OPSPEK dari Masa ke Masa

Wesiati Setyaningsih

 

Ibu saya paling suka cerita tentang OPSPEK yang beliau alami waktu pertama masuk kuliah, di akhir tahun 60-an. Meski waktu kecil (karena beliau menceritakan ini berulang-ulang sejak saya masih SD) saya agak ngeri mendengar dengan apa yang dilakukan senior beliau terhadap beliau dan teman-temannya. Harus berangkat pagi, disuruh membawa ini itu, dibentak-bentak, dijemur di lapangan, hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan akademis tapi konyol.

Tapi beliau bangga dengan itu semua karena dua hal. Pertama, siapapun yang mengalami OPSPEK pastilah mahasiswa sementara tidak semua orang berkesempatan jadi mahasiswa. Kedua, karena gara-gara OPSPEK itu Bapak saya ‘menemukan’ Ibu saya. Jadi karena Ibu berambut panjang sampai pantat, Bapak saya tertarik, ketika dilihat datanya ternyata Ibu berasal dari Pati, sama dengan kota asal Bapak saya. Jadilah Bapak saya mulai ‘mengejar’ Ibu setelah itu dan akhirnya mereka menikah. Hahaha…

ospek1

Ketika saya masuk kuliah di Sastra Inggris UNDIP tahun 1990, OPSPEK masih ada. Sudah sekitar dua puluh tahun dari jaman Ibu saya jadi korban OPSPEK dan tradisi itu masih ada. Agak mengerikan juga menyadari bahwa ternyata bangsa Indonesia memang susah ‘move on’. Nah, di situlah saya mengalami hal yang menarik.

Pertama, saya jengkel karena saya merasa berada di dalam sebuah permainan dan saya adalah korbannya. Saya sudah diharuskan membawa tugas ini itu, sementara pulang dari kampus sudah sore, barang-barang yang harus dicari juga yang susah ditemukan. Besoknya sampai kampus, kalau barang ini tidak dibawa, kami kena hukuman dan jelas dicarikan hukuman yang tidak masuk akal. Belum anak laki-laki yang diharuskan menggundul kepalanya. Masih saja kami dibentak-bentak untuk hal yang dicari-cari. Padahal apa yang mereka perintahkan itu menjengkelkan, misalnya menggigit kempongan. Pada saat yang sama mereka membentak-bentak kami semua. Apa itu hal yang bermanfaat? Intinya, para senior itu jahat pada kami yang anak baru. Begitu kesan saya.

Tapi ada hal kedua dan ini menarik. Di Sastra Undip ada majalah mahasiswa yang namanya HAYAM WURUK, diambil dari nama jalan di mana fakultas ini berada. Kakak-kakak dari Hayam Wuruk inilah yang menyadarkan saya bahwa apa yang saya rasakan itu memang normal dan para panitia itu yang ‘tidak normal’. Di kemudian hari saya menyadari bahwa anak Sastra itu sangat kencang menyuarakan ketidakadilan sehingga saya memahami bahwa kenapa kakak-kakak dari Hayam Wuruk waktu itu seolah membela kami yang sedang di-OPSPEK.

Beberapa kakak mewawancarai kami secara sembunyi-sembunyi untuk menanyakan apa saja yang telah dilakukan oleh kakak panitia. Jelas kami langsung curhat. Mereka lantas mendorong untuk tidak melakukan perintah yang tidak masuk akal. Tapi mana kami berani? Yang jelas waktu itu saya menyadari bahwa diperlakukan dengan tidak adil tanpa ada pembelaan dari orang lain itu bukan berarti ketidakadilan yang kita rasakan dalam lubuk hati kita paling dalam itu salah. Di majalah Hayam Wuruk berikutnya kami menemukan banyak artikel yang mempertanyakan kegiatan OPSPEK ini, apakah kegiatan ini manusiawi atau tidak, lengkap dengan reportase tentang penderitaan kami. Saya senang sekali. Hahaha…

Dua tahun berikutnya adik saya masuk Komunikasi UNDIP dan mengalami hal yang sama. Tapi dia memang anak laki-laki yang keras dan pemberani, jadi dia tidak membawa apapun yang ditugaskan oleh panitia. Dengan tenang dia berangkat hanya membawa bekal makan siang apapun yang dimasak Ibu saya, tidak seperti yang diperintahkan panitia (makan siang saja lauknya memang sudah ditentukan oleh panitia). Dia bilang, semua itu nggak penting dan kalau memang harus dihukum ya dia jalani saja. Dia cuek, Ibu saya yang kuatir. Memang tipe seperti Ibu saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mudah ditakuti (seperti saya juga). Karena takut bikin masalah, mending mengikuti saja apa yang dimaui ‘pihak yang lebih kuat’.

Di tahun saya, teman saya yang kuliah di Politek Negeri Semarang, sekarang Polines mengalami hal yang lebih dari saya. Waktu itu selain di-OPSPEK, dia diharuskan ikut latsar di Magelang. Jadilah dia ikut latihan dasar militer di sana selama beberapa hari. Saya agak bingung kenapa untuk masuk kuliah saja harus menjalani latihan dasar militer sementara mereka nanti tidak akan menjadi anggota militer. Wilayah kerja mereka juga tidak ada hubungannya dengan pengamanan negara. Tapi wong teman saya bangga dengan apa yang dia jalani, gimana lagi?

Yang jelas pasti tidak ada kakak senior dia yang mengatakan pada dia bahwa apa yang dia jalani itu konyol sebagai mana kakak senior saya dari Hayam Wuruk mengatakan pada saya dan teman-teman saya. Maka jelas dia tidak pernah mendapat opini yang bersebarangan dari opini umum yang sudah terbentuk di kalangan kakak kelas dan teman-teman dia. Semua pasti didoktrin bahwa semua itu membanggakan.

