Peace

Dewi Aichi – Brazil

 

“Si kakak tanya, “kenapa sih keluarga kita agamanya Islam semua?” Ngga ada yang agamanya lain gitu? Coba ada, kan asik hari rayanya beda-beda!”

(status milik Wesiati Setyaningsih)

 

Masyarakat Indonesia memang belum terbiasa berbeda keyakinan dalam sebuah keluarga. Yang biasa adalah, jika kakek nenek atau bapak ibunya beragama A, makan anak cucu keturunan biasanya juga beragama A. Anak keturunan bisa saja tidak taat agama, hanya sekedar identitas, tetapi biasanya tidak berani pindah agama.

Masih belum umum, misalnya dalam sebuah keluarga yang beragama A, lalu anak-anaknya mencari keyakinannya sendiri-sendiri sesuai dengan yang diyakininya. Padahal banyak sekali orang yang tidak peduli dengan agama yang dianutnya, yaitu dengan tidak menjalankan hukum agamanya, tetapi yang penting dalam identitasnya adalah agama A yaitu agama turun temurun alias agama keturunan.

Coba tanya dalam hati masing-masing, “apakah agama yang saya anut ini merupakan pencarian atas beberapa keyakinan, atau agama keturunan?” Jawaban umum dan logis ya faktor keturunan. Saya dilahirkan oleh orang tua saya yang beragama A, maka sejak anak-anak, dalam dokumen pribadi saya dituliskan dengan agama A. Lalu hingga saya dewasa tak pernah melakukan pencarian keyakinan yang lain. Bisa jadi, saya animisme jika kebetulan orang tua saya dari suku pedalaman.

Ini bukan soal baik dan tidak baik, bukan juga soal benar dan salah, tetapi ini soal lingkungan yang berbeda. Di Brasil, adalah sesuatu yang normal jika anak tiba-tiba memutuskan untuk masuk ke gereja yang berbeda dengan gereja yang biasa diikuti oleh orang tuanya. Seperti juga sepupu suami yang tidak mau menikah di gereja, katanya ia bukan penganut Khatolik. Ini dikatakan di depan orang tuanya yang Khatolik taat. Reaksi orang tuanya sangat biasa, diserahkan semua pilihan itu ke anaknya.

Berkaitan dengan status milik Wesiati, di momen hari raya, misalnya ketika pacar atau calon suami berkunjung ke rumah, berbaur dengan keluarga yang beragama A, sedangkan si calon agamanya B, bukan tidak mungkin akan muncul tiba tiba sebuah pertanyaan, “kapan calon suamimu itu pindah agama ?” Mungkin hal seperti ini cuma terjadi di Indonesia saja. Sedang saya sendiri, tidak pernah ditanya agama saya apa oleh lingkungan keluarga suami. Suami juga tidak pernah ditanya, agama istrimu apa?

“Saya dulu menikah secara Islam, hanya karena aturan di Indonesia yang tidak memudahkan pernikahan beda agama. Setelah menikah, kami jalankan hidup seperti biasa, saya kepada kehidupan saya yang beragama Islam, dan suami saya yang atheis. Kini pernikahan saya sudah hampir 22 tahun. Anak-anak kami bebaskan dalam memilih kepercayaannya.”

Begitu kisah temanku yang masih sering berkomunikasi dengan saya. Hanya dulu sekali, ketika pulang ke Indonesia, kadang ada pertanyaan-pertanyaan usil dari tetangga, yang harus disikapi dengan baik.

Saya berpendapat bahwa, semua yang sering dilakukan keluarga kita maupun tetangga adalah wujud perhatian mereka ke kita. Dan saya kira itu juga bagian dari ciri khas masyarakat Indonesia, sebab ketika ada masalah merekalah yang pertama kali akan mengulurkan tangannya.

Yang mengejutkan saya adalah salah satu teman saya yang meminta pacarnya pindah agama. Sedangkan sebenarnya, berat bagi pacar untuk masuk ke agama teman saya itu. Hingga beberapa tahun setelah pernikahannya, temanku menyadari akan kekeliruan nya.

“Saya telah bersalah dan termasuk pelaku pelanggaran HAM dalam kasus pindah agama”, dan akan saya tebus kesalahan ini, karena saya tidak akan menyiksa batin suami yang saya cintai.”

Membaca pesannya itu, saya terus terang tersentak, ternyata teman saya menyadari kekeliruannya. Tapi ini tentu pandangan saya yang berbeda. Pada akhirnya, mari kita hidup bersama dalam perbedaan, dalam damai yang merupakan nilai paling inti dalam ajaran agama itu sendiri.

Saya kira hanya akan menjadi salah satu masalah, jika kita berada di Indonesia. Di luar negeri, Jepang dan Brasil dimana saya pernah berdomisili, agama merupakan urusan pribadi. Orang lain tidak akan pernah menanyakan apakah suami, istri atau anak-anak seagama, atau beda agama, atau bahkan tidak beragama.

Semua itu tergantung dari sudut pandang seseorang, akan terasa ringan atau berat, terasa masalah atau tidak masalah. Ada yang memandangnya sebagai kekayaan wawasan karena adanya perbedaan, bahkan setelah anak-anak lahir dan dewasa, dengan melihat perbedaan dalam menjalin hubungan dengan Tuhan.

Seperti saya katakan di atas, bahwa segala macam pertanyaan yang keluar dari anggota keluarga kita atau para tetangga, merupakan bentuk perhatian mereka terhadap kita. Sedangkan mungkin banyak orang yang menganggap bahwa orang di Indonesia terlalu mengurusi urusan pribadi orang.

Yah…anggap saja hal itu karena ketidaktahuan mereka, kurangnya wawasan mereka, mungkin kita sendiri dulu seperti itu, hanya karena kita sudah mengenal lebih banyak orang dari berbagai latar belakang dan kebangsaan, maka pola pikir kita berubah. Itu kan produk dari lingkungan kita juga. Dari pengetahuan dan pengalaman kita bisa jadi lebih punya wawasan, semua itu adalah proses.

Masalah agama memang sulit. Setiap orang mempunyai pikiran dan pendapat yang berbeda. Banyak orang menikah beda agama, tapi saling menghargai masing-masing. Saya sendiri tidak menolak menghadiri undangan teman dalam rangka merayakan perayaan agama yang berbeda dengan saya. Prinsip saya adalah tidak saling mempengaruhi.

peace

Agama merupakan hubungan personal seseorang dengan Tuhan. Kita tak bisa memaksa orang lain untuk percaya sesuatu yang dia tidak percaya. Isi hati dan pikiran seseorang tidak bisa diatur oleh orang lain. Hanya ucapan dan tindakan yang bisa dipaksakan, tapi soal isi hati, tak seorangpun tau.

 

Peace….!

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.