[AMNESIA] Back to Future (11)

djas Merahputih

 

Sebuah serial, dongeng pengantar bobo siang

Dibacakan Lebih Nikmat

 

Cerita sebelumnya:

Tempat yang Tepat (1), Kunjungan Pertama (2), Pandangan Pertama (3),

Sang Guru Favorit (4), Kejutan Aneh (5), Perubahan Rencana (6), Jalan Keluar (7),

Kunjungan Spesial (8), Terusik (9), Terungkap? (10)

 

PESTA KECIL

Bersamaan dengan peristiwa heboh di beranda kafe, sekumpulan muda-mudi terlihat sedang merayakan ulang tahun kawan mereka di dalam kafe. Salah satu di antaranya menyampaikan pengumuman kepada seluruh pengunjung kafe untuk mengambil beberapa kupon makanan gratis yang dapat ditukarkan dalam kafe tersebut. Para tamu di beranda kafe yang sebelumnya bergegas mendekati meja Sang Pangeran akhirnya berbalik arah ke dalam kafe. Selamatlah penyamaran Sang Pangeran.

Di saat bersamaan Citra telah siuman setelah mendapatkan pertolongan dari Ono dan Offo dalam wujud transparannya. Ono dan Offo salut dengan daya tahan Sang Guru TK yang terlihat begitu mandiri ini. Matanya masih bisa melihat dengan normal, sebuah hal luar biasa mengingat seharusnya sebagai makhluk Bumi mata Bu Guru Citra akan mengalami kebutaan setelah menyaksikan Mentari Kecil itu tanpa persiapan sempurna. Suasana akhirnya dapat dikendalikan dan menyisakan keheningan di sekitar meja Sang Pangeran.

*****

amnesia11 (1)

img01. Lelah

Kelelahan masih terlihat jelas di wajah Citra saat kembali mengajar keesokan harinya. Mata beliau tak bisa terpejam setelah peristiwa di beranda kafe malam tadi. Murid-murid terlihat heran dengan sikap guru mereka. Sementara di kelas lain si centil Rawira Wiru sedang memamerkan kehebatannya dalam menebak pertanyaan-pertanyaan Pak Guru. Terkadang Pak Cokro harus menunjuk anak lain agar tanya jawab tidak hanya didominasi oleh Rawira Wiru sendiri. Namun lucu, anak-anak lainnya kompak untuk melemparkan pertanyaan apa saja agar dijawab oleh Rawira Wiru.

Saat jam istirahat Pak Cokro menghampiri Citra yang nampak kurang sehat. Beliau minta maaf atas kejadian semalam dan menjelaskan tentang benda aneh itu. Citra terperanjat mendengar penjelasan Pak Cokro.

Citra: “Masa sih..?? Pak Cokro lagi mendongeng ya? Saya malah menduga benda semalam adalah mustika dari dasar samudera. Saya pernah mendengar tentang sebuah mustika yang begitu menyilaukan jika terlihat oleh orang selain pemiliknya sendiri.” Citra menyembunyikan informasi kalau salah satu pemilik mustika tersebut adalah dirinya sendiri.

Pak Cokro: “Ngga apa-apa kalau Bu Citra menganggap cerita saya tadi adalah dongeng. Tapi, bukannya cerita tentang mustika itu juga terdengar seperti dongeng?” Sang Pangeran balik meledek Bu Guru Citra.

Citra: “Pak Cokro ngga percaya? Saya sendiri pernah melihatnya, kok!” Tanpa sadar Citra terpancing dengan kalimat Pak Cokro dan membuka rahasia tentang keberadaan mustika tersebut. Sebab yang mampu melihat mustika itu tentu hanyalah pemiliknya sendiri. Sang Pangeran terlihat sangat senang mengetahui jebakannya berhasil.

Pak Cokro: “Oke. Kalau begitu saya menawarkan Mentari Kecil saya untuk ditukarkan dengan Mustika milik Bu Guru Citra. Bagaimana pendapat Bu Citra?” Citra tidak merespon tawaran Pak Cokro sambil menyesali kekhilafannya sendiri. Bu Guru Citra malah mengalihkan pembicaraan tentang sosok Rawira Wiru si centil jenius yang baru saja melintas di depan mereka.

Percakapan keduanya beralih ke persoalan internal sekolah TK. Pelangi yang kabarnya tahun ini berhasil mendapatkan anugerah sebagai sekolah terbaik tingkat nasional untuk kategori sekolah usia dini. Mereka berdua sepakat untuk mengadakan pesta kecil di lingkungan sekolah menyambut kabar gembira tersebut. Namun rencana ini tak akan disampaikan kepada Pak Tirta. Mereka berniat untuk memberikan kejutan kepada Bapak Kepala Sekolah. Kabar gembira lain juga datang dari tim softball kebanggaan kota Gentong Gadang yang berhasil menjuarai sebuah turnamen kecil tingkat nasional. Ditambah lagi Boyan Ningnong terpilih sebagai pemain terbaik dalam turnamen ini. Sepertinya mereka berdua harus mempersiapkan dua buah pesta di saat bersamaan. Citra dan Pak Cokro nampak begitu antusias dengan rencana mereka.

amnesia11 (2)

img02. Piala Sang Juara

Sang Pangeran begitu menikmati kebersamaan Beliau dengan Citra di hari itu dan rencana rapi telah disusun untuk sebuah kejutan. Hari yang direncanakan pun tiba. Pak Tirta yang sementara bergegas menuju garasi rumahnya tiba-tiba mendapat kunjungan dari tiga orang guru sekolah TK. Pelangi. Setelah bersalaman mereka berempat lalu masuk ke beranda rumah. Seorang di antaranya menyampaikan berita yang mencemaskan. Sekolah mereka akan diakuisisi oleh Pemerintah untuk dijadikan model sekolah internasional dan sebagai gantinya seluruh siswa dan pengajar akan dipindahkan ke sebuah tempat bekas asrama di pinggir kota. Isu tersebut telah direncanakan oleh Citra dan Pak Cokro. Mereka yakin isu tersebut akan membuat Pak Tirta menjadi panik. Benar saja, saat itu juga Bapak Kepala Sekolah segera menelepon Pak Walikota yang segera dibenarkan oleh beliau. Pak walikota berjanji akan menjelaskan permasalahannya di sekolah pagi ini.

Dengan langkah tergesa mereka berempat beranjak ke Sekolah TK. Pelangi. Sementara di TK. Pelangi sendiri rencana pesta telah dipersiapkan dengan matang. Seluruh murid berada di dalam kelas dengan dua ikat balon di tangan mereka masing-masing. Sebuah terompet kecil juga terselip dalam saku mereka. Salah seorang dari murid-murid tersebut bertugas memberi komando jika saatnya beraksi telah tiba. Di gerbang sekolah Pak Walikota terlihat berdiri menanti kedatangan Pak Tirta.

Tak lama kemudian Pak Tirta tiba dan segera disambut oleh Pak Walikota yang diam-diam juga sudah berkomplot dengan panitia acara. Pak Tirta masih kelihatan sangat tegang sementara Pak Walikota berjalan di samping Kepala Sekolah dengan sedikit menahan senyumnya. Mereka berdua terhenti tepat di tengah lapangan kecil di pekarangan sekolah lantaran dikejutkan oleh lagu Mars TK. Pelangi yang tiba-tiba saja terdengar dari pengeras suara. Pak Tirta terlihat bingung. Satu demi satu perlahan seluruh murid keluar dari kelas mereka masing-masing dengan dua buah balon melayang dan terikat di tangan. Mereka berkumpul di sekeliling Pak Walikota dan Kepala Sekolah. Pak Tirta semakin bingung dan kini malah terkejut setelah seseorang menampakkan diri dari ruang Kepala Sekolah. Ibu Kepala Sekolah yang digantikan sementara oleh Pak Tirta karena sedang Tugas Belajar, khusus datang untuk acara ini dan berjalan mendekati kerumunan. Dua orang guru dengan bungkusan kado di tangan masing-masing terlihat menyusul di belakang Ibu Kemala Ayu Kusuma. Murid-murid memberikan jalan bagi mereka bertiga.

Tepat saat kumandang lagu Mars selesai Ibu Ayu menjabat tangan Pak Tirta yang masih nampak kebingungan. Beliau menyerahkan kado pertama kepada Pak Tirta disertai ucapan selamat atas terpilihnya sekolah mereka sebagai Sekolah Terbaik tahun ini. Kado kedua diserahkan pada Pak Walikota sebagai penghargaan atas kemenangan Tim Softball kebanggaan kota mereka menjuarai turnamen yang baru saja diadakan. Pak Tirta dan Bapak Walikota mengacungkan kepalan tangan mereka berdua seakan meninju langit, lagu Mars kembali bergema disertai pelepasan balon ke udara. Berpuluh-puluh balon aneka warna beterbangan ke udara. Setelah itu seluruh murid meraih terompet kecil dari kantong mereka masing-masing dan tak lama kemudian terdengarlah kegaduhan oleh suara terompet dari anak-anak TK. Pelangi ini.

amnesia11 (3)

img03. Balon pesta aneka warna

Di tengah kegaduhan tersebut Ibu Ayu membisikkan sesuatu kepada Pak Tirta. Pak Tirta lalu menoleh kepada dua orang guru kebanggaannya yang terlihat melambaikan tangan dari kejauhan. Bu Citra dan Pak Cokro berdiri di depan Ruang Guru dengan senyum serta tawa ceria dan tak henti melambaikan tangan sambil sesekali saling berpandangan penuh makna. Ono dan Offo hanya bisa mengelus dada menyaksikan suasana haru, gembira, bahagia serta penuh cinta di pagi yang cerah itu. Ono dan Offo tidak menyadari jika sebuah masalah sedang terjadi di penjuru kota. Seluruh hydran kota terbuka dengan sendirinya dan menyemburkan air ke udara membasahi jalan-jalan dan sudut-sudut kota. Pak Walikota yang menerima laporan tentang kejadian tersebut hanya tersenyum dan memilih untuk kembali larut dalam sebuah pesta kecil di TK. Pelangi, Sekolah kebanggaan Kota Gentong Gadang.

 

(Bersambung)

——————————————————–

Catatan Penulis:

“Kebahagiaan Sang Pangeran yang meluap meresonansi hydran kota dan membuatnya terbuka sendiri tanpa ada yang menyentuh”

 

Salam Nusantara,

//djasMerahputih

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.