Jauh dari Rumah

Ariffani

 

Lebaran, pasti berhubungan dengan mudik, berkumpul dengan keluarga, silahturahmi, makan opor ayam dengan ketupat, makan kue nastar atau kastengel, memakai baju baru. Di setiap rumah pasti akan sibuk, sibuk menyiapkan segalanya, dinding rumah dicat warna baru, semua perabotan baru yang biasanya disimpan dikeluarkan untuk dipakai terutama peralatan makan, gorden dan karpet diganti , jika tidak diganti maka akan dicuci. Semua orang akan memakai baju , sarung dan mukenah baru untuk sholat.

Kali ini dan tahun ke-4, jauh sudah aku dari rumah. Lebaranku sudah tak sama lagi, tidak merayakan dengan keluarga, ayah ibu dan adikku. Sedih? Iya, tetapi ada kewajiban yang harus dilaksanakan. Allah tahu, lagipula masih ada telepon. Beda memang tak langsung merayakan bersama. Namun setidaknya mereka takkan melihat aku menitikkan air mata saat sungkem. Jujur saja, aku benci ketika sungkem harus menitikkan air mata. Hahahaha…..

away from home

Lebaran di tempat kerja, terasa lain, hangar yang biasanya penuh dengan pesawat, kali ini semua pesawatnya “pergi mencari uang”, perawatan pesawat dikurangi, lumayan untuk mengurangi penat. Bagaimana dengan yang di bandara? Apron tempat pesawat parkir? Masih sama seperti hari-hari biasa, pesawat datang dan pergi, transit, kami selaku mekanik dan supportingnya yang masuk pada tanggal 1 Syawal, beruntung yang masuk shift siang dan malam, masih bisa sholat Ied, yang masuk shift pagi sholat hanya dalam hati dan niat, beruntung lagi yang libur pas tanggal 1 Syawal. Dan kami hanya bisa berdoa semoga tahun depan masih ada waktu untuk melakukan lebaran bersama keluarga. Dan Mudik bukan lagi tradisi wajib di “front liner”.

Lebaran jauh dari rumah pun sebenarnya masih bermakna, masih ada undangan dari senior di tempat kerja untuk makan ketupat dengan opor ayam dan sambal goreng gratis, pula masih dapat salam tempel, lumayan, meski sudah bekerja dan sebesar ini. Siangnya saat masuk kantor masih ada teman-teman yang bisa dijatah untuk dimintai ketupat dan opor ayam. Kebetulan mereka masih tinggal dengan orangtuanya. Atau seperti ini, masih ada teman-teman senasib dan sepenanggungan, biasanya jika sudah begini, akan berkumpul bersama , mentok-mentok dan ujung-ujungnya mencari rumah yang bersedia untuk disinggahi, dan dirampok. Hahahahah….

Ah, lebaran suasana sakral , dengan sepiring ketupat , semangkok opor dan sambal goreng kentang, bermaaf-maafan, Intinya Minal Aidzin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga ini menjadi awal yang baru bagi kita semua.

 

Tangerang,29 Juli 2014

*arifani

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.