[Serial Negeri Atas Awan] re-Incarnation, Pacar Kecilku

Dian Nugraheni

 

Bicara soal kehidupan kita di masa lalu, kemudian terlahir kembali di masa sekarang, atau lebih sering dibincangkan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan re-inkarnasi, memang cukup mbulet, ada ujung, tapi nggak ada pangkalnya. Ya, seperti melihat suatu gejala, fenomena, tapi susah untuk membuktikan.

Ini kisah berawal, kira-kira tiga tahun lalu, ketika aku baru saja mulai bekerja sebagai kasir di deli, kedai sandwich, yang berada di tengah kampus Universitas George Washington. Sebagai pekerja kasir, aku nggak sesibuk pekerja di kitchen, dapur, yang harus berjibaku dengan take order yang dobel-dobel, kemudan secara mandiri harus menyelesaikan order yang sudah diambil itu, serba cekatan.

Kerja sebagai Kasir cuma entry harga barang yang dibeli, terima pembayaran, dan menyelesaikan proses pembayaran itu. Simpel, dan sering punya banyak waktu untuk melamun, atau apa lah.

Maka pagi itu, sejauh pandang menerobos dinding kaca bangunan deli, aku lihat sebuah bis diparkir tepat di depan deli. Lalu sebentar kemudian, nampak rombongan mahasiswa berbaris rapi urut, satu-satu masuk ke dalam bis. Mungkin mereka ini mahasiswa baru yang akan touring keliling kota di masa orientasi pengenalan lingkungan kampus, demikian pikirku.

Tak ada yang terlalu menarik dari rombongan mahasiswa yang kebanyakan bule itu, sampai ketika seorang anak lelaki, berhenti sejenak tepat di depan pintu bis, karena dia terhalang oleh mahasiswa lain yang sedang menaiki kendaraan tersebut.

Saat itu, tiba-tiba hatiku bergetar hebat, tepat pula ketika anak lelaki itu menolehkan kepalanya, melihat ke arah deli. Tatapan kami beradu, cuma beberapa detik, tapi bagiku, yang beberapa detik itu sungguh bermuatan daya getar yang luar biasa, bahkan sampai menggigil, dan aku tak tau, apa dan bagaimana terjemahannya.

Sejak saat itu, pikiranku terus tersambung pada anak lelalki itu. Sekali saja aku melihat wajahnya, dan aku yang biasa banget cepat melupakan wajah orang, kali ini malah nggak lupa-lupa, lengket di depan mata, ha..ha..ha..

Sampai beberapa hari kemudian, anak lelaki ini mulai sering belanja ke deli, dan ketika membayar belanjaannya, dia selalu saja menanti agar bisa membayar di mejaku. Begitu membayar di mejaku, langsung aku lihat nama yang tertera pada print out kartu bayarnya, dan mulai saat itu pula namanya sudah aku ingat, dari first name, middle name, tentu saja last namenya…

Aku kira, kalau sama-sama jujur, sejak pandangan pertama itu, aku sudah terhubung dengan dia, dan dia terhubung denganku. Saking “terhubung”nya, bahkan bila sepuluh menit menjelang kedatangannya di deli, aku sudah bisa merasakan getarannya, bahkan juga, aku sudah bisa “melihat”nya, akan memakai baju warna apa…ha..ha..ha…ini, kedengarannya, keterlaluan penghayatannya ya…

Sampai ketika aku pindah kerja ke bagian kitchen, di dapur sebagai Sandwich Maker, taulah aku bahwa Lelaki Kecilku itu menjadi “pujaan” orang dapur juga. Temanku, si Cantik Edith selalu bilang, bahwa Lelaki Kecilku ini adalah “boy friend”nya. Boy friend adalah sebutan buat para pelanggan yang difavoritkan. Sebagai orang baru di dapur, aku nggak mau rame berantem soal boy friend ini, sampai suatu saat, ketika Lelaki Kecilku bilang minta sandwich dan aku berniat membuat untuknya, harus sedikit bersitegang dengan Edith, “He’s my boy friend since long time ago, Dayana…!” kata Edith.

“Edith, you can take aaaaall…of my boy friend, but not this one. He is my boy friend, the one and only, please…” kataku. Sampai akhirnya Edith mengalah, dia lebih sering relakan aku yang bikinkan sandwich, ketika suatu hari, terang-terangan Lelaki Kecilku itu bilang, “aku mau Dian bikinkan sandwichku…” Lalu kali lain, Lelaki Kecilku minta temannya yang lain untuk memberikan ice cone buatku…ha..ha..ha… Ini langkah “resmi” yang mengatakan bahwa, Lelaki Kecilku itu memang milikku, Pacar Kecilku..!! Naif, Silly, Funny..!!

Tapi, percayalah, bahwa Pacar Kecilku ini, adalah sosok yang sangat sweet, siapa pun ingin dekat dengannya, termasuk semua pekerja deli, bahkan si owner yang pendiam seribu bahasa, pak John, bisa ngobrol sama dia. Tak ketinggalan si Comel Joe Deli,selalu berlama-lama bincang-bincang sama dia. Dan aku pun tau, banyak sekali mahasiswi cantik dan seksi silih berganti berfoto-foto berpesta pora dengannya. Pacar Kecilku ini populer bukan karena “aksinya’, atau dia sengaja membuat gerakan yang menarik siapa pun, tapi dia apa adanya memang sudah sangat membuat orang lain tertarik. Kalau sampai ada yang bilang dia playboy, aku bilang bahwa ini sama sekali bukan salahnya, tapi salah orang-orang yang terlalu tertarik padanya…ha..ha..ha..

