Aku Tidak Bisa Mengatakan Tidak (5)

Leo Sastrawijaya

 

Artikel sebelumnya:

Aku Tidak Bisa Mengatakan Tidak (1)

Aku Tidak Bisa Mengatakan Tidak (2)

Aku Tidak Bisa Mengatakan Tidak (3)

Aku Tidak Bisa Mengatakan Tidak (4)

 

‘Jangan berhenti sayang. Jembatan yang harus kita lewati memang begitu menakutkan. Tetapi hanya itulah jalan bagi kita untuk sampai keseberang sana, sebuah tempat penuh cinta, pelabuhan terakhir kita, tempat kita menambatkan kapal kita selamanya, membangun rumah cinta dan membesarkan anak-anak kita, serta mempersiapkan mereka untuk pelayaran mereka sendiri.’

‘Kehidupan bisa jadi jauh lebih ganas dari samudra raya, kita harus berjanji kepada mereka yang kini masih di suatu tempat di surga sana, bahwa kita akan berusaha membangun rumah paling sempurna untuk mereka tumbuh dan bersiap-siap. Kita harus pastikan bahwa saat mereka berangkat, tidak ada satu lukapun yang belum tersembuhkan. Rumah kita harus menjadi satu-satunya rumah yang selalu membuat mereka rindu, sebelum mereka harus membangun sendiri rumah mereka, hidup mereka. Mas paham apa yang aku maksud?’

‘Iya sebuah rumah cinta sayang, hanya sebuah rumah cinta saja yang memungkinkan kondisi tercipta. Dan kita merupakan pilar utamanya. Aku tidak ragu kamu adalah pilar pasanganku. Kamu sebagian dariku yang kutemukan lagi.’

‘Sebentar lagi kita harus mulai meniti jembatan tersebut. Suka atau tidak suka. Seandainya ibu adalah orang sebijak ibumu, mungkin keadaan akan menjadi sedikit lebih baik, tetapi aku yakin tidak. Saya tidak tahu bagaimana reaksi ibu nanti setelah beliau tahu segalanya.’

‘Sudahlah, mungkin saja jembatan yang menakutkan itu hanya imajinasi kita saja, mungkin hanya sebuah jembatan yang akan memberikan rasa tegang di permulaan tetapi kemudian segalanya lancar hingga ke seberang.’

‘Mudah-mudahan saja ya…..Tetapi jikapun aku harus dicampakan keluarga kerena mereka menganggap aku merebut kebahagian adikku, aku akan rela menjalaninya.’

‘Ir, apakah kita telah menjadi terlalu egois?’

‘Tidak mas, tidak. Kita menjadi terlalu jujur barangkali. Apa yang kini berkembang dalam hatiku adalah sesuatu yang khusus, sesuatu yang hanya bisa dimengerti oleh diriku sendiri dan hanya aku yang bisa untuk memenuhinya. Bisa kukatakan bahwa aku adalah sebuah mobil yang memiliki kesadaran tersendiri tentang bahan bakar yang kubutuhkan. Aku membutuhkanmu agar jiwaku terus berdenyut sempurna, karenanya dengan pengorbanan apapun kita harus tetap bersama. Aku membutuhkanmu. Rasanya tidak mungkin tergantikan yang lain.’

Ira, kamu adalah cewek paling sempurna yang pernah kutemui, tidak salah lagi! Semua yang kubutuhkan dari seorang kekasih ada dalam dirimu. Kenakalan, romantisme, kecantikan, tekad, keberanian, harga diri dan kepolosan semuanya lengkap tersaji di dirimu. Aku mencintaimu sayang, sumpah. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu dengan seluruh jiwa ragaku. Jika kamu menganggap aku adalah bahan bakar yang kau butuhkan, maka kamu adalah ladang energiku, sumber inspirasiku, getar rinduku dan aah hampir segalanya…….Kau adalah separoh dari hidupku yang kutemukan lagi. Energi yang menyusup lembut kedalam jiwa ragaku, menggerakanku, menyadarkanku, memberikan kekuatan tambahan untuk mampu bertahan serta mengobati semua luka jiwaku. Masa bodoh bila orang lain mengatakan aku bombastis.

Ir, mereka yang menganggapku berlebihan adalah mereka yang aku jamin tidak pernah merasakan cinta yang sebenar-benarnya cinta. Cinta yang menurut ibuku adalah utuh. Cinta yang cahayanya berpendar jauh melewati gugus Bimasakti. Cinta yang mungkin saja sebentuk cahaya dari Tuhan yang diletakan dalam jiwa kita dan terang benderangnya hanya dapat kita rasakan dalam kejujuran.

Pernahkah kamu melihat pendar cinta di mata para pendusta, pemerkosa, para pembuat fitnah, orang-orang serakah, orang-orang yang bisa tertawa bangga setelah membuat orang-orang merintih kesakitan? Tidak pernah bukan? Kamu hanya dapat melihat hasrat iblis di matanya. Kamu hanya akan mendapat cerita tentang kekerdilan dari sana. Sementara setiap kali aku menatap mata Ira, aku seperti menatap kedalam sebuah biru samudera……..damai, bersih namun bertenaga dengan batas cakrawala nan jauh di sana. Aku merasa mampu bernapas lebih lama, menyerap daya hidup lebih kuat, dan di dalam bening matanya aku menemukan rumah pribadi untuk kembali. Sebuah rumah terbaik dari seluruh tempat yang pernah kutemui di muka bumi ini. Yang mungkin hanya cocok untukku seorang. Rumah khusus kami, bukan rumah untuk semua orang. Namun dari rumah tersebut kami yakin akan mampu membuat setidaknya sebuah istana untuk dinikmati semua orang……..Tuhan inikah daya itu? Daya yang mungkin juga telah membuat getar suara Mahatma Gandhi masih terus bergema meski telah puluhan tahun beliau tiada, getar cinta juga barangkali yang membuat Nelson Mandela kehilangan hasrat untuk membenci siapapun. Rupanya di hadapan Sang Cinta, kekerdilan menjadi nampak begitu kerdil……..

Ketika mata kami saling melebur, senyum kami saling mengembang, dan kami tenggelam dalam puncak kesyahduan kami dikejutkan oleh suara-suara kaki yang menginjak daun-daun kering. Tiba-tiba saja di hadapan kami telah berdiri tujuh pasang kaki, tujuh pasang mata dengan masing-masing membawa senyum paling menakutkan bagi kami. Ira tampak begitu pucat.

‘Sorry Ir, kami mengintip kalian dari tadi……’ Wulan mengatakan hal itu dengan hati-hati, ia kemudian merenggut Ira dari pelukanku dan mendaratkan sepasang ciuman di kedua pipi Ira. Ada butir kecil air mata mengembang di pelupuk mata Ira. Mereka memang dekat. Ketegangan dan rasa malu sedikit mengendur dari wajah Ira, dan aku bersyukur.

‘Ma’af Er, aku tidak mengatakan apapun kepada mereka tentang kamu, tetapi mereka juga sudah menangkap perubahan luar biasa pada dirimu. Tadi saat mereka merencanakan untuk mengikutimu aku tidak punya pilihan……’ Priyo nampak begitu menyesal dengan kedatangan mereka, aku sendiri percaya Priyo memegang teguh janji itu.

‘Ide ini bukan dari Priyo, sungguh.’ Izam, anggota geng paling alim mencoba melindungi Priyo dari amarahku. Mereka tidak menyadari jangankan untuk marah, menengadahkan wajahpun berat rasanya.. Aku malu.

‘Maaf pula, saat kami tahu bahwa yang bergandengan tangan adalah kalian maka kami pikir kami akan menyaksikan sepasang kuda binal yang bercinta. Kami ternyata keliru berat. Barusan kami disuguhi fragmen cinta yang menurut kami sangat kudus. Jujur saja kami kaget, tetapi kemudian kami merasa bersalah. Saat bermenit-menit kami menyaksikan kalian saling tatap dalam kesyahduan, kami memutuskan untuk tidak bersembunyi lagi. Jujur saja kalian telah mengajari kami tentang ketulusan cinta.’ Batak satu ini kemudian memelukku menyodorkan tangan dan mengucapkan selamat bagaimanapun aku menjadi terharu dengan simpatinya. Mereka rupanya hanya penasaran saja dengan perubahan sikapku yang drastis.

Love-wallpaper-love

‘Ira kami selalu mengintip Erwin saat berpacaran dahulu. Percayalah yang kami lihat tadi sangat jauuuuuh berbeda dengan tingkahnya bila bersama cewek lain….’

‘Termasuk terhadap adikku Sisi?’

‘Iya, ke Sisi juga berbeda. Tetapi kami sepakat kalau kami tidak menangkap gairah seperti yang kami tangkap tadi. Kalian saling jatuh cinta. Kami yakin itu. Dan kami turut berbahagia untuk kalian.’

Ira tersenyum, menatapku dengan wajah penuh terima kasih. Tetapi aku sedang sedikit jengkel dengan ulah teman-temanku jadinya aku tidak membalas tatapannya dengan lebih mesra.

‘Sial, rupanya kalian semua bedebah keparat. Jadi selama ini kalian selalu menonton saat aku kencan dengan pacar-pacarku terdahulu?’ Aku memang sengaja menaikan volume suaraku. Sengaja. Akan kubuat skor menjadi satu-satu. Saat kulihat wajah mereka sedikit berubah melihat amarahku, aku segera menambah tekanan dengan mendekati Izam, anggota geng paling besar tetapi paling alim. Kuangkat kerah bajunya.

