Diam

Anwari Doel Arnowo

 

Seorang penyair dan penulis bernama Clint Smith, menyebut: Kita telah banyak mendengarkan apa kata orang lain, tetapi kita tidak mendengar apa yang mereka TIDAK katakan. Mungkin para pembaca akan mengatakan dengan logika sendiri: Tentu saja kita tidak mendengar, karena tidak dikatakan. Maksudnya tidak bersuara, kan? Sekali-sekali mari kita siapkan diri kita untuk mau mendengarkan kesunyian. Kita bisa berlatih untuk itu dan saya sudah bisa, sejak cukup lama. Saya amat yakin semua orang bisa, tetapi ya itu tadi: kalau mau dan bersedia berlatih.

Semua orang pasti bisa mengerti ungkapan yang berbunyi: Read between the lines. Itu kan memahami yang tidak tertulis berupa deretan kata-kata, tetapi memahami makna yang ada di antara kalimat-kalimat tulisan. Orang-orang cerdik pandai sering bisa paham dan menangkap maksud sebuah tulisan tak tersirat yang merupakan hasil dari perenungan, setelah membaca deretan kalimat-kalimat dan mendengarkan pidato seseorang tokoh di dalam masyarakat tertentu. Di dalam kalangan dunia keagamaan dan kepercayaan, mungkin yang begini memang sukar dicerna oleh mereka yang awam, maka timbullah pembentukan ungkapan-ungkapan yang sering dikenal sebagai tafsir. Apakah semua tafsir bisa dikatakan selalu benar?

Wah itu hanya waktu saja yang di kemudian sekali bisa memberi gambaran, bila sudah menjadi sejarah nanti. Boeng Karno bilamana berpidato sering sekali dengan suara menggelegar, tetapi sering juga menyisipkan  kata-kata mutiara atau kalimat kutipan sebagai hasil bacaannya dari buku-buku terbitan yang sirkulasinya di dunia internasional.

Clint Smith sendiri di dalam program TED juga menyebutkan, saya kutip sebagai berikut: Dr. Martin Luther King Jr. In a 1968 speech where he reflects upon The Civil Rights Movement, states, “In the end we will remember not the words of our enemies but the silence of our friends.”  ( Pada akhirnya kita akan ingat bukan kata-kata para musuh kita tetapi diamnya kawan-kawan kita sendiri).

Saya sendiri pernah menyalahkan diri sendiri karena tidak berani bersuara ketika di banyak pemerintahan negara kita Indonesia sejak tahun 1967 sampai  yang telah terjadi saat ini, mengenai utang nasional kita yang telah mencapai 3000 plus triliun Rupiah. (BACA: http://baltyra.com/tag/anwari-doel-arnowo/). Adalah memang fakta bahwa utang yang menggunung itu tidak semuanya bermanfaat bagi negeri kita. Mari kita ingat-ingat sendiri apa saja belanja Negara kita yang kecil manfaatnya bagi rakyat. Korupsi itu seperti kebudayaan, sedih juga merasakan hal ini. Di kedutaan kita di mana saja mereka melakukannya.

Sudah ada ex Duta Besar (USA? baru-baru ini) yang dihukum karena ini. Tidak terkira jumlahnya ratusan orang yang Bupati dan Walikota, partai dan sebagainya bernasib sama.

Belanja senjata? Itu wah wah juga jumlahnya. Bukankah kita tidak/belum pernah berperang melawan Negara lain? Mungkin sekali kita ini menganut ajaran: Untuk menjaga perdamaian maka perlu melengkapi diri dengan senjata dengan canggih dan amat canggih. Dari mana biaya untuk itu, yang dibayar dengan uang hak rakyat, yang tidak bisa memilih yang lebih baik. Pokoknya damai, tidak perang, tidak berkelahi. Biaya? Urusan anak cucu sajalah!!

Khusus mengenai utang ini sudah pernah saya tuliskan  pada beberapa tahun yang lalu bahwa kita semua yang telah berumur melakukan yang sebagai berikut:

harus dengan tulus mau mengakui dan minta maaf karena terjadinya utang seperti itu, antara lain karena kita tidak pernah berani bersuara, termasuk diri saya sendiri. Lalu kepada siapa kita minta maaf? Ya jelas sekali kepada para generasi muda di bawah usia kita. Merekalah yang sudah pasti akan membayar pajak-pajak dan biaya-biaya lain yang akan  dipakai untuk melunasi utang-utang itu pada sekitar  pertengahan abad ini.Sesungguhnya kita ini salahnya bagaimana? Mestinya pada waktu utang belum menggunung, kita berani menyuarakan kritik terhadap utang-utang. Nyatanya kita tidak berani karena rezimnya otoriter.

Karena mungkin juga ikut menikmati uang komisi-komisi dan apapun  kemudahan sebagai akibat dari utang nasional ini. Apakah pendapat saya ini benar, ataukah salah?

diam

Apa jadinya ungkapan / peribahasa: Diam Itu Emas? Ada yang usul untuk menggantinya, sesuai dengan perubahan jaman selama ini? Demokrasi kan? Biar sedikit relax, berikut ini saya sisipkan sedikit humor:

Sang ayah amat keras menerapkan aturan di rumah antara lain dilarang berbicara waktu sedang makan. Seorang anak umur 10an tahun terlihat ingin berkata sesuatu, tetapi sang ayah yang matanya sudah membesar dan menaruh telunjuknya melintang bibir, sang anak pun terdiam seketika. Selesai makan sang ayah ingin mendengar apa yang ingin dikatakan oleh sang anak, dia tanya: “Apa yang tadi kamu ingin katakan, Nak?” Jawab sang anak dengan suara sedikit bergetar: “Adik tercebur ke dalam sumur !!” Silakan membayangkan apa yang terjadi selanjutnya.

 

Anwari Doel Arnowo  —  17 Agustus, 2014

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.