[Resensi Film] The Dreamers: Pertemuan Dua Toilet

Alfred Tuname

 

Film yang diproduksi sering kali tidak dimaksudkan untuk melayani kepentingan kita, bahkan tidak dialamatkan kepada kita. Kita yang adalah penonton (spectator) itu sendiri, diarahkan justru demi kepentingan film itu sendiri. karenanya, mendiskusikan film selalu menarik. Orson Walles menulis “no movie that will ever be made is worthy of being discussed in the same breath”[1]. Berbeda dengan karya novel sastra yang mempengaruhi pembacanya dengan imajinasi, film justru mengembangkan jarak pandang antara penonton dan layar (screen). Penonton membiarkan film dalam keberjarakan itu sehinga mereka dapat memasukinya dalam ruang fantasi dan melihatnya sebagai ruang yang melampaui dari realitas kesehariannya. Interpretasinya adalah film dibuat tidak untuk melayani hasrat penonton, melainkan bagaimana cara untuk berhasrat (how to desire)[2].

the dreamers

Dalam konteks “how to desire”, pembuatan film sering masuk dalam perangkap penggunaan bentuk pengetahuan rasional dan irasional dan pengalaman untuk menciptakan apa yang oleh Walter Benjamin disebut sebagai “Profane Illumination”. Artinya, aspek-aspek realitas digunakan sebagai material dan inspirasi antropologis, guna menciptakan kesadaran transformatif potensial bagi kekinian.

Membaca “teks” pada Film The Dreamers adalah membongkar struktur ideologis sekaligus menelusuri gorong-gorong cara berharsrat yang hendak “ditawarkan” dalam film. Bagaimana pun, selain sebagai sebuah karya estetis, film juga menyiratkan ideologi yang hendak dipertentangkan dengan ideologi-ideologi dominan. Atau boleh jadi, film itu sendiri merupakan representasi dari sebuah ideologi dominan itu sendiri.

Sinopsis

The Dreamers (2003) merupakan film yang disutradarai Bernardo Bertolucci. Bertolucci adalan serorang sutradara kawakan yang banyak memproduksi film seperti Before the Revolution (1965), The Spider’s Stratagem (1970), The Conformist (1970), Last Tango in Paris (1972), The Last Emperor (1987), and The Sheltering Sky (1990). Film The Dreamers diperankan oleh aktris Eva Green dan aktor Louis Garrel dan Michael Pitt.

The_Dreamers_movie

The Dreamers bercerita tiga tokoh yang memiliki relasi yang intim. Saat itu, Prancis bermusim semi di tahun 1968. Kakak beradik (kembar siam) Theo (Louis Garret) dan Isabelle (Eva Green) adalah pecinta film. Mereka menyebut dirinya sebagai pecinta film (cinephile). Kelompok seperti ini tidak saja gemar dan menikmati penayangan film dalam bioskop, tetapi juga ikut berjuang melawan kebijakan-kebijakan pemerintah yang mengkastrasi dunia per-film-an.

Pada sebuah aksi melawan demonstrasi, Theo dan Isabelle bertemu dan kemudian bersahabat dengan seorang mahasiswa yang sedang belajar bahasa Prancis, asal San Diego, Chicago, USA, bernama Matthew. Kegemaran yang sama pada film membuat Matthew semakin jadi “one of us” dalam kehidupan Theo dan Isabelle.

Intimasi ketiga pemuda/pemudi tersebut terjadi ketika Theo dan Isabelle mengajak Matthew untuk mengunjungi dan menginap di rumah mereka. Mattew disambut baik oleh ayah (penyair) dan ibu mereka. Dan ketika orang tua Theo dan Isabelle berpergian keluar kota, Matthew meninggalkan apartement-nya dan menginap di rumah Theo dan Isabelle. Di rumah itu, mereka berdiskusi tentang film sekaligus meniru adegan memorable dalam film (film klasik Bande à Part (1964), Scarface (1932), Blonde Venus (1932). Taruhan menebak judul film dalam setiap adegan film ditiru menjadi semacam testing akan kegemaran film. Hukumannya adalah masturbasi (Theo) dan seks (Isabelle dan Matthew). Mereka juga berdiskusi tentang politik dalam perang Vietnam. Di luar rumah, ada aksi demonstrasi kelompok maoist melawan pemerintah yang memberi tekanan penting dalam setting Prancis tahun 1968. Akhir intimasi Matthew dan si kembar siam adalah aksi demonstrasi, ketika Theo dan Isabelle meninggalkan Matthew sendirian di tengah massa demonstran.

 

Overture

Film The Dreamers sepertinya menceritakan sebuah intrusi yang justru didambakan. Theo dan Isabelle mendambakan orang ketiga untuk memecahkan kantungan mimpi mereka yaitu melebihi rekor menelusuri koridor museum seperti dalam film Sunset Boulevart. Matthew adalah sang intruder tersebut. Kenyamanan (Lacanian imaginary) sang kembar siam dalam merituskan hari-hari hidupnya tidak dirusaki oleh sang intruder, justru mengaktifkan kehidupan mereka.

