Agustusan Kang Asep

Leo Sastrawijaya

 

Lagu-lagu bernuansa perjuangan terdengar ingar bingar, rembulan tanggal tengahan nampak montok, ranum seperti perawan matang yang siap sunting, langit biru dan orang-orang se RW nampak datang dengan wajah ceria.

Malam ini, seperti tahun-tahun sebelumnya akan diadakan doa syukur dan renungan kemerdekaan oleh seluruh warga RW tempatnya tinggal. “Ritual” ini memang sudah menjadi tradisi di sini.

apakah sudah merdeka

Namun tidak seperti biasanya, Asep tidak sepenuhnya bisa menikmati keceriaan malam bening nan ingar bingar tersebut. Semua kegembiraan dan suka cita tersebut dirasa justru cukup menyayat hatinya, bagaimana tidak?

Peringatan hari kemerdekaan kali ini lebih terasa sebagai sebuah ironi bagi Kang Asep, tujuh belasan kali ini ia kehilangan Lilis, istri tercinta yang dia kenal pertama kali justru pada saat dahulu mereka berdua menjadi anggota Paskibra di kecamatan. Sudah hampir setahun Lilis terpaksa pergi meninggalkan Asep dan dua anaknya ke Timur Tengah menjadi TKW.

Sebagai suami tentu dia sangat khawatir, apalagi bila membaca berita-berita seram yang mengiringi perjalanan nasib para TKW di kawasan itu. Namun pada sisi lain, ia seperti tidak berdaya … sejak pabrik tempatnya bekerja bangkrut, Asep seperti layang-layang putus yang tak kunjung menemukan tambatan, sedang hidup harus terus berlanjut …

Malam ketika orang-orang berteriak “Merdeka!”, Asep justru tidak kuasa meneriakannya … Ia tahu Lilis, berikut ribuan perempuan lain sebangsanya terpaksa harus tercerabut dari kehidupan sewajarnya, hidup dalam bayang-bayang kekerasan di negeri asing sana, dan itu dilakukan karena ruang hidup yang wajar seperti mustahil di dapat oleh sebagian anak bangsa seperti keluarganya di negeri yang seharusnya menjadi rumah damainya…

Jika harus meneriakan kata “Merdeka”, sebenarnya untuk siapa kata itu diteriakan? Begitu kata hati Asep, sembari memandangi rembulan montok yang kini nampak merana di matanya …

Ada ribuan perempuan seperti Lilis di luar sana, sudah berpuluh tahun, sedang tangan-tangan negara tidak kunjung membopongnya kembali ke pangkuan pertiwi. Lalu buat apa upacara dengan kesan kedigdayaan palsu musti digelar penuh khidmat?

Apakah kita tidak lelah menipu diri?

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.