1998: Sebuah Novel Tentang Melawan Lupa

Desi Sommalia Gustina

 

Sebuah pepatah asing mengatakan bangsa itu terjadi karena para warganya mau mengingat peristiwa-peristiwa jatuh bangun bangsanya sendiri. Tidak melupakan sedikitpun peristiwa yang telah terjadi meskipun itu merupakan peristiwa yang keji. Tetapi tetap mencatatnya sebagai bagian dari perjalanan bangsa. Karena jika dilupakan, berarti bangsa tersebut mengkhianati dirinya sendiri. Tapi Sindhunata bilang kita adalah bangsa yang mudah lupa. Banyak peristiwa masa lalu yang kita tak ingat lagi, apalagi jika peristiwa itu adalah kekejaman, kekerasan, dan pelanggaran hak asasi yang kita lakukan terhadap sesama anak bangsa.

novel 1998

Pepatah Latin bilang “scripta manent verba volant” yang maknanya “apa yang tertulis akan abadi, apa yang terucap akan tertiup bersama angin”. Sehingga dapatlah dikatakan bahwa menulis merupakan salah satu upaya melawan lupa, terhadap peristiwa penting atau peristiwa yang sengaja dilupakan. Sebagaimana yang dilakukan para penulis, termasuk penulis karya sastra. Salah satunya Ratna Indraswari Ibrahim. Meski lumpuh ia tetap menulis hingga akhir hayatnya. Karya terakhir yang ditulis Ratna sebelum menghadap Allah swt berupa novel yang berjudul 1998 yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama (September 2012). Dari judulnya kental terasa betapa Ratna berusaha merekam sejarah yang terjadi di bumi pertiwi, terutama atas peristiwa yang terjadi pada tahun 1998.

Tahun 1998 adalah momentum sejarah perubahan republik ini. Perubahan dalam banyak lini. Terutama pada sistem pemerintahan yang berjalan demikian otoriter selama berpuluh-puluh tahun serta telah mengubur keadilan ke ceruk terdalam. Pada saat itu, mahasiswa mencoba berada di garda terdepan untuk menjadi agent perubahan. Hanya saja dalam perjalanannya harus dilalui dengan berliku. Namun, sekali layar terkembang pantang mundur ke belakang. Begitu tekad Neno dan kawan-kawan dalam novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim, ketika menjadi pelopor gerakan demonstrasi guna menumbangkan rezim otoriter yang tengah berkuasa.

Novel 1998 bercerita dari kaca mata Putri, anak Walikota Malang, yang pada pertengahan tahun 1994 masuk kuliah di Universitas Brawijaya, Malang. Putri lahir sebagai generasi anti politik. Namun, ketika memulai debutnya sebagai mahasiswa Putri tak bisa menghindar dari arus demonstrasi mahasiswa di kampusnya. Terlebihlagi motor penggerak demonstrasi itu adalah rekan-rekan satu angkatannya: Neno, Marzuki, Gundul, Rudi.

Sebagai generasi anti politik, Putri tertarik dan merasa perlu menulis tentang sahabat-sahabatnya yang terlibat dalam sebuah gerakan yang bertujuan menumbangkan sebuah rezim. Satu demi satu. … Aku ini hanya ingin menceritakan kehidupan anak muda sebagai bagian dari sejarah zamanku… (halaman 2), begitu Putri beralasan. Tetapi diantara semuanya, Neno mendapatkan porsi yang lebih banyak untuk diceritakan Putri di dalam buku hariannya. Apalagi kian hari Putri merasa kian dekat dengan Neno dan keluarganya, termasuk Bunda Neno, Nuraini. Putri merasa nyaman berada di tengah-tengah keluarga Neno yang hangat. Hal ini tentu saja berlawanan dengan atmosfer di rumah dinas orangtuanya.

Waktu bergulir, Putri terus disuguhi kenyataan yang sama sekali baru dalam kehidupan kampus. Putri menyaksikan lima sampai tujuh mahasiswa membawa poster menuntut Suharto. Sebagai generasi a-politik, Putri merasa aneh melihat Marzuki, Gundul, Rudi dan Neno berada di antara para demostran. Bahkan tak jarang Putri mendengar bahwa Neno dan rekan-rekannya bolak-balik Malang Jakarta untuk sebuah demonstrasi.

          “Ini demi kalian semua. Reformasi harus ditegakkan, agar anakku menghirup arti kebebasan yang sesungguhnya…” (halaman 97) begitu kata Neno berapi-api. Namun, Putri melihat Neno dan teman-temannya yang lain telah kehilangan kejenakaannya. Terlebih lagi ketika teman-temannya bilang, selama tiga puluh tahun lebih penduduk di bumi pertiwi adalah tawanan. Dan ketika Putri memasuki gerbang semester tiga Putri mendapati rekan-rekannya tidak hanya sekadar demonstrasi, tetapi dalam aksinya mereka juga melakukan pembakaran foto presiden yang sudah berkuasa selama 30 tahun lebih itu.

Novel ini selain bercerita tentang semangat perjuangan juga bercerita tentang cinta. Cinta antara lawan jenis, juga cinta orang tua terhadap anak, demikian sebaliknya. Suatu ketika Putri bertanya apakah sebagai Ibu, Nuraini tidak takut atas jalan yang dipilih Neno. Kepada Putri, Nuraini menjelaskan bahwa cinta itu membebaskan.  “Nduk, itulah pilihan Neno, sebagai ibunya tentu aku sangat cemas tapi aku tidak bisa mencegahnya. Aku tidak ingin cintaku kepadanya … bersyarat…” (Halaman 57) begitu kata Nuraini.

Di tengah kekalutan dan kesepian, Putri menemukan dirinya dalam buku-buku. Sepertinya semua bacaan itu pintu masuk ke semua kehidupan yang sangat jauh berbeda dengan dirinya. Hal ini disebabkan karena sejak lulus SMA tidak ada yang membuat Putri jatuh cinta. Kecuali senja itu, Putri merasa ada air mata. Tiba-tiba ia membayangkan Neno sedang terkantuk-kantuk di kereta yang pengap. Kekalutan Putri semakin bertambah ketika di media massa diberitakan bahwa banyak orang-orang yang hilang atau dihilangkan. Pada saat yang sama Neno dikabarkan tidak lagi kembali. Menurut beberapa orang, Neno berjalan sendirian entah ke mana. Sejak itu mereka tak pernah lagi bertemu Neno. Tersiar di surat kabar ada penculikan lagi. Putri khawatir Neno termasuk daftar orang-orang yang dihilangkan.

Disamping mengisahkan tentang semangat perjuangan, novel ini juga mencoba menyampaikan sisi kelam dari perjuangan itu sendiri: tentang orang-orang yang dihilangkan, kepedihan yang dirasakan keluarga korban penculikan, juga perlakukan yang tak menyenangkan yang dialami aktifis yang diculik ketika di dalam penjara, disamping juga mendedahkan bagaimana seseorang dipaksa mengganti kewarganegaraannya, seperti yang terjadi pada Neno. Bahkan, Neno bukan saja harus mengganti mengganti identitasnya tetapi juga harus melupakan keluarganya, cita-citanya pada ideologi, dan mimpi besarnya.

Dalam novel ini Neno bicara begini, “suatu hari negeri ini akan dipimpin oleh seorang presiden yang bisa mengubah tata nilai negeri ini. Seorang demokrat sejati. Tanpa harus menunggu 200 tahun merdeka seperti Amerika…” (halaman 277). Namun, setelah lebih satu dekade rezim yang demikian otoriter itu tumbang apakah harapan Neno telah terwujud? Mari kita renungkan.

 

Desi Sommalia Gustina, Alumnus Pascasarjana Universitas, Andalas, Padang

 

Dipublikasikan di Singgalang, 21 Juli 2013

 

 

About Dessi Sommalia

Desi Sommalia Gustina, Alumnus Pascasarjana Jurusan Ilmu Hukum Universitas Andalas, Padang. Saat ini menggerakkan komunitas menulis Rumahkayu Pekanbaru. Menetap di Pekanbaru. Bekerja sebagai tenaga pengajar di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Riau.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.