Cita-cita Mereka (2)

Wesiati Setyaningsih

 

Ceritanya, mendengar bahwa Ipul tidak akan kuliah karena takut tidak ada biaya, suami bilang bahwa sekarang di universitas negeri selalu ada peluang untuk anak tidak mampu. Baik itu dengan bidik misi yang bisa didapatkan dari awal, atau beasiswa yang bertebaran dan bisa didapatkan setelah kuliah.

Akhirnya kami mendorong Ipul untuk kuliah. Ternyata dia sendiri juga diajak temannya untuk mencoba mendaftar, siapa tahu diterima. Di saat yang sama, kami juga harus memikirkan Dila, si sulung yang teman se-angkatan Ipul dan Rosyid juga.

Dila sendiri sudah menuliskan apa keinginannya sejak dia naik kelas XII. Awalnya dia ingin masuk jurusan psikologi namun kemudian beralih ingin masuk jurusan komunikasi Undip. Dia sempat kecewa karena tidak diterima di jalur tanpa tes, dan harus mempersiapkan diri untuk ikut jalur tes.

Suatu malam saat sedang belajar, dia bilang,

“Tau nggak Ma, kenapa aku kemarin nggak diterima di jalur SNMPTN (jalur tanpa tes)? Soalnya aku sudah nulis di buku Dream Book-ku, ‘masuk Komunikasi Undip dengan SBMPTN’. Kan waktu itu aku nggak tau kalo boleh milih lintas jurusan. Kirain IPA yang bolehnya milih jurusan-jurusan IPA. Nggak taunya boleh milih jurusan IPS. Jadi aku nulisnya gitu…”

Saya termangu. Entah memang demikian atau tidak, dalam hati saya penuh harap affirmasi-nya kali ini berhasil. Saya bilang,

“Ya sudah, semoga nanti tes-nya lolos.”

Hari berlalu, Ipul dan Dila ikut tes tanpa kesulitan berart. Hanya saya kami harus sabar menunggu hasilnya. Pengumuman dilakukan di internet pada tanggal 16 Agustus, jam 5 sore. Saya sudah gerah tidak tahan menunggu jadi saya ajak Izza jalan-jalan untuk ngabuburit sambil membeli makanan.

Di jalan Dila sms saya, tapi karena sedang di perjalanan, saya tidak mendengar. Sampai rumah Dila mengabarkan kalau dia diterima di jurusan Komunikasi Undip. Rasanya sungguh luar biasa. Bagaimana dengan Ipul? Malamnya saya sms dia untuk menanyakan apakah dia diterima. Dia mengabarkan kalau dia diterima di jurusan Ilmu Hukum Unnes (Universitas Negeri Semarang).

Sampai sekarang saya masih tergugu dalam rasa syukur yang luar biasa kalau mengingat ini semua. Keinginan dan cita-cita selalu menjadi hal yang sangat mungkin ketika kita meyakininya.

 

—SELESAI—

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *