[Perjuangan Anak Bangsa Mengenyam Pendidikan] Impian yang Tertunda

Meitasari S

 

Seorang laki-laki muda duduk di hadapanku. Tatapan matanya yang sipit namun tajam memancarkan kecerdasannya. Wajahnya yang tirus dan bibirnya yang tersenyum tipis menandakan sosok ini seorang yang lebih banyak berpikir dan bekerja daripada bicara. Lengannya kurus tapi kuat. Ya, aku tahu dia adalah seorang pekerja keras.

Kutatap wajahnya dalam-dalam, sambil sesekali menelusuri coretan tentang diri dan keluarganya. Mulai dari ayah yang pergi meninggalkannya, lalu ibu yang menikah lagi dengan seorang laki-laki yang tak bertanggung jawab. Dari pernikahan itu ia memiliki 2 adik tiri yang cerdas. Bahkan salah satunya pemenang suatu olimpiade mata pelajaran eksak.

Sayang sekali, kepahitan demi kepahitan belum beranjak dari hidupnya. Ayah tiri yang hanya pulang dan meninggalkan hutang dan kadang sumpah serapah, hingga akhirnya ia dan keluarganya harus keluar dari rumah yang dipinjami kerabat.

Dengan pendapatan yang tak menentu, sebagai seorang buruh sebuah pabrik es krim, sang ibu mendapat upah +/-Rp.600.000/bulan, itupun jika tak berhalangan, mereka harus mencukupkan untuk makan 4 orang anggota keluarga, pendidikannya, juga ke-2 adiknya, transport dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Mustahil! Ya pasti, maka sebagai anak laki-laki tertua, ia tak berpangku tangan. Ia membantu sang ibu dengan berjualan hasil tanaman yang ditanam di lahan kosong seorang kerabat. Hasil kebun tersebut ia jual ke pasar.

Sesekali aku menghela nafas, mendengar cerita dan ketegarannya. Yah, seharusnya memang demikian. Laki-lakiharus kuat. Sepahit apa pun hidup, ia diharamkan menangis. Walau sesungguhnya aku tak setuju dengan hal ini.

Sudah beberapa hari belakangan, aku mewawancarai calon penerima beasiswa Perguruan Tinggi – Anak-Anak Terang. Banyak kisah nyata yang tak kupercayai benar terjadi tapi dikisahkan secara langsung oleh pelakunya di hadapanku. Ya! DI HADAPANKU!

Hal ini membuatku cukup pusing karena, begitu banyak yang harus dibantu, sedangkan kemampuan dari komunitas kami yang baru saja menjadi sebuah yayasan ini, belum sanggup membiayai begitu banyak mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikannya. Memperbaiki nasibnya. Kami harus benar-benar selektif.

dreams_by_sara_morini-d5veqsm

(sara-morini.deviantart.com)

Wawancara hampir usai, sampai aku berhenti pada kalimat akhir dari esai yang dibuatnya.

“Sebenarnya, aku bercita-cita menjadi seorang dokter. Aku ingin membangun sebuah rumah sakit gratis bagi mereka yang tidak mampu. Tetapi apa daya. Mungkin belum rejekiku. Aku jalani saja takdirku, walau saat ini bersekolah di Sekolah Tinggi Ilmu Komputer di Purwokerto dengan IP ku saat ini 3,83. Tapi Keinginanku untuk menjadi seorang dokter tak akan pernah mati. Entah dengan bekerja terlebih dahulu lalu kuliah lagi, atau berharap, suatu hari ada donatur yang bersedia membiayaiku, dan aku akan mengembalikan biaya itu kelak ketika aku sudah berhasil mewujudkan impian itu. Semoga Tuhan mendengar doaku.”

Aku tertarik mengetahui lebih jauh tentang hal ini. Lalu aku bertanya padanya :

“Jadi,cita-citamu dokter ?”

Sebentar ia menatapku, matanya mulai berkaca-kaca. Hal ini kontras sekali dengan ketegarannya ketika bercerita tentang kepahitan hidup dan keluarganya. Dengan suara yang bergetar dan sesekali serak kacau ia berkata :

“Iya ibu. Saya ingin sekali menjadi dokter. Bahkan saya tetap mencoba ikut tes di PTN, dan kemarin diterima. Tapi …”

Suaranya tercekat. Aku terpana melihat perubahan sikapnya dari seorang yang tegar menjadi begitu rapuh.

“Apa yang membuatmu ingin menjadi dokter,” selidikku.

“Saya ingat, ketika ibu sakit dan kami tidak punya uang untuk berobat,” tuturnya dengan suara parau sambil tertunduk.

“Dan saya, melihat, begitu banyak orang miskin yang ingin berobat, tapi sering ditolak rumah sakit karena biaya,” lanjutnya lirih.

“Apakah kamu masih ingin menjadi seorang dokter,” tanyaku.

“Sangat, bu” jawabnya. “Mungkin saya harus jalani di bidang ini dulu, tapi saya tak kan berhenti mewujudkan impian saya.”

Kutarik nafas dalam-dalam dan membuang muka, sambil menahan airmata yang nyaris jatuh.

“Baiklah, tetaplah bermimpi dan wujudkan impianmu. Terus berharap dan berusaha, dan alam akan membantumu mewujudkan impian itu. Ibu berdoa untukmu.” Aku mengakhiri wawancara siang itu.

Ah….

Ternyata bagi seorang anak, gagalnya sebuah impian lebih buruk dari kepahitan hidup

 

Semarang,7 Agustus 2014

 

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.