[Ala Jepang] Flirting, Pacaran dan Percintaan

Dewi Aichi – Brazil

 

Kesan pertamaku terhadap orang Jepang dalam menjalin hubungan asmara atau pasangan suami istri adalah kaku, dingin, tidak romantis, tidak merayu-rayu pasangan yang membuat pasangan tersipu-sipu, baik itu melalui perbuatan atau bahasa cinta. Dari mana saya berkesimpulan bahwa orang Jepang seperti itu pada umumnya? Ya dari pengamatan saya mengenal orang Jepang, dari ungkapan melalui bahasa yang datar-datar saja.

Hal ini juga terbukti dari dorama-dorama Jepang yang terkesan kaku dan dingin. Itu pertama. Kedua yaitu bahasa Jepang sendiri tidak ada bahasa-bahasa yang pás untuk mengungkapkan perasaan cinta, kasmaran, jatuh cinta, bahasa panggilan mesra seperti cintaku, kekasihku.

“Rasanya aku ingin merengkuhmu sayang! Mencintaimu sepenuh hatiku, sayangku, katakan apa yang ingin kau katakan padaku, cinta kita tidak akan pernah berakhir, cinta yang akan menyatukan kita untuk selamanya.”

Sungguh susah mencari padanan dalam bahasa Jepang, ungkapan kalimat mesra di atas. Orang Jepang tidak terbiasa menyebut kekasihnya dengan “kekasihku”, “cintaku”, “sayangku”, apalagi di saat menyebut semua itu sambil memberikan belaian dan tatapan yang mesra dan hangat. Dalam dorama Jepang akan jarang ditemukan adegan seperti itu. Yang ada ya tatapan kaku dan percakapan datar. 

Bagaimana hubungan cinta di Jepang?  Banyak orang bertanya-tanya. Tentu saja bahwa menggoda dan kencan di kalangan masyarakat Jepang sangat berbeda dibandingkan dengan Barat. Tetapi kita tidak bisa menggeneralisasi, tetapi  dapat dilihat bahwa ada kontras halus yang mencerminkan perbedaan budaya dan agama dalam hubungan antara pasangan Jepang.

Seperti kita semua tahu, setiap budaya mengembangkan karakteristik sendiri dalam kaitannya dengan hubungan intim. Sementara itu di Jepang juga sudah lebih terbuka tentang seks dan seksualitas, menarik untuk dicatat bahwa sampai saat ini masih terjadi perjodohan, yang dikenal sebagai ” pertemuan pertama perjodohan ” yang dalam bahasa Jepang dikenal istilah omiai.

roman-jepang

Kebanyakan hanya akan berkencan atau pacaran setelah memasuki perguruan tinggi. Dan secara umum, pacaran dilakukan dengan cara jauh lebih bijaksana daripada yang saya temukan di sini di Brasil. Orang Jepang menunjukkan umumnya pemalu berkaitan dengan permainan rayuan. Sebenarnya, saya tidak tahu apakah ini lebih dikarenakan budaya atau memang malu sendiri.

Yang saya tau adalah sikap kaku mereka dalam hal merayu atau menggoda. Setidaknya itulah perasaan yang saya dapatkan saat melihat film Jepang, dorama, atau anime, dimana pasangan sangat lama untuk memberikan ciuman kepada kekasihnya, itupun sekedar kecupan, atau menempelkan bibir sedetik he he he.

Kontak langsung “Shisen o Awasu” atau tatapan “dari mata ke mata” bukan merupakan taktik atau cara menggoda dipakai di Jepang, karena bagi mereka, sikap ini mungkin bisa diartikan pelecehan atau dapat menimbulkan rasa  malu atau tidak nyaman.

Ini mungkin tampak model tebar pesona yang kurangnya gairah, rasa malu dan bahkan dingin. Hal ini adalah bahwa tampaknya masih ada tabu sosial di Jepang tentang menggoda dan kencan. Sementara banyak hal telah berubah dalam pandangan dekade yang lalu, saya menyadari bahwa pasangan Jepang sangat berhati-hati dalam mengambil sikap dalam hubungan romantis.

Menurut pendapat saya, tanpa ingin menggeneralisasi, pada akhirnya, setiap aturan memiliki pengecualian, tetapi menggoda dan kencan di Jepang bisa menjadi tantangan bagi Jepang, terutama untuk laki-laki, biasanya setelah ada dorongan yang kuat dari mereka yang  berinisiatif untuk menggoda dan memulai sebuah hubungan.

Teknologi saat ini telah membantu banyak orang Jepang untuk memulai atau mempertahankan hubungan. Bentuk-bentuk utama komunikasi yang digunakan adalah melalui pesan teks, pesan instan online, email dan situs kencan.

Ketika pasangan dikenal lewat internet atau bahkan dalam kehidupan nyata dan ada kepentingan bersama, mereka bisa menghabiskan waktu untuk  bertukar pesan sampai  benar-benar mengambil inisiatif untuk bertemu langsung. Pertemuan, dengan cukup perencanaan dilakukan, dilakukan hampir selalu di bar atau restoran.

Jepang umumnya sangat tepat waktu dan ketika salah satunya adalah terlambat untuk pertemuan, bisa sangat buruk akibatnya. Ketika salah satu pihak tidak menghormati waktu yang telah disepakati  untuk pertemuan dapat mengakibatkan putusnya hubungan dan atau menghancurkan perasaan yang sedang timbul untuk memulai suatu hubungan serius.

Ada kasus di mana itu semua dimulai dengan persahabatan yang indah dan dari waktu ke waktu dapat berkembang menjadi kencan (bahkan mungkin waktu bertahun-tahun untuk itu terjadi). Cinta platonis juga tidak jarang, karena kesulitan banyak pasangan untuk mengungkapkan perasaan mereka dan mengambil inisiatif untuk menyatakan perasaannya satu sama lain.

Setelah terjadi hubungan kekasih(pacaran),apa yang saya sadari adalah bahwa seringkali sulit pasangan keluar sendirian. Paling sering, mereka didampingi oleh kelompok teman-teman. Juga tidak akan tampak adegan kemesraan di depan umum, seperti memeluk, mencium. Tidak seperti di Brasil.Di kota-kota besar di Jepang seperti Tokyo, Yokohama, Kobe, dan lain-lain, anda dapat melihat pasangan menunjukkan kasih sayang dan perhatian di tempat umum.

 

Fakta-fakta tentang kencan di Jepang

Pria Jepang terkenal pemalu dan konservatif dalam soal menunjukkan kasih sayangnya atau mesranya di hadapan publik sedangkan gadis-gadis Jepang umumnya lebih bebas dalam kaitannya dengan kasih sayang. Mungkin itu sebabnya  lebih umum untuk menemukan wanita Jepang kencan dengan orang asing daripada sebaliknya. Laki-laki asing dapat merasa gentlemen menunjukkan kasih sayang, tanpa beban dan hambatan kepada wanita Jepang

Bicara tentang kencan, menggoda dan hubungan romantis di Jepang cukup kompleks karena merupakan budaya yang sama sekali berbeda dari kita. Akan tinggal selama berjam-jam membuat analogi tentang subjek ini. Tapi jika anda memiliki sesuatu untuk menambahkan atau berpendapat tentang tulisan ini, silahkan….bebas saja.

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

4 Comments to "[Ala Jepang] Flirting, Pacaran dan Percintaan"

  1. Dewi Aichi  17 October, 2018 at 00:00

    Ponchay…menurutku, Anda tidak perlu bekerja, jadi pria Jepang itu ingin anda tidak perlu bekerja. Begitu deh kayaknya, aku juga ngga paham dengan kalimat permintaannya itu.

  2. Ponchay  16 October, 2018 at 01:57

    Kak, ketika ada pria jepang yang bilang bergantunglah padaku itu artinya apa yah ?

  3. Dewi Aichi  5 July, 2015 at 22:01

    Salam kenal Jiji, nah banyak sekali ternyata pengalaman seperti yang Jiji ceritakan, kosa kata dalam kamus Jepang memang tidak ada kata-kata mesra seperti dalam bahasa lainnya. Mungkin ini pengaruh budaya Jepang yang terkesan kaku.

  4. Jiji  5 July, 2015 at 04:51

    Bener banget gan. Di bahasa jepang susah nemukan kalimat yg cocok diucapkan buat panggilan mesra. Yg sejauh ini saya temukan hanya “..daisuki..” buat nembak, terus “..aishiteru..” buat ngelamar.
    Jadi, kebanyakan saya gunakan honey dan teman temannya buat panggil kekasih saya. Oh ya. Latar belakang saya lagi study bahasa jepang. Salam kenal.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.