Risalah untuk Nissa

Chandra Sasadara

 

Assalamualikum Wr.wb

Dinda Nissa Calon Istriku

Kami (abang dan kedua orang tua) mungkin tidak pernah cukup hanya sebatas mengucapkan terima kasih atas perkenan keluargamu untuk menyuntingmu menjadi istriku kelak. Keluargamu begitu baik menerima abang sebagai calon menantunya, calon pendamping hidup anaknya.

Sejujurnya, meskipun bukan menjadi syarat pertunangan kita. Permintaan keluargamu kepada ibuku agar mengenakan jilbab seperti dirimu dan ibumu telah menjadi pikiran kami. Kalau Allah menijinkan pernihakan kita kelak, akan ada dua keluarga besar yang bersatu. Abang tidak mau “permintaan keluargamu kepada ibuku untuk berjilbab” akan menjadi batas kekariban kedua keluarga kita.

jilbab

Kuakui, abang meminangmu bukan karena jilbabmu. Abang berburu hatimu karena caramu melihat abang, senyummu, deretan indah gigimu, kecerdasanmu dan sikapmu menerima abang. Meskipun begitu, abang tidak akan memintamu untuk melepaskan jilbabmu . Teruslah pakai jilbab, jangan berubah. Abang menganggap jilbabmu telah menjadi bagian identitasmu. Abang yakin, pilihanmu untuk berjilbab dulu pasti sudah dipertimbangkan berdasarkan pengetahuan dan keyakinan. Abang bangga memiliki calon istri yang mengenakan jilbab.

Dinda Nissa kekasih hatiku, harapan bagi lahirnya anak-anakku kelak. Abang tulis risalah kecil ini untuk sekedar menjelaskan pilihan keluarga bang dalam berpakaian. Mohon jangan bosan membaca tulisan ini meskipun abang tahu kamu mungkin sudah pernah membaca tulisan semacam ini. Abang berjanji tidak akan menulis risalah ini lebih panjang dari risalah abang terakhir saat meyakinkanmu agar mau menerima pinangan abang.

Dinda, pakaian tertutup seperti yang kita kenal sekarang sudah ada jauh sebelum abad ke-7, sebelum kenabian. Menurut Murthadha Muthahari dalam On the Islamic Hijab, di India dan Persia tuntutan untuk berpakaian tertutup jauh lebih keras dari pada yang dituntut dalam Islam. Menurut ilmuwan lain, Arab meniru Persia dan masyarakat Byzantium dalam hal pakaian tertutup. Tradisi pakaian tertutup di Arab sendiri menjadi lebih kuat saat Pemerintahan Al-Walid II dari Dinasti Umawiyah pada abad ke-8.

Dalam al-Quran pakaian memiliki beberapa fungsi. Pertama, untuk menutup aurat dan perhiasan/keindahan (Surah al-A’raf : 22, 26 dan 31). Kedua, untuk berlindung dari cuaca dan serangan musuh dalam peperangan (Surah an-Nahl : 81). Ketiga, untuk identitas diri dan identitas sosial (Surah al-Ahzab : 59).

Abang tidak, mungkin belum menemukan ayat-ayat al-Qur’an yang menyebutkan bahwa salah satu fungsi pakaian adalah untuk menjadi lebih terhormat atau agar dihormati orang lain. Abang juga tidak menemukan ayat-ayat yang menyebut fungsi pakaian untuk mendapat rasa aman, kecuali pakaian perang seperti yang disebut dalam al-Qur’an Surah an-Nahl ayat 81 di atas. Mohon sekiranya Dinda Nissa bisa memberitahukan kepada abang apabila menemukan ayat-ayat yang menunjukkan fungsi pakaian selain yang telah abang sebut di atas. Sebab salah satu alasan keluargamu meminta ibuku untuk berjilbab adalah “agar lebih terhormat dan dihormati” selain alasan bahwa berjilbab adalah perintah agama. Di bawah ini akan abang jelaskan tentang ayat-ayat al-Qur’an yang dianggap sebagai dasar perintah berhijab dan berjilbab.

Pada salah satu point Surah al-Ahzab : 53 disebutkan bahwa “apabila kamu minta sesuatu kepada mereka hendaklah dari balik tabir/hijab”. Sebenarnya, baik secara secara redaksional maupun alasan turunya (asbab al-nuzul) ayat ini ditujukan kepada istri-istri Nabi. Ada dua hal yang bisa didiskusikan mengenai redaksi ayat ini. Pertama, apakah perintah berhijab itu hanya ditujukan untuk istri-istri Nabi atau juga untuk umat Nabi juga. Kedua, apakah hijab bisa diartikan sebagai “pakaian” yang menutupi seluruh tubuh perempuan sebagaimana fungsi hijab/tabir.

Abang hanya akan membahas yang kedua saja, yaitu tentang fungsi hijab. Menurut penuturan Anas bin Malik, alasan turunnya ayat tersebut adalah saat pernikahan Nabi dengan Zainab Binti Jahsy di mana ada banyak tamu di rumahnya dan Nabi memasang hijab. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Umar bin Khatab mengusulkan kepada Nabi supaya istri-istrinya memasang hijab karena yang masuk rumah nabi bukan hanya orang baik, tapi juga orang-orang tidak baik.

Berdasarkan redaksi ayat dan sebab turunnya ayat di atas bahwa hijab dimaksud adalah pembatas/penyekat atau sesuau yang menghalangi antara dua “ruang”. Dalam hal ini hijab atau tabir tidak dimengerti sebagai pakaian yang melekat pada tubuh. Meskipun ada yang menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk memerintahkan perempuan mengenakan pakain yang menutupi seluruh tubuh atau mutahajjibah.

Ayat kedua yang menjadi dalil tuntutan perempuan untuk berjilbab adalah al-Qur’an Surah al-Ahzab : 59. Point yang terkandung dalam ayat ini adalah perintah untuk berjilbab agar para istri-istri Nabi dan perempuan-perempuan muslimah mudah dikenali. Dalam Tafsir al-Qurthubi seperti di kutip al-‘Asymawi dalam Haqiqat al-hijab wa Hujjiyat al-hadist disebutkan bahwa ayat ini turun terkait dengan kebiasaan iseng laki-laki arab terhadap perempuan. Pada saat itu belum ada toilet dalam rumah, sehingga untuk buang air besar harus mencari tanah lapang di luar lingkungan hunian. Laki-laki arab saat itu selalu menggoda perempuan-perempuan yang akan buang hajat termasuk para muslimah, sebab perempuan-perempuan itu dianggap budak. Maka turun ayat untuk mengenakan jilbab sebagai identitas, pembedah antara sahaya dan orang merdeka.

Kandungan ayat ini dikuatkan riwayat yang menyebutkan bahwa Umar bin Khatab mecambuk perempuan sahaya/budak apabila mengenakan jilbab. Pertanyaannya, apakah ayat ini masih bekerja saat alasan bekerjanya perintah/hukum (‘illat) sudah tidak ada, yaitu perbudakan. Sekarang tidak ada budak, tidak ada lagi segregasi dan diskriminasi terhadap perempuan, apapun statusnya. Lagi pula umumnya perempuan sekarang sudah tidak lagi buang hajat di luar rumah.

Dinda Nissa, hukum islam bekerja berdasarkan ‘illat. Jika ‘illat hukum tidak ada lagi, maka hukum tidak bekerja. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa konsep bekerjanya ‘illat tidak berlaku pada hal-hal yang menyangkut ubbudiyah karena ghair ma’qul al ma’na (tidak dapat dijangkau maknanya oleh nalar). Sedangkan untuk bidang mu’amalah tidak berlaku demikian. Ulama-ulama komtemporer menyebut cara berpakaian, termasuk jilbab tidak bersifat ta’abbudi tapi masuk dalam kategori mu’amalah.

Berikutnya adalah Surah an-Nur : 30-31 dimana salah satu pointnya adalah perintah untuk “mengulurkan kain penutup kepala sampai meutupi lubang tempat masuk kepala” dengan redaksi ayat “wal yudribna bikhumurihina ala jhuyubihina”. Kata “khumur” merupakan bentuk jamak dari “khimar” yang berarti menutup, sedangkan “jhuyub” jamak dari “jhaibun” adalah lubang baju tempat memasuk kepala. Dalam beberapa terjemahan kata jhuyub diartikan sebagai dada perempuan padahal bukan, sehingga potongan ayat tersebut berarti “mengulurkan penutup kepala sampai ke dada-dada mereka”.

Dinda Nissa, yang hendak ditutup oleh kain penutup kepala dalam ayat itu adalah lubang baju tempat kepala masuk, mengapa begitu?. Perempuan arab saat itu memiliki kebiasaan mengenakan penutup kepala tapi sisa kain yang menjuntai tidak diletakkan ke depan tubuh/dada tapi diletakkan di belakang tubuh /punggung. Saat mereka menunduk atau jongkok maka terlihat dada mereka karena lubang baju untuk memasukan kepala saat itu sangat longgar.