Tahun ini, 2014, Dila, anak sulung saya, lulus SMA dan mendaftar kuliah, begitu juga teman-temannya. Dila diterima di UNDIP dan masih mendaftar ulang lewat internet, jadi masih menunggu kegiatan di kampus dimulai bulan September nanti. Temannya diterima di POLINES dan sudah mulai menjalani OPSPEK. Dari temannya Dila tahu bahwa di POLINES, OPSPEK dilaksanakan seperti jaman teman saya dulu di-OPSPEK. Waktu sudah berlalu selama 24 tahun sejak jaman saya masuk kuliah. Tapi proses orientasi yang dihadapi mahasiswa baru di sana masih saja berkutat pada hal yang sama.

Saya belum tahu bagaimana dengan UNDIP karena Dila belum masuk. Semoga di UNDIP OPSPEK dilakukan secara lebih bermartabat.

***

Bagi kita yang pernah menjalani OPSPEK, pasti kita masing-masing punya kesan yang berbeda. Saya sendiri benci diperlakukan seperti itu, tapi mungkin ada teman-teman lain yang suka. Siapa tahu?

Hanya yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kita mesti melihat bahwa bangsa ini memang mengalami kesulitan untuk keluar dari sebuah paradigma. Sejak jaman sebelum Ibu saya jadi mahasiswa yang namanya anak baru itu harus dikerjain biar tidak kurang ajar. Dan sepertinya sekarang hal itu dilestarikan. Tidak ada pertanyaan, apa sih urgensinya? Apa sih relevansinya?

Ketika OPSPEK selesai dan saya mengalami kebingungan mengisi KRS, saya berpikir, lha yang namanya orientasi itu kan mestinya menjelaskan beginian to? Mbok ya bikin simulasi ngisi KRS aja, dibantu oleh kakak senior. Itu kan jauh lebih manfaat. Atau kita-kita diberi tahu hambatan apa saja yang akan dihadapi oleh kami sebagai mahasiswa baru, misalnya tentang menghadapi dosen killer, mengatasi masalah males bikin tugas, atau bahkan cara mencari ide untuk skripsi. Why not? Atau kalau mau gila-gilaan ya bagi-bagilah tips untuk nyontek saat ujian, cara ngeles dari tagihan tugas dosen, cara membujuk dosen yang lagi marah dengan jitu. Sama-sama ‘gila’ itu lebih kreatif dari pada menyuruh membawa benda-benda yang aneh-aneh tapi tidak ada hubungannya dengan apa yang kami pelajari. Kalau itu yang dilakukan, pasti OPSPEK akan sangat menyenangkan dan bermanfaat.

Selain masalah urgensi dan relevasi, saya kira kita harus mulai mengubah perilaku kita dalam memperlakukan orang lain. Dan itu yang harusnya diberikan saat OPSPEK. Apakah kita jadi hormat pada kakak senior gara-gara di-OPSPEK? In my case, tidak. Setelah OPSPEK berlalu malah saya suka meledek kakak kelas saya yang sebelumnya jadi panitia karena kegarangan yang dia tunjukkan waktu OPSPEK. Saya kira kita sepakat bahwa rasa hormat itu ditunjukkan dari apa yang dia lakukan pada kita. Kalau mereka memperlakukan kita dengan baik, kita jadi mikir, “Oh, begini to hasil dari belajar di sini? Kita jadi sopan, menghargai orang lain siapapun mereka, jadi aku yang anak baru ini sudah diperlakukan dengan baik begini.”

Kita jadi merasa dijadikan bagian dari mereka dan sangat bangga karenanya. Waktu itu, saya kesal sekali dibentak-bentak dan diperlakukan konyol. Saya sempat sangat menyesal menjadi bagian dari mereka. Untungnya perasaan itu tak lama karena kemudian saya menyadari bahwa mereka yang memperlakukan saya buruk itu hanya sekelompok orang. Masih banyak kakak senior yang ternyata baik dan tidak setuju dengan yang dilakukan oleh sekelompok orang itu dalam melakukan penyambutan.

Terakhir kalau mereka waktu itu memberikan dalih bahwa itu dilakukan agar kami menghormati orang yang lebih tua, agar kami disiplin, atau agar kami bisa menghadapi tantangan dalam hidup ini, saatnya kita menilai. Waktu sudah berjalan jauh dan kita sendiri yang bisa menilai dengan merunut kembali dari kegiatan tersebut, sampai ke kehidupan kita saat ini.

Bagi saya sendiri, hal yang sangat membekas dalam benak saya adalah perasaan luar biasa yang saya rasakan ketika ada kakak senior yang mendekati dan menanyai saya apa saja yang sudah dilakukan kakak panitia pada saya dan teman-teman saya. Itu semacam bentuk perhatian dan kepedulian, selain sebuah sodoran akan pemikiran yang berbeda.

ospek

Kakak senior dari majalah Hayam Wuruk itu justru memberikan saya wacana yang saya ingat seumur hidup bahwa apapun yang dilakukan orang pada kita, belum tentu itu benar dan sebenarnya kita punya pilihan lain selain mengikuti saja: melawan. Tanpa itu semua kita akan mengalami lagi masa seperti dijajah Belanda selama 250 tahun dan diperintah oleh Presiden yang sama selama 30 tahun. Tahu kan sekarang kenapa semua itu terjadi? Karena kita memang tidak pernah berani berpikir beda dari yang sudah ada.

Mengenai kenangan saya atas kakak panitia, jujur bahkan sampai sekarang saya masih ingat betapa saya benci sama satu orang yang suka banget bentak-bentak kami semua. Dengan kenangan pahit tentu saja.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *