Tentang Seulas Perbedaan

Mutaminah

 

Catatan Usai Terawih

Aku merasa ada yang berubah, ada yang hilang, ada yang berganti.

Di pojok sana, dulu selalu kudapati seorang ibu tua renta, terduduk dengan segenap simpuh di atas sejadah yang nyaris lusuh.

Darinya pernah kutemukan binar mata jernih yang mengajari aku ikhlas, Darinya pernah kudapati ketangguhan yang tampak rapuh, namun menularkan aku semangat.

difference

Perempuan tua itu, yang selalu memapah kakinya melangkah menuju mesjid, dan menempati tempat yang sama, selama Ramadhan, tahun ke tahun, menjadi orang pertama yang menggelar sejadahnya, jauh sebelum adzan isya dikumandangkan, kini ia tak lagi ada, tak lagi menjadi orang yang tak pernah memiliki alasan untuk tidak shalat isya berjamaah di mesjid, meski ia harus tertatih untuk itu. Dinding membisu, mungkin menyimpan rahasia, atau masih berduka, atas jatah usianya yang telah purna.

Di antara lingkaran ini, jua pernah ada tawa yang pernah kita gaungkan bersama. Canda di sela diskusi usai tadarus yang kita gelar ba’da tarawih. Teman-teman yang mengajariku banyak hal, kini satu per satu dibawa pergi oleh waktu, berjejak ingatan yang membiaskan rindu.

Haruskah aku bertanya kemana? Ketika bahkan aku tau, bahwa pertanyaan tersebut adalah kunci bagi luka, untuk menyelinap ke dalam dada. Ya, terkadang ada rasa sakit yang dilimpahkan kehilangan, kehilangan sesuatu yang sejatinya tidak kita miliki.

Ramadhan kali ini, kusadari waktu telah jauh berlari, dan keadaan telah berganti, hanya aku di sini, berhenti di ruang bernama kenangan, ditinggalkan sendiri. Aku ingin Ramadhan lalu, tapi bukankah detik tak bisa berjalan mundur?

 

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.