Menilik Kerajinan Songket Sambas

Jemy Haryanto

 

Tidak mudah menghasilkan satu helai kain songket sepanjang dua meter. Diperlukan waktu kira-kira satu bulan, dikarenakan harus melewati beberapa proses. Selain itu ketelitian, keahlian juga kesabaran si penenun dikedepankan.

Setiap daerah di Indonesia tentu memiliki kerajinan khas, apakah itu lahir dari kreativitas personal, realisasi dari ide-ide cemerlang masa kini, atau sebagai peninggalan masa lampau generasi ke generasi. Yang jelas bagaimanapun proses pembentukan karya tersebut, tak dapat dipungkiri telah banyak membantu dalam memperkaya khasanah kreativitas anak negeri ini.

Sketsa tenun songket (1)

Salah satu tradisi nenek moyang yang dikemas dalam sebuah kreasi dan masih bertahan di era modern adalah kain Songket. Berbicara kain Songket, beberapa daerah memilikinya, seperti Palembang, Riau dan Minangkabau. Meski terdapat perbedaan, biasanya terletak pada jenis dan susunan motif, namun pada dasarnya Songket sendiri lahir dari tradisi Melayu.

4. foto jemy haryanto

Tak kalah dengan tiga daerah tersebut di atas, di Kalimantan Barat juga memiliki kain Songket yang dikenal sebagai kain Songket Sambas. Merupakan salah satu hasil kreativitas masyarakat di kabupaten Sambas. Suatu wujud akhir dari penuangan ide-ide yang dipahami dan dihayati kemudian diaplikasi dalam bentuk selembar kain.

Kerajinan kain Songket Sambas sendiri sudah berumur sangat tua. Konon telah ada sejak kesultanan Sambas dipimpin oleh Sultan Sulaiman mendirikan Kerajaan Sambas pada tahun 1675 M dan memerintah selama sepuluh tahun, yaitu sampai tahun 1685.

5. foto jemy haryanto

8. foto jemy haryanto

Namun jika dilihat dari motif-motif yang dominan adalah tumbuhan pada Songket Sambas, tenunan ini diprediksi sudah ada sebelum berdirinya Kesultanan Islam Sambas, yaitu ketika di Sambas masih berdiri kerajaan-kerajaan Hindu. Dengan demikian jika Songket Sambas telah ada pada masa Sultan Sulaiman memerintah atau bahkan sebelumnya, maka kerajinan ini sudah berumur lebih dari 300 tahun.

Salah satu ciri khas pada motif Songket Sambas secara umum adalah Pucuk Rebung atau masyarakat setempat menyebutnya ‘suji bilang’. Yaitu berbentuk segi tiga, memanjang dan lancip. Serupa dengan bentuk asli pada rebung yang merupakan stirilisasi dari tunas bambu muda. Penggunaan Pucuk Rebung sebagai motif Songket tentu juga bukanlah hal kebetulan belaka, melainkan mengandung makna luas dan dalam. Adalah sebagai pengingat agar orang-orang Sambas terus berupaya untuk maju. Pucuk rebung adalah bagian dari pohon bambu yang terus tumbuh dan tumbuh. Jadi semangat harus terus tumbuh inilah yang ingin disampaikan oleh motif ini.

11. foto jemy haryanto

Bu Atik. foto jemy haryanto

Rumah Penenunan.foto jemy haryanto

Selanjutnya adalah orang Sambas harus senantiasa berpikiran lurus, sebagaimana tumbuhnya pucuk rebung itu dalam realitanya. Pucuk rebung selalu tumbuh lurus hingga menjulang tinggi. Dan terakhir, jika mencapai puncak tertinggi, tidak boleh sombong dan arogan, sebagaimana pohon bambu yang selalu merunduk ketika telah tinggi.

Selain Pucuk Rebung sebagai motif khas Songket Sambas, ada juga motif lain yang diciptakan maupun yang coba dihidupkan kembali. Motif modern misalnya seperti : motif Tahi Lalat atau yang berbentuk titik, Bunga Telur Mata Ayam, Tujuh Tabur Bunga, Bunga Cangkring, Bunga Tanjung dan Bunga Malek. Sementara Motif langka selain Pucuk Rebung, diantaranya ; Tepuk Dada, Siku Keluang, Mata Punai, Bunga Pecah, Bunak Melur, Piji Periak, Angin Putar, Ragam Banji, Bunga Cengkeh dan Bunga Cempaka.

Kekhasan lain yang dapat ditemukan pada Songket Sambas adalah benang emas. Dalam pembuatan Songket Sambas, keberadaan benang emas sangat penting. Benang emas digunakan untuk membuat bentuk dan penanda motif pada tenunan. Begitu pentingnya keberadaan benang emas dalam membuat Songket Sambas, sehingga orang-orang Sambas menyebut tenun ini dengan nama kain benang emas atau disebut dalam bahasa setempat bannang ammas.

Seorang ibu sedang melakukan proses tenun. foto Jemy Haryanto

Tarawan. foto Jemy Haryanto

Disebutkan pada zaman dahulu, benang emas untuk membuat Songket Sambas terbuat dari benang emas colok. Ciri dari benang ini ringan dan tahan lama, serta warnanya tidak mudah pudar walaupun telah berusia ratusan tahun.

Dalam kehidupan sosial masyarakat, Songket ditempatkan pada kasta tertinggi jenis kain oleh masyarakat Melayu Sambas. Merupakan pakaian kebesaran. Kerap dipakai dalam majelis-majelis musyawarah juga menghadiri undangan para pembesar, seperti raja atau Sultan maupun para pemimpin daerah.

Selain itu kain tersebut kerap digunakan dalam acara adat masyarakat Melayu Sambas. Salah satunya adalah perkawinan. Dalam acara sakral itu kain Songket berfungsi sebagai bahan hantaran pihak mempelai laki-laki pada pihak mempelai wanita.

Namun semakin kesini, kain Songket sudah dapat ditemukan dalam ragam bentuk lain. Tidak saja berupa selembar kain, tapi juga yang lebih berkelas lagi seperti ; peci, syal, dasi, bahan baju dan celana, dan lain lain.

Berikut adalah proses pembuatan kain Songket Sambas yang ditunjukan oleh para ibu rumah tangga di kampung Nagor, desa Jogur, kecamatan Sambas yang merupakan satu-satunya sentra pengrajin kain Songket di kabupaten tersebut.

Namun perlu diketahui, untuk membuat Songket Sambas sangat sulit dan rumit. Menurut bu Atik, 48 tahun, seorang pengrajin yang mulai menenun semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar, mengatakan untuk bisa memiliki keahlian menenun, diperlukan waktu belajar minimal 1-2 tahun. Karena keahlian menjadi syarat mutlak bagus atau tidaknya tenun yang dihasilkan.

“Biasanya bertahap. Jika sudah bisa yang sederhana, dilanjutkan pada yang lebih sulit. Terutama dalam pembuatan motifnya. Namun untuk bisa menjadikan sehelai kain Songket berukuran 2 meter memerlukan waktu hampir satu bulan. Tapi tergantung lagi motif yang dipesan, semakain sulit semakin lama proses pengerjaan,” jelas Atik.

Tahap awal pembuatan kain Songket adalah pola dan motif tenunan. Kemudian mempersiapkan benang dan alat-alat yang diperlukan. Setelah semua keperluan tersebut siap, proses pembuatan Songket pun dimulai.

Tahap pertama adalah memintal benang atau narraw dengan alat pintal yang disebut Tarawan. Ada dua jenis Tarawan yang digunakan saat proses pemintalan, yaitu alat Taraw berukuran kecil dan besar. “Yang ukuran kecil untuk memintal benang emas, sementara ukuran besar untuk benang Pakan untuk ‘longsen’ atau dasar kain,” jelas Atik.

Setelah proses pemintalan selesai, dilanjutkan pada proses ‘nganek’. Yaitu menggabungkan benang pakan dengan benang lusin menggunakan gigi suri yang terbuat dari kulit pohon enau atau kulit batang bemban. “Biasanya 1-2 hari selesai,” ucap Atik.

Lalu masuk pada proses natar. Adalah proses menggulung benang dengan papan tandayan. Tahap ini memakan waktu 2-3 jam. Dilanjutkan menghubungkan benang dari tandayan ke suri atau dalam istilah lain merapatkan benang. Proses ini disebut ‘ngubung’. Setelah semua hal tersebut selesai lalu ‘dirantang’, membawa benang dan peralatan tersebut pada perumahan tenunan dan proses tenunpun dimulai.

“Untuk membuat kain tidak memerlukan waktu lama, jika sudah ahli kurang lebih 10 hari selesai,” jelas wanita bertubuh kecil itu.

Kemudian masuk pada tahap akhir dalam pembuatan kain tenun Sambas adalah nyongket. yaitu membuat bunga dan memasukan benang emas ke dalam motif tenunan. Juga untuk membuat ‘punce’ atau hati kain atau motif pada tengah kain. Biasanya disongket dengan jumlah sebanyak 28 motif bunga.

“Sebenarnya proses tersulit adalah ketika memberi kerap. Karena harus dihitung satu persatu. Kerap sendiri terbuat dari benang nilon,” ucap Atik.

Setelah itu kain Songket tersebut siap dipasarkan. Untuk kain Songket sendiri menurut Atik dibuat dalam tiga kelas yaitu bawah, menengah dan atas. “Motif yang sulit akan membuat tinggi harga kain Songket,” terang wanita pekerja itu..

Kain Songket kelas bawah mereka hargakan sekitar 500-700 ribu perhelai. Kelas menengah sekitar 1-2 juta. Sementara untuk kelas atas harganya bisa mencapai 3,5-4 juta rupiah.

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa Tenun Songket Sambas merupakan manifestasi suatu nilai adat yang tinggi yang juga mempunyai nilai ekonomis yang dapat dikembangkan untuk menopang kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu Atik dan para pengrajin berharap kerajinan tenun itu tidak mati dan tetap selalu turun untuk beregenerasi.

“Karena semakin kesini saya melihat, sudah jarang anak muda yang mau belajar membuat kain Songket. Padahal ini adalah identitas kami sebagai orang Melayu Sambas,” ucap dia pada akhir wawancara siang itu.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.