna putih dengan payet warna merah terang, sedang Tante Rus pakai warna kuning dengan payet warna biru muda. Keduanya merasa paling keren di gang itu. Bahkan keduanya nekad memakai rok span demi agar sepatu itu terlihat orang banyak.

“Lho??? Kalian ini mau kemana? Pakek jilbab tapi kok betisnya malah diumbar?”, Tegur Siti van Houten yang bapaknya asli buruh pabrik coklat van Houten.

 

*****

 

Lain lagi kisah Tekwan dan Ikhasur, dua makhluk ini tak pernah akur, tapi kali ini keduanya nampak agak akur. Si Khasur memakai celana pendek motif bunga matahari dengan rompi warna hijau, tak lupa kaos kaki yang panjangnya sampai lutut warna pink. Dia memakai iPod Cina warna pink metalik yang dijunjung sambil meliuk-liuk bagai penari ular.

Tekwan memakai celana Chino warna keemasan dengan kaos merah cabe. Poninya dicat warna merah. Sepatu keds warna hijau dari bahan plastik nampak berkilap kena sinar matahari yang menyinari dengan garang.

Keduanya sok asik bergoyang di pos Hansip sambil komat kamit bernyanyi atau bahasa kerennya lipsinc. Tekwan bergoyang membayangkan dirinya sedang konser dan Ikhasur juga sibuk membayangkan dirinya salah satu gadis dari JKT 48.

“Aku tuh kaya artis JKT 48 ya Wan?”, Jerit Ikhasur manja.

Tekwan yang merasa terganggu pun menjawab ketus, “Ouuu rai-mu adoh (muke lo jauh) body koyo spring bed ngono oq?!!”

Ikhasur jelas terluka, enak saja dia dibilang spring bed, “Lha dari pada kamu! Mirip Andika Kangen Band!”, Si Ikha mengumpat sambil goyang pinggul.

Tekwan tak menjawab tapi langsung menabok Ikhasur. Dan selanjutnya keduanya saling tampar, tonjok dan tendang (3T) diselingi saling jambak.

 

*****

 

Dian menelusuri jalanan di gang itu sambil memanggul mini compo yang meneriakan lagu house music. Tiap 10 langkah Dian berhenti, meletakkan compo di pinggir jalan dan dia tanpa ragu bergoyang aerobik.

Compo model terbaru bermerek Panasdingin itu didapat Dian baru 2 Hari dan sejak itu selalu terdengar lagu-lagu Aerobik dimana saja dan kapan saja. Tetangga langsung tau ada Dian lewat depan rumah mereka.

Ada apa dengan anak anak Senthir??? Kenapa mereka makin alay? Kalau soal alay mereka memang sudah lahir sebagai Suku Alay. Tapi kalau makin parah ya karena mereka memang sok aksi dan merasa paling gaul.

 

*****

 

Bunda sudah Seminggu berada di kota Medan, menjenguk Wak Kandani yang lagi galau lantaran puber ke 3. Hari ini Bunda akan pulang ke Sleman dan anak-anaknya berniat pamer.

Mereka berniat pamer bahwa dalam seminggu ditinggal Bunda, mereka bisa jauh lebih eksis dan gaul. Belum lagi para alay bayaran yang kerap muncul di acara Dahsyat, YKS dan lain lain membuat anak-anak Senthir kian termotivasi untuk ikutan terlihat gaul dan heboh walau katrok.

Mereka salah panutan, sejatinya para alay di layar kaca itu kerap menjadi hinaan bagi anak gaul Jakarta (AGJ) secara alayers itu tampil tidak sesuai wujudnya alias memaksakan diri dan terlihat norak.

Misalnya Dian dan Didot yang kini kecanduam kacamata dengan bingkai kotak dan berwarna ngejreng ceria. Belagak pakai kacamata minus atau silinder padahal cuma buat gaya, dipakai saja tanpa peduli cocok apa tidak dengan raut wajah.

