Salam Lebaran

Ary Hana

 

Sudah dua Lebaran saya tak berada di rumah. Pertengahan Ramadhan 2012 saya mbambung keliling negara tetangga selama dua bulan: Malaysia, Siam, Kamboja, dan perbatasan di antaranya. Dengan modal pas-pasan, belajar tentang Buddha dan masyarakatnya, menjadi voluntir di beragam lapangan, ya bertani, ya nukang rumah, ya menghibur panti anak-anak cacat, juga jadi guru dadakan. Apa saja, belajar sambil melihat kehidupan di belahan lain dunia, walau masih Asia Tenggara. Karena merasa diri musafir, hutang puasa saya pun tidak main-main, 13 hari. Ketika perayaan Idul Fitri, saya sedang terdampar di Mindful Farm, pegunungan utara Chiang Mai. Menyiangi lobak sepanjang hari. Sambil membayangkan menelan kue coklat atau keju. Sungguh menghangatkan jiwa :D

buncis yang baru seminggu ditanam di halaman rumah

Pada hari ke-12 puasa Ramadhan tahun kemarin, saya justru sedang berjalan kaki menuju Munduk dari Seririt. Lebih 15 km saya mendaki bukit diderai hujan, gerimis, dan angin selama lebih 4 jam. Untung puasa tidak batal. Tapi hari-hari sesudahnya, saya anggap diri musafir, sekalian mendalami kebudayaan dan kehidupan orang-orang desa di  pegunungan Bali Utara. Hutang puasa saya, 17 hari, sampai sekarang belum lunas bayar :P. Ketika Lebaran, saya sedang merayakan Galungan (atau hari raya Saraswati? Saya lupa!). Lumayan, banyak jajanan tradisional walau nggak nemu castangel.

Ramadhan kali ini saya bertekad ada di rumah -entah Jawa atau Madura-, walau tidak sepanjang bulan. Saya paksakan diri balik dari Munduk pada hari ke-8 Ramadhan, agar bisa puasa dan menjadi muslim di rumah. Saya punya kecenderungan melebur dengan tempat saya berpijak. Ketika tinggal di Bali, saya ‘ayo saja’ jika diajak ke pura, belajar seluk-beluk Hinduisme, mulai brahman, reinkarnasi, samsara, atau karma. Ketika masuh Brahmavihara, saya pun mendalami meditasi vipassana ala Mahathera, yang dipimpin oleh seorang bhiksu. Apapun kepercayaan lokal, saya jalani dan pelajari filosofinya. Dan saya menikmati semua ritual, penyembahan kepada si pencipta semesta, segala penghormatan terhadap alam semesta dan makhluk di dalamnya. Tuhan ada di mana-mana, dalam segala rupa yang tertangkap oleh indra kita. Apapun itu. Menyenangkan, menyedihkan, wajah rupawan, buruk rupa, semua hanyalah wujud.

sabun zaitun buatan sendiri sambil membunuh waktu puasa

Dalam puasa kali ini, selain membuat sabun dan menanam buncis, saya banyak merenung. Perenungan telah membuka kanal-kanal penyadaran bahwa semua ritual yang saya jalani dari beragam kepercayaan, ternyata memiliki titik temu. Seuntai benang merah yang menghubungkan setiap ritual dari masing-masing  kepercayaan dan agama. Bahkan detil setiap ritual dari agama dan kepercayaan yang berbeda pun memiliki makna yang serupa, filosofi yang mirip. Hasil pencerahan ini -yang pasti tidak saya ungkap di sini- saya anggap pengalaman spiritual yang bersifat pribadi. Pernah saya ceritakan pendapat saya ini kepada kawan dekat. Hasilnya, saya dicap kafir dan dia berusaha mengembalikan saya ke jalan yang benar. Hehe…

kiriman buku dari kawan-kawan yang belum tuntas dibaca dan direview

Saya sadar, tak ada kebenaran mutlak di bumi ini. Masing-masing agama dan kepercayaan adalah yang paling benar menurut umatnya masing-masing. Yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan hanya toleransi, saling menghormati dan menghargai. Sayangnya, dalam segala hal -bukan cuma perbedaan kepercayaan, tapi juga beda pendapat, beda pilihan- manusia kerap merasa paling benar sendiri, paling cerdas, paling hebat, sehingga sulit tercipta hubungan yang harmonis antaramanusia dan antara manusia dengan alam. Akibatnya, sulit tercipta kesetimbangan alam di dunia.

selamat idul fitri

Akhirul kata, saya ucapkan Selamat Lebaran buat yang merayakan, mohon maaf jika banyak sekali kesalahan yang saya buat dalam postingan di sini. Entah postingan pongah, pamer diri, atau perjalanan tanpa isi.

Oya, kalau ada yang bertanya apa agama dan kepercayaan saya, akan saya jawab ‘kemanusiaan dan cinta kasih’.

Salam,

dari yang bukan pejalan dan bukan pemimpi

 

Bisa juga dibaca di: http://othervisions.wordpress.com/2014/07/23/salam-jelang-lebaran/

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *