Surat Keempatbelas dari Desa

Angela Januarti Kwee

 

Dear. David,

Tidak terasa dua bulan berlalu dengan cepat. Aku rindu kembali bercerita padamu. Saat aku menulis surat ini, waktu masih menunjukkan pukul 20.01 Wib. Suasana di luar rumah masih cukup ramai. Aku masih bisa mendengar suara kendaraan roda dua berlalu lalang. Di dalam rumah, suasana mulai sepi. Semua penghuninya berada di kamar masing-masing. Aku sendiri menulis ditemani dengan bunyi musik yang mengalun dari MP3 player-ku.

Bagaimana kabarmu, David? Aku hampir lupa menanyakan kabarmu. Aku berharap kamu selalu dalam keadaan baik. Keadaanku saat ini sedang tidak stabil, baik kesehatan maupun pikiran. Beberapa minggu terakhir kejenuhan merenggut semangat di dalam diriku. Aku juga terserang flu, batuk, sakit kepala dan kelelahan. Saat ini pun, aku sedikit ‘memaksakan diri’ untuk menulis surat. Tapi, aku percaya bahwa bercerita banyak hal kepadamu bisa mengurangi kejenuhanku, karena aku bisa berbagi suka dukaku bersamamu.

Hmmm, aku rasa aku harus melupakan semua kejenuhan dan mulai menceritakan sesuatu yang lebih menarik untukmu. Aku jadi teringat kisah satu bulan yang lalu saat mengikuti camping rohani bersama teman-teman OMK Katedral Sintang. Aku menjadi salah satu volunteer dalam kegiatan tersebut. Selain dari Sintang, ada juga yang berasal dari Sanggau dan Melawi. Kegiatan ini diadakan selama empat hari di rumah panjang Bemban Pengersit. Para peserta yang hadir berasal dari OMK Regio Melawi. Lima tahun silam, aku sudah pernah berkunjung ke desa ini, David. Bisa dikatakan aku bernostalgia di sana.

surat-ke-14 (1)

Aku dan seorang teman berangkat pada sabtu siang. Kami memang tidak mengikuti acara secara penuh, mengingat kegiatan dilakukan pada hari kerja. Bila kita pergi menggunakan motor, jarak tempuh ke sana lebih kurang 2 jam perjalanan.

Saat kami tiba, para peserta sedang bersiap melakukan outbound secara berkelompok. Aku dan teman-teman panitia lainnya saling membantu untuk memastikan outbound ini berjalan lancar. Ada enam rintangan yang harus peserta lalui. Bila salah satu diantara peserta kelompok melakukan kesalahan, maka mereka harus mengulang kembali rintangan tersebut. Tampak wajah gembira baik panitia maupun peserta dalam outbound ini. David bisa melihatnya dari gambar-gambar yang kulampirkan. Mendapatkan gambar-gambar tersebut juga tidak mudah, aku sampai harus meminta tolong seorang teman. Kamera pocket-ku ternyata tidak mampu mengambil momen dengan gerak yang cepat. Untunglah seorang teman OMK bersedia melakukannya untukku. Aku bilang padanya, aku ingin mengirimkan gambar padamu.

surat-ke-14 (2)

Aku dan teman panitia mencoba salah satu permainan, lebih tepatnya satu rintangan yang harus dilalui peserta

 

(.)

Peserta berkumpul sebelum outbound dimulai. Mereka diberi instruksi oleh kakak panitia

Peserta berkumpul sebelum outbound dimulai. Mereka diberi instruksi oleh kakak panitia

 

Rintangan demi rintangan yang harus dilalui peserta dengan tetap menjaga kekompakan tim

Rintangan demi rintangan yang harus dilalui peserta dengan tetap menjaga kekompakan tim

Rintangan demi rintangan yang harus dilalui peserta dengan tetap menjaga kekompakan tim

Rintangan demi rintangan yang harus dilalui peserta dengan tetap menjaga kekompakan tim

Rintangan demi rintangan yang harus dilalui peserta dengan tetap menjaga kekompakan tim

Rintangan demi rintangan yang harus dilalui peserta dengan tetap menjaga kekompakan tim

Rintangan demi rintangan yang harus dilalui peserta dengan tetap menjaga kekompakan tim

Rintangan demi rintangan yang harus dilalui peserta dengan tetap menjaga kekompakan tim

Rintangan demi rintangan yang harus dilalui peserta dengan tetap menjaga kekompakan tim

Rintangan demi rintangan yang harus dilalui peserta dengan tetap menjaga kekompakan tim

Rintangan demi rintangan yang harus dilalui peserta dengan tetap menjaga kekompakan tim

Rintangan demi rintangan yang harus dilalui peserta dengan tetap menjaga kekompakan tim

Usai kegiatan outbound, aku dan teman-teman OMK Katedral Sintang pergi untuk berjalan-jalan sebentar. Dua orang teman mengatakan ada satu tempat bagus yang bisa kami kunjungi (mereka mendengarnya dari seorang penduduk). Pada saat tiba di lokasi yang dimaksud, kami saling tertawa satu dengan yang lain. Kami hanya mendapati hamparan tanah kosong dan sebuah kegiatan proyek. Awalnya, kami semua berpikir tempat ini adalah lokasi air terjun yang bagus. Tapi, apa mau dikata, kami memilih tetap mengambil gambar dengan background kegiatan proyek.

surat-ke-14 (10)

*

Keesokan harinya, kami semua mengikuti misa penutup. Dalam homili, aku terus mendengar pastor mengangkat tema tentang kerendahan hati. Aku mencatat kalimat-kalimat seperti:

“Doamu tidak berguna bila tidak ada kerendahan hati.”

“Hanya orang yang rendah hati mau mengikuti kata hatinya.”

“Dalam kerendahan hati itulah mereka menemukan kekuatan.”

Dalam perbincangan kami usai misa, pastor menjelaskan bahwa tema ini sengaja diangkat agar para kaum muda memiliki sikap rendah hati di dalam dirinya. Selain itu, aku mendapati hal menarik lainnya sebelum tiap kami pulang ke tempat masing-masing. Kami semua diminta mengucapkan janji OMK. Usai mengucapkan janji, kami diberkati (tepatnya diutus) dan dikalungi dengan kalung salib.

surat-ke-14 (11)

Para pastor juga memberikan pesan-pesan bermakna sebelum acara ditutup. Seorang pastor berkata “Apa yang diterima, apa yang didengar, apa yang baik yang didapatkan, jalankan. Kabarkan kemanapun, lewat apapun. Lewat perbincangan sehari-hari, lewat internet. Buatlah status-status yang indah.” Pastor yang lain berpesan “Anda bisa menjadi cermin untuk siapa saja. Anda bisa menjadi teladan, bisa menjadi contoh. Tetaplah menjadi saksi harapan bagi semua orang.”

Jujur saja, David. Aku merasa beruntung bisa mengikuti acara ini walau tidak penuh. Aku mendapatkan banyak pengalaman dan pesan indah yang bisa kubawa pulang sebagai bekalku di masa muda. Aku bisa berkenalan dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda. Dari mereka aku belajar bahwa sesibuk apapun, kita harus tetap membagi waktu untuk pelayanan bagi Tuhan dan sesama.

surat-ke-14 (12)

Semoga saja kamu menyukai kisah ini, David. Sampai jumpa ya. Aku rasa sudah saatnya aku beristirahat. Jaga dirimu. Tuhan memberkatimu sayang.

 

Salam rindu dan cintaku,

surat-ke-14 (13)

Mawar

 

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.