Lalu Tekwan yang kian fokus pada poninya lantaran dia merasa itulah syarat mutlak agar terlihat ‘Korean’. Nah lain lagi Ping Ping dan Ikhasur yang tanpa ragu membalut tubuhnya dengan busana berwarna dan penuh motif demi disebut gadis Harajuku (faktanya Harakiri) atau setidaknya ya ikutan trend Jepang dan Korea.

Didot, Mamat, Wiwi bahkan Tante Rus juga sama saja, semua serba ikut-ikutan. Lihat iPad maka mereka pun buru-buru cari ‘tiruannya’ yang merek abal-abal (namun mereka ngeyel itu sama dengan merek asli) lalu lihat si Angelina Jorki memakai lipstik merah maka mereka ikut pakai hingga lewat dari garis bibir demi dibilang seksi (nyatanya mirip badut Ronald Mekdi) dan banyak lagi keinginan gaya yang begitu dipaksakan.

 

******

alay

Bunda turun dari angkot di ujung gang, dan langsung terhenyak melihat si Mamat dirubung tukang ojek sambil asik jeprat jepret. Bunda tak menyapa dan terus berlalu.

Tak lama dia melihat Dian yang asik jumpalitan dengan baju seksi sambil memanggul compo. “Hah?? Ini ada apa sih???”, Gumam Bunda heran.

Tak lama terlihat Ping Ping dan Tante Rus yang saling berpegangan sambil tertatih mirip zombie. Hampir satu jam mereka berjalan dari rumah ke ujung gang yang jaraknya hanya 150 meter dan mereka baru saja berada di meter ke 50.

Belum sempat bertanya Bunda juga melihat Didot dan Wiwi yang asyik adu goyang dangdut. Dan puncaknya melihat Tekwan dan Ikhasur adu jotos. Bunda melangkah menuju teras rumahnya dan mulai menabuh piring kaleng tanda anak anak harus segera berkumpul.

Semua baru tersadar Bunda pulang, semua sudah berkumpul di teras tak terkecuali Ping Ping dan Tante Rus yang akhirnya menenteng sepatu gaul setinggi 12 cm supaya bisa berjalan normal.

“Ehh Bunda kapan sampe??”, Ujar si Didot sok manis. Bunda hanya diam sambil menatap heran.

“Astaga? Gilak! Ku kira itu sarang burung, tak taunya si Didot”, Ujar Bunda di dalam hati.

Wiwi, Mamat dan Dian menyapa sok akrab, “Ihhh Bunda makin cantik aja, apa sih rahasianya???”, Seru mereka bagai paduan suara, ada suara 1, 2 dan 3.

Bunda menatap anak-anak dengan wajah prihatin, “Mau tau rahasia Bunda cantik di usia sekarang ini? Jadi diri sendiri dan rajin minum air putih”, Sahut Bunda sedikit menggeram.

“Kalian pikir kalian keren??”, Ujar Bunda dan belum sempat melanjutkan kata-katanya, Tekwan malah menyahut.

“Iyaa Bun!! Aku merasa keren bingit, kok Bunda tau?”, Sahut Tekwan yang kemudian lanjut saling toyor dengan Ikhasur.

Bunda mulai kehabisan sabar, ia pun membanting piring kaleng ‘Klontang!’ Dan Bunda bicara, “Lihat tampilan kalian, sangat konyol dan malu-maluin!”, Bunda diam sebentar.

Tiba-tiba Mbah Gunung muncul dan bicara dengan lantang, “Lho??? Soka?? Kok kamu makin cantik???”

Bunda kaget dan spontan menjawab, “ahhh bukan cantik keles, tapi aku ini menarik lebih lama ciiin”. Dan tak lama Bunda menutup mulutnya sendiri dengan tangan, karena dia sadar baru saja dia bersikap lebay dan alay.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.