The-Dreamers

Di sini, Matthew bertindak sebagai vanishing mediator yang hadir, lantas terlepas dari kehidupan Theo dan Isabelle. Kehadiran Matthew menegaskan watak “keakuan” sang kembar siam itu. “Keakuan” kembar siam tersebut terjadi melalui proses subjektivasi dengan kehadiran Matthew. Theo merupakan representasi sisi animus Isabelle. Hal ini ditandai permintaannya kepada Theo untuk melakukan masturbasi. Isabelle merupakan representasi sisi anima Theo. Juga ditandai dengan permintaanya kepada Isabelle-the virgin-untuk melakukan hubungan seks dengan Matthew. Pandangan voyeur mereka (Theo dan Isabelle) menegaskan subyek yang satu dalam keterbelahan (anima dan animus).

Seks dan masturbasi hanyalah bagian dari pengalaman subyektivasi. Seperti penjelesan Jacques Derrida, “to be in the World is to be marked by discourse, marked even in the our flesh, body, sex and so on”[3]. Karenanya, fantasi mimetik dalam mengikuti adegan memorable film harus terekspresikan. Sang kembar siam membutuhkan vanishing mediator untuk melakukan itu. Tanpa itu, subyektivasi selalu gagal. Goetz menulis dalam Lucifer and the Lord, “I shall remain alone with this empty sky above me, since I have no other way of being among men”[4].

Lantas, permainan hasrat yang terjadi dalam diri Matthew sejatinya “desire of other”. Yaitu hasrat yang dimaikan oleh sang kembar siam. Ia pun tidak berhasil mendapatkan Isabelle dalam permainan hasrat itu. Bangunan rasa cinta yang tumbuh dalam diri Matthew justru berkembang menjadi idea bahwa cinta hanyalah varian dari hedonisme yang merajalela[5].

 

Toilet

Dalam artikelnya berjudul “La Musique Méecanique” (3/6/1923), Émile Chartier, kemudian dikutip Alain Badiou, menulis “the art of the screen has been dead since its birth owing to the absence of man”. Itu berarti film selalu menyajikan kemanusian dengan segenap perjuangannya. Di sini, selalu ada anasir perjuangan ideologis yang terus mengalir dalam film sebagai “teks”. Maka The Dreamers pun menjadi menarik untuk dibedah dalam pisau pertentangan ideologis.

Matthew merupakan figur yang merepresentasikan pragmatisme Amerika (dan capitalism with Asian values). Pragmatisme ini mengintrusi komunisme Maois yang tersepresentasi dari dalam diri sang kembar siam. Pragmatisme itu tercermin dalam sikap-sikap Matthew yang mengkalkulasi secara rasional apa yang terjadi dengan Theo dan Isabelle. Sikap rasional egotistikal nyaris terus mengambil sikap kontra terhadap alam pemikiran Theo. Basis pandangan berbeda atas peritiwa perang Vietnam menjadi titik perpotongan yang tidak saling bertemu. Bagi Theo, perang Vietnam merupakan aksi genoside. Bagi Matthew, peristiwa itu adalah bagian dari kisah heroik para serdadu Amerika yang terlibat dalam politik perang dingin pasca Perang Dunia II.

the-dreamers-movie

Perbedaan pandangan itu juga dapat dimengerti dalam permainan metafora toilet yang diceritakan Slavoj Zizek. Dikatakannya, saluran toilet tipikal Amerika berlubang pendek (full of water) langsung ke septic tank. Sementara saluran toilet tipikal Prancis berlubang panjang ke belakang lalu septic tank. Interprestasinya, bangunan peradaban Prancis dibangun oleh sejarah panjang politik revolusioner kiri (radikal), sementara Amerika memiliki basis liberal ekonomi yang kuat. Inilah yang terjadi antara Theo dan Matthew. Tetapi keduanya justru dapat dipertemukan oleh sikap Isabelle yang terbuka. Boleh jadi, itu merupakan sikap kompromi “jalan ketiga” Anthony Giddens. Akan tetapi, sintesa jalan ketiga itu pun tidak berhasil ketika masing-masing bagian memiliki tujuannya yang berbeda.

Sehingga pada akhirnya, Matthew meneguhkan prinsip pragmatisme dengan memilih berpisah dengan Theo dan Isabelle dalam satu event revolusioner di Prancis Mei 1968. Aktivisme pelajar Mei 1968 melekat dalam slogan “On a rasion de se revolter”[6], tetapi bagi Matthew, semua itu adalah kamikaze yang irasonal. Dengan demikian, “mimpi” merupakan aktivator politik, sebab di dalamnya ada perbedaan padangan yang dipertentangkan secara rasional. Dari narasi nosltagia film The Dreamers, mimpi (idealisme) menjadi realitas postalgis akan kehidupan yang lebih adil dan damai.                    

 

Jogja, Juli 2014

Alfred Tuname

 

[1] Orson Welles and Peter Bogdanovich, This is Orson   Welles, ed, Jonathan

Roscnbaum (New York: Harper C ollins, 1992),2 17.

[2] Slavoj Zizek, documentary film Pervert Guide To The Cinema

[3] Alain Badiou, Pocket Pantheon (London: Verso, 2009) hlm. 133

[4] Ibid, hlm. 16-17

[5] Alain Badiou, In The Praise Of Love (Paris: Flammarion, 2009) hlm. 8

[6] Slogan Gauche prolétarienne: “it is right to rebel

 

 

One Response to "[Resensi Film] The Dreamers: Pertemuan Dua Toilet"

  1. Dwi widya  27 April, 2018 at 18:21

    Berat

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.