Lampu Colok, Penunjuk Jalan Sang Malaikat

Bayu Amde Winata

 

Ada sebuah tradisi unik yang hanya ada saat bulan Ramadhan, tradisi ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Riau, terutama yang mendiami Pantai Timur Riau. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun. Masyarakat Riau menyebutnya tradisi menghidupkan  lampu colok. Lampu colok adalah alat penerangan sederhana yang dibuat dari botol kaca ataupun kaleng, di dalam botol ini akan dimasukkan sumbu kompor dan nantinya akan ditambah minyak tanah sebagai bahan bakar. Kegunaan lampu ini adalah  sebagai penerangan di halaman rumah saat malam hari, karena pada zaman dahulu tidak ada penerangan listrik.

1

2

Biasanya tradisi ini dimulai pada hari ke-27 dari Ramadhan sampai dengan hari ke-30 Ramadhan, masyarakat Melayu menyebut malam ini dengan sebutan malam 27 liqur. Nantinya lampu ini akan dihidupkan sampai dengan malam takbiran. Kenapa dimulai pada hari ke-27 Ramadhan?  Filsofinya adalah, orang-orang tua zaman dahulu percaya akan keistimewaan pada malam ke-27 ini. Mereka percaya bahwa hari  ke-27 dari Bulan Ramadhan sebagai  malam Lailatul Qadar. Pada  malam ini, malaikat-malaikat akan turun ke permukaan bumi dan akan masuk ke rumah-rumah untuk mencatatkan amal baik yang diperbuat selama bulan Ramadhan berlangsung. Karena pada zaman dahulu tidak ada listrik, maka lampu ini berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi malaikat-malaikat ini.

3

4

Bagi masyarakat Melayu pesisir yang mendiami Pantai Timur Riau, tradisi ini dengan mudah bisa kita temukan. Daerah-daerah  seperti kota Pekanbaru, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Siak, Kabupaten Dumai dan Kabupaten Bagan Siapi-api adalah beberapa daerah yang masih mengadakan tradisi ini setiap tahun. Sekarang, tradisi ini sedikit mengalami pergeseran. Tradisi menghidupkan lampu colok ini dijadikan festival. Tujuannya masih sama dengan yang dulu yaitu sebagai penunjuk jalan. Namun, sekarang ditambah sebagai simbol dari gotong-royong dan silaturahmi.

5

6

Sebelum memulai festival ini, para pemuda akan mempersiapkan bahan-bahan yang digunakan sebagai lampu colok. Ada yang mencari botol dan kaleng bekas, ada yang mempersiapkan miniatur yang akan dihias dengan lampu ini, miniatur ini biasanya berbentuk mesjid dan kalimat-kalimat islami, dan ada yang mencari bahan bakar minyak tanah. Per hari pada saat festival ini, rata-rata per miniatur dibutuhkan 25 liter minyak tanah. Saat proses persiapan inilah, kita akan melihat  gotong-royong tersebut.

7

8

Saat kedatangan saya ke festival yang diadakan di Pekanbaru, menurut panitia festival, satu miniatur saja membutuhkan sekitar 2000-an botol yang akan dijadikan menjadi lampu colok. Saat lampu ini dihidupkan, saya  melihat miniatur dari mesjid, megah. Hanya itu yang terlintas di kepala saya saat melihat festival ini.

Selamat Hari Raya Idul Fitri

 

 

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.