‘Hey. Kenapa kamu biarkan aktifitas paling pribadiku menjadi barang tontonan!? Mengapa tidak kamu halangi mereka melakukan hal itu? Juga kalian tidak mengajakku menonton bila salah satu dari kalian berkencan? Ini sama sekali tidak adil!’ Aku berteriak kencang di depan wajah Ezam. Dia ketakutan, sementara yang lain pucat pasi termasuk Ira. Dalam hati aku bersorak. Rasain lu!

Saat semua terpana, merasa bersalah dan mungkin menyesal, aku mencoba memberi kode ke Ira dengan kerdipan mataku secepat kilat. Aku tidak ingin Ira ikut tersiksa karena sandiwaraku, ia kemudian nampak menahan senyum dan kembali menampakkan mimik khawatir lagi. Tetapi kini aku yakin Ira paham aku hanya pura-pura saja marah kepada teman-temanku. Mungkin dia kembali menyadari bahwa kekasihnya adalah mahluk paling tengil, kurang ajar dan sekaligus menyebalkan di seluruh semesta raya.

Please forgive us Er, kami memang salah tapi sejujurnya teman-teman mengintipmu karena kami kepengin belajar……..’ Aku kaget juga mendengar permohonan sekaligus pengakuan jujur Buyung. Geli juga. Ketika kulihat wajah Wulan begitu pucat dan berubah menjadi sedikit feminin aku melepas cengkeramanku. Kudekati Wulan yang duduk di samping Ira, kuraih tangannya, ia gemetar air mata nampak mengambang di pelupuk matanya. Aku melirik Ira, ia membuang muka. Sepertinya berusaha menahan tawa.

‘Wulan, kamu juga ikutan?’

Dengan anggukan sangat ragu Wulan mengangguk.

‘Setega itu ya kamu selama ini. Kamu tidak berusaha mencegah teman-teman mempermainkan aku. Pantaslah kalian sering melempar guyonon yang aku tidak mengerti maksudnya.’

‘Ma’af Er, tapi kami tidak bermaksud melanggar privasimu. Teman-teman penasaran saja, mereka bilang mereka belajar kok.’

‘Terus kamu…..?’

‘Ak…..Aku juga.’

Dalam keadaan demikian aku baru menyadari bahwa sahabatku satu ini juga memiliki wajah yang manis. Kalau saja mau berdandan layaknya cewek, akan tidak sulit baginya memiliki seorang kekasih kukira.

‘Kamu punya cowok dong kalau begitu?’ Wulan menggeleng.

‘Terus buat apa kamu ikutan mengintip…..?’

Kini air mata Wulan benar-benar meleleh di kedua pipinya.

‘Kalau begitu mau nggak kamu berjanji ?’

Wulan mengangguk.

‘Tirukan: Aku berjanji.’

Dengan mengambil sikap sempurna kemudian Wulan mengulangi kalimatku: ‘Aku berjanji.’

‘Tidak akan lagi mengitip temanku Erwin saat dia pacaran.’ Seperti kerbau dicokok hidungnya Wulanpun mengulangi kalimatku.

‘Aku berjanji akan memberitahu Erwin atau Ira bila kelak punya pacar dan akan pergi berkencan supaya mereka punya kesempatan mengintip kami berpacaran.’ Belum lagi Wulan mulai mengucapkan janji itu, tiba-tiba terdengar ledakan tawa Ira, tidak berapa lama kemudian dia menarik tanganku.

‘Sudahlah mas, sudah cukup. Kasihan tuh Wulan. Sudah Lan jangan tirukan Mas Erwin cuma ngerjain kalian saja.’ Akhirnya akupun tidak tahan juga menahan tawa, apalagi saat melihat perubahan ekspresi wajah Wulan menjadi nampak begitu culun.

‘Siapa yang mengerjai aku, maka harus membayar hutangnya saat itu juga………Ha,ha,ha….kalian sudah membayar………..baru saja.’

Suasana hening penuh tekanan serentak berubah menjadi riuh rendah. Wulan melolong, dia berusaha mengambil ranting kering dan melemparkan kepadaku. Yang lain tertawa terbahak-bahak sambil menggerutu tidak karuan. Ira bahkan tertawa terbahak-bahak hingga air matanya keluar.

‘Sialan deh…….Aku pikir kamu marah beneran…..Ira pinter juga kamu bersandiwara sih!? Kamu sudah tahu dari tadikan kalau Erwin marah pura-pura?’

‘Iya dari tadi aku sudah tahu, aku juga harus mbales dong. Masa dikerjain diam saja. Kalian sih tega-teganya ngintip kami?’

‘Itu kebiasaan yang jadi candu Ir……’ Kata Ino.

‘Kami penasaran banget dengan perubahan pada Erwin, siapa sih dia? Bidadari yang merubahnya jadi romantis begitu? Eh, rupanya kamu.’ Buyung menimpali.

‘Tapi kita meleset. Kita tidak menonton live blue, kita menonton drama percintaan ala Sheakesphere…….’ Izam si pendiam dan gerilyawan tangguh itu angkat bicara juga.

‘Eeeeh, aku hanya merasa takjub saja. Kok bisa-bisanya kalian kompak ngerjain kami dalam waktu sesingkat itu.’ Ino menggerutu.

‘Itulah jodoh kawan. Sepasang penyamun yang jadi satu…..bayangkan?’ Harahap nyerocos. Yang lain ketawa termasuk aku. Ira menggelayut manja. Wulan melirik penuh arti, Priyo berdehem, tetapi Ira kalem aja tetap dengan gayutanya. Aku menambah sentuhan kemesraan Ira dengan menatap mesra wajahnya, membelai rambut sebahunya dan memberikan sebuah kecupan mesra di keningnya.

‘Ah, kalian……bikiin kami iri saja….’ Ino akhirnya tidak tahan juga melihat kemesraan yang sengaja kami dramatisir.

‘Daripada kalian harus ngintip-intip kan? Sadar nggak sih, kalian benar-benar bedebah tengil dalam arti sesungguhnya…..’

‘Iya, iya kami kan sudah minta ma’af.’ Priyo mencoba membela diri.

‘Aku sudah mema’afkan, tetapi bagaimanapun kalian masih berhutang.’

‘Aduuuh, kamu kok jadi pendedam begitu sih Bro.’ Sahut Pudi.

‘He,eh….jadi pendendam’ Ulang Wulan masih dengan nada kheqi.

‘Bukan hanya pendendam tapi jadi jahat juga. Aku tadi sudah sangat takut sewaktu dibentak begitu kerasnya di depan mukaku, nih kerah bajuku juga lecek…..kamu sempat jadi penjahat tadi…’

Kami semua tertawa tergelak. Tawa kami menggelegar, memenuhi angkasa. Bersama kekasih tercinta d iantara para sahabat terbaik, sungguh sangat sempurna sore ini.

‘Kalau begitu, kenduri cinta kita sudah bisa kita mulai kan?’ Harahap berkata cukup lantang meminta persetujuan kami.

‘Oke siiip……’ Sahut yang lain.

‘Kenduri? Kenduri apaan?’ Ira bertanya dengan nada tidak mengerti.

‘Ini tradisi kami non, tradisi geng calon suamimu. Setiap yang mendapat pasangan baru kami merayakannya dengan makan-makan kecil seadanya. Sebuah perayaan cinta. Ide si Erwin juga.’

Ooooh, so sweeeeeeeeet…..Kamu harus segera mendapat giliranmu Wulan. Kamu manis sekali sahabatku, iya kan mas?’ Ira meminta persetujuanku.

‘Ya…..kami akan membuat kenduri cinta istimewa untukmu bila saat itu datang.’

‘Kalian bisa saja…….siapa yang mau dengan diriku?’

‘Pasti banyak, asal kamu menjadi sedikit feminin saja, bukan tidak mungkin geng kita bisa terancam perpecahan karena mereka memperebutkan kamu……’

‘Gitu yah? Tapi aku enak begini aja. Terserah mo ada yang mau mo enggak masa bodoh, aku gak mau jadi orang lain. Titik. Lagipula kalo teman satu geng ini ada yang naksir pasti aku tolak. Mereka semua sodaraku. Masa aku kawin sama sodaraku sendiri? Inses dong.’

Kami tertawa mendengar celoteh Wulan;

‘Iya ding Wulan, jangan mau menjadi orang lain. Jadi diri sendiri aja. Lagian kita bisa hidup kok tanpa bantuan para lelaki.’ Ira menimpali.

‘Bener nih bisa hidup tanpa lelaki. Kok sekarang menggelayut di pundak Mas Erwin ?’ Buyung ikutan nimbrung dan menggoda Ira.

‘Yakin Lin, bisa ?’ Wulan menambah intensitas godaan terhadap Ira, si tergoda tersenyum malu-malu, wajahnya menjadi merah jambu.

‘Nggak jujurkan kalau kamu merasa bisa hidup tanpa Erwin.’ Ira semakin salah tingkah dipojokkan begitu. Dari sinar matanya aku tahu dia mencoba mencari pertolongan dariku. Tetapi aku sengaja tidak membantunya, dalam posisi serba salah begitu Ira justru nampak begitu alami dan polos. Dari keadaannya kembali aku menemukan kecantikan tiada tara pada dirinya, seorang gadis yang telah membuatku merasa demikian berbeda. Bidadari yang datang dari surga khusus untukku.

 

Bersambung…

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.