Ada dua hal yang ingin abang katakan mengenai ayat ini. Pertama, perintah dalam ayat itu bukan berfokus pada menutup kepala, tapi lebih menekankan untuk menutup lubang baju dengan sisa kain penutup kepala agar tidak nampak dada perempuan pada saat menunduk atau jongkok, sebab mereka (perempuan-perempuan arab saat itu) telah menutup kepala hanya saja sisa kain diletakkan di belakang punggung. Kedua, saat ini telah ditemukan teknologi kerah baju yang memungkinkan dada-dada perempuan tidak terlihat, lebih-lebih pada perempuan yang mengenakan bra. Bra memungkinkan dada—dada perempuan tidak “terjatuh” saat menunduk.

Jadi pendapat yang mengatakan bahwa mengenakan jilbab atau hijab merupakan perintah yang wajib dalam agama bukan pendapat yang mujjma’ (disepakati semua ahli). Pembahasan bidang mu’amalah selama masih banyak selisih pendapat maka belum bisa disebut mujjma’ alaih (kesepakatan umum ulama).Dalam hal jilbab dan hijab banyak ulama yang tawaqquf (belum atau tidak memberikan pendapat). Jadi tidak bisa salah satu pihak memaksakan pendapatnya bahwa muslimah yang tidak mengenakan jilbab nilai keislamanya kurang atau tidak menjalankan perintah agama.

Dinda Nissa yang aku cintai, jika ayat-ayat yang abang sebut diatas dianggap perintah al-Qu’an maka tidak semua perintah al-Qur’an terkait mu’amalah itu bersifat wajib. Seperti perintah al-Qur’an untuk mecatat setiap utang-piutang dalam Surah Baqarah : 283. Perintah dalam ayat untuk mencatat utang-pitutang hanya danggap anjuran oleh umumnya ulama, artinya kita boleh untuk tidak mencatat transaksi tersebut. Dalam Surah al-Anfal : 60, Allah memerintahkan untuk menyiapkan persenjataan dalam menghadapi musuh, senjata yang dimaksud dalam ayat ini adalah panah. Dalam perang modern perintah ini tidak mungkin dilakukan sebab panah sebagai senjata canggih hanya berlaku saat senjata api belum ditemukan.

Tidak semua larangan juga bersifat haram, Nabi pernah melarang ziarah kubur, tapi tidak lama kemudian larangan itu dicabut. Nabi juga pernah melarang menyembelih keledai jinak, tapi kemudian larangan tersebut juga dicabut. Ini artinya tidak juga semua perintah dan larangan dalam kategori mu’amalah itu berlaku tetap sepanjang waktu dan tempat.

Bagi abang dan keluarga abang, jilbab dan hijab adalah mu’amalah bukan ta’abbudi , Jadi abang mengikuti pendapat moderat yang menyebutkan bahwa pakaian merupakan produk budaya yang ukurannya bergantung kewajaran (ash-shalah) dan kepentingan yang berlaku pada zamannya. Dinda Nissa pasti bertanya bagaimana dengan batas aurat perempuan dalam pergaulan menurut Islam. Bailklah akan abang jelaskan sedikit tentang hal ini.

Ada orang yang mengatakan bahwa tubuh perempuan adalah aurat (al-mar’atuh aurah) sehingga perlu di-hijabi seluruh tubuhnya. Pendapat ini berdasarkan hadist dari at-Thirmidzi, tapi at-Thirmidzi sendiri menganggap hadist ini gharib dan hanya berstatus hasan sebab salah satu penuturnya lemah ingatan. Menurut abang mattan (substansi) hadis ini juga bertentangan dengan Surah an-Nur : 31 yang mengatakan “..hendaklah mereka menahan pandangan..”.

Kalau benar perempuan adalah aurat untuk apa ada perintah menahan atau menundukkan pandangan? Bukankah perintah itu menunjukkan bahwa ada bagian dari tubuh perempuan yang tidak masuk dalam kategori aurat sehingga siapapun yang melihatnya perlu menghindarinya. Ayat ini juga mengkonfirmasi bahwa ada bagian dari tubuh perempuan yang tidak perlu ditutupi.

Ada juga hadist yang menyebutkan bahwa aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Hadist ini cerita tentang Asma binti Abu Bakar, saudari Aisyah Istri Nabi yang saat itu ditegur oleh Nabi karena berpakaian tipis. Pertanyaannya mungkinkah putri Abu Bakar dan Ipar Nabi berpakaian tipis di depan Nabi.

Hadist yang abang sebut terakhir itu diriwayatkan oleh Abu Daud dan Baihaqi, namun Abu Dawud sendiri menyebut hadist ini mursal, sebab orang yang menyebut dirinya menerima hadist itu dari Aisyah Istri Nabi ternyata tidak hidup satu masa. Orang itu bernama Khalid bin Duraik. Dalam Kitab Tahdzib at-Tahdzib karangan Ibnu Hajar al-Asqallani disebutkan bahwa salah satu perawi hadist itu ada orang bernama Sa’id bin Basyir yang dinilai dzhaif (lemah).

Dinda Nissa, selain dua hadist tersebut ada beberapa hadis lainya tentang batas aurat. Mengapa abang perlu menjelaskan batas-batas aurat dari hadist-hadist itu sebab al-Qur’an tidak menginformasikan tentang batas aurat perempuan, laki-laki, tua, muda/anak-anak, sahaya dan merdeka.  Baiklah sekarang abang akan sedikit menjelaskan tentang batas aurat menurut para ulama.

Imam Abu Hanifah seperti dikutip oleh Syaik Muhammad Ali ‘as-Sais mengatakan bahwa kedua kaki (betis) bukan aurat. Pakar hukum abad ke-8 yang juga sahabat Imam Abu Hanifah bernama Abu Yusuf menyebutkan bahwa kedua tangan (sebatas siku) bukan aurat. Menurut mereka toleransi terhadap tangan dan kaki terkait dengan massyaqah (kesulitan) yang dihadapi perempuan saat melakukan aktifitas. Siapa yang akan mengenali perempuan yang hanya menampakkan mata dan alisnya. Hal ini dikuatkan dengan salah satu hadist Bhukari yang menyebutkan bahwa Anas bin Malik dan Abu Thalha pernah melihat gelang kaki (di betis) Aisyah dan Ummu Salim saat mereka membantu memberikan minum prajurit dalam perang uhud.

Syaik Muhammad Su’ad Jalal, salah seorang ulama al-Azhar mengatakan bahwa apa yang boleh dan apa yang tidak boleh nampak dari perempuan bergantung pada apa yang berlaku pada adat dan kebiasaan masyarakat. Hal itu relevan dengan salah satu adagium hukum Islam bahwa al-‘adat muhakkimah, kebiasaan sebagai pertimbangan hukum. Misalnya terkait dengan aurat budak laki-laki dan perempuan, batas aurat mereka adalah pusar sampai lutut, karena memang begitu kebiasaan dan adat masyarakat Islam saat itu.

Dinda Nissa, pelangi abang. Risalah abang ini mungkin dianggap terlalu panjang. Namun ijinkan sebelum mengakhiri risalah ini abang mengutip dua ayat al-Qur’an berikut. Al-Baqarah : 185 menyebutkan bahwa “Allah menghendaki kemudahan, tidak menghendaki kesulitan”. Al-Hajj : 78 juga menyebutkan “Allah tidak menjadikan agama bagimu sebagai sesuatu yang menyulitkan”. Jika agama bisa memudahkan urusan keseharian manusia, untuk apa mempersulit dengan hal-hal yang masih diperdebatkan.

Percayalah, meskipun ibuku tidak berjilbab seperti yang diminta, belau tidak akan mengurangi keislamannya. Beliau perempuan yang tidak putus puasa senin dan kamis, tidak berhenti mendzikirkan Nama-Nama Tuhan setiap malam. Semua tetangga menghargai dan menghormati ibuku karena sikap sosialnya. Bagi kami libas at-taqwa (baju ketaqwaan) itu lebih baik seperti pesan Surah al-A’raf : 26.

Dinda Nissa, biarkan ibuku berpakaian seperti umumnya perempuan di kampungnya berdasarkan ukuran dan batas kesopanan yang berlaku di sana. Biarlah kami mengunakan prinsip “adat menjadi hukum” seperti adagium di hukum Islam di atas, sebab adat berpakaian kami juga telah mempertimbangakan kesopanan dan aspek keindahan. Jangan paksa ibuku untuk berjilbab, separti halnya abang tidak akan memaksamu untuk melepaskan jilbab sebagai identitasmu.

Demikian yang bisa abang tulis, semoga Dinda menjadi maklum. Mohon maaf , Wallahumuwafiq ila aq’wamitariq.

Wasalammualaikum Wr.Wb

 

Abangmu di Binjai Sumatera Utara

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *