Marshanda

Rusdian Malik

 

Setidaknya ada dua sisi yang dianalisis secara arif, kritis dan adil sok bijaksana di kasus Marshanda yang lagi ramai ini.

Pertama, sebagai orang tua, saya rasa apa yang dilakukan oleh ibunya yang konon katanya memasung (lalu dijemput paksa dan disuntik penenang) itu jangan dimaknai terlalu negatif juga, sebab tak ada ibu yang tega menyakiti anaknya (itu dulu, sekarang sdh banyak ibu-ibu yang membuang anaknya, bahkan membunuh anaknya).

marshanda

(okezone)

Demikian hanyalah sebagai reaksi kasih sayang agar Marshanda jangan nekad melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi katanya Marshanda ini punya gangguan emosi dan psikologis gak stabil yang memuncak-muncak. Bukan sekedar stres, namun dekat dengan gangguan jiwa sebenarnya. Walaupun mungkin andai saja aksi sang ibu kalau bisa bukan dalam bentuk pemasungan, mungkin bisa melalui di-hipno (tis) terapis oleh Indro Warkop atau Uya Kuya saja.

Mengenai penjemputan paksa, itu biasa aja di zaman sekarang. Dijemput petugas kesehatan itu biasa aja, untung saja gak dijemput polisi, dijemput kejaksaan, dijemput debt collector, dijemput dokter rumah sakit jiwa yang ternyata dia adalah pasien gila, atau apa mau dijemput Dwayne Johnson kaya di film The Rundown, atau apa mau dijemput Tim Mawar, mau? Apalagi dijemput sakaratul maut. Saya sih menyarankan yang menjemputnya Ben Kasyafani aja, namun Ben mesti pakai gaun india dan joget-joget ala orang gila kayak Ustadz Riza, dijamin deh pasti Marshanda tambah gila.

Kedua, bagi Marshanda, gak perlu lah kalau rasa jengkel pada ibunya ini kalau diumbar ke ruang publik, secara khan itu ibunya. Apalagi kalau sampai membawa ke masalah hukum dengan pakai pengacara OC Kaligis yang sudah uzur tua renta yang sudah kaya raya yang sangat fasih bicaranya itu bla bla bla sgala.

Ingat, dia ibumu lho sayang. Kalau sampai keterlaluan, bisa-bisa kamu malah apes jadi anak durhaka kayak di sinetron hidayah itu. Kalau berlebihan kesal pada ibunya bisa2 publik memvonis secara sah bahwa marshanda ini sdh bener-bener gila.

Seperti panutan saya pak SBY, saya hanya bisa prihatin. Artinya, kekayaan, kecantikan, kegantengan, keterkenalan itu bukan sebuah jaminan kebahagiaan. Apalagi yang tidak kaya, tidak cantik tidak ganteng, dan tidak ada yang mengenali kita, apalagi. Bisa-bisa kita malah lebih cepat gilanya hahahaha.

Ingat, ingat bahagia itu sejatinya ada di sini. Terserah “di sini” itu ada di mana. Bisa di iman, di hati, di selangkangan. Maka carilah!

 

 

About Rusdian Malik

Dia adalah Pesbuker asal Kalimantan Selatan kelahiran 1985. Pria penggemar acara stand up comedy ini adalah alumnus pesantren yang cukup terkenal di Kalimantan Selatan, yakni Pondok Pesantren Al-falah Banjarbaru.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.