Okaylah, itu semua cerita nyata sehari-hari di deli yang berkaitan dengan Pacar kecilku. Tapi dalam hati, aku selalu bertanya-tanya, “Siapakah gerangan dia, sehingga pertemuanku dengannya begitu menggetarkan rasa..? Rasa yang tergetar, dan kemudian tersambung ini adalah rasa yang jujur, bukan artifisial, sebuah “hubungan” yang terjadi karena frekuensi yang sama.

Kadang aku melihat diriku hidup di sebuah tanah pertanian, dengan pakaian imigran Eropa yang baru memasuki Amerika pada jaman itu. Hangat matahari yang kalah oleh dingin angin utara, pepohonan hijau di mana-mana, para lelaki tampan, para perempuan cantik, dan aku malu-malu memandang pada seorang Lelaki, yang juga memandangku dengan wajahnya yang tersenyum.

Teori “ketidakpantasan”, karena usia Pacar kecilku ini separuh dari usiaku, menghalau pikiranku, bahwa dia bukanlah Kekasihku di kehidupan masa laluku, tapi, mungkin anakku, anak lelakiku. Berkali-kali, aku coba yakini itu, tapi akhirnya hati kecil membantah, pengakuan bahwa dia adalah anak lelakiku, patah. Yang terus ada sampai hari ini adalah, dia Kekasihku di kehidupan masa laluku.

Cuma di jaman ini, keidupan kami sungguh berbeda, mestinya, aku sebaya dengan Ibu atau Ayahnya..he..he..he..

But, it’s really okay. Bagi aku, rasa, cinta, bukanlah soal fisik. Rasa, cinta, adalah soal batin. Aku bahkan sangat bersyukur, terdampar ke belahan bumi utara, menemukan “cinta’ masa lalu, merasainya setiap saat bertemu dengan Pacar Kecilku, meski hanya dengan sedikit berkata-kata, sebab selama ini, aku pun lebih sering malu-malu bila berhadapan dengan dia, atau tepatnya, nggak berani lebih malu, karena begitu liat mukanya, maka wajahku sudah langsung memerah tanpa ampun, dan semua temanku di dapur akan terus meledek, “Look, Dian face, red…ha..ha..ha.., why You so nervous, Dian..? You happy, right..?” Bla..bla..bla…Dan aku pun membuat sandwich buat Pacar Kecilku dengan sangat seksama dan hati-hati, bahkan kadang saking nervousnya, malah sandwich yang kubuat, nggak jadi-jadi..ha..ha.., yang wrapenya sobek lah, yang telornya mleber ke sisi grill lah ketika menggoreng telor, dan lain sebagainya, pokoknya full nervous.

Seperti siang tadi, ketika aku masih berada di dalam kitchen, dapur, seorang teman teriak, “Dian, someone looking for You…”
“Wait, aku selesaikan orderan ini dulu…” Kataku sambil menyelesaikan sandwich yang sedang aku bikin.
Lalu kudengar ada kawan lain yang nawarin, “how can I get you..?”
Lirih kudengar suaranya, “I’m looking for Dian..” Dan hatiku kembali bergetar hebat.
Lalu kutemui Pacar Kecilku, dan kutanyakan, pengen dibikinkan sandwich apaan siang ini.
Setelah kubikinkan sandwich pesanannya, egg whites, turkey, avocado, cheese, on wheat wrape, dia berkata lirih di sebelahku, “Dian, I’m promise untuk mengirimkannya padamu.., promise..promise..promise…” katanya sambil senyum, indah…

Aku mencoba menatap mukanya sebentar, sambil berkata, “aku cukup mendengar kamu bilang janji, satu, dua kali, selebihnya aku ingin kamu membuktikannya…, aku benci Lelaki yang suka ngomong janji-janji doang…”

Lalu temanku, May yang sedang di sebelahku, menimpali, “Yes, Dian don’t want you just give her a promise, just talk, no action…” Hixixixixixi, kali ini muka Pacar Kecilku yang memerah…

pacar-kecil

Sudah ah, ngomongin Pacar kecilku bikin aku malu-malu mlulu, tapi juga suka, senang, tubuh dan jiwa tergetar oleh rasa yang indah. Hanya rasa dan rasa yang bicara, tanpa sentuhan, tanpa kerling menggoda, tanpa kata-kata yang malah bisa bikin ribet dan seterusnya.

Maaf, aku nggak mampu mengatakan hal lain, kecuali, Kau, Pacar kecilku, Kau adalah Kekasih hatiku di kehidupan masa laluku…, dulu…duluuu sekali, ketika kita hidup bersama di sebuah lembah pertanian, dengan empat musim bergantian, ingatkah kau ketika kita berdua ada di sebuah padang, bersama domba-domba yang sedang merumput, dan kau petik seutas kembang ilalang cantik untukku, lalu kau sentuh pipiku, dan tersenyum indah…, persis, senyummu saat ini, Pacar Kecilku…
Cinta,

Yang dinyatakan oleh getar rasa dalam frekuensi yang sama, selalu indah tiada tara…

 

Salam Pacar Kecilku,

Dian Nugraheni,

Virginia,

Rabu, 19 Maret 2014, jam 10.46 malam

(Setelah salju di musim semi, lalu hujan, lalu akan ada frozen mix, hujan bercampur butiran es, beberapa hari mendatang..I need my winter all the time..!